
...Happy reading 📖...
...****************...
"Aku juga pendendam, Demon, kau pikir aku akan kembali pada orang yang telah menyakitiku? Hahahaha, tidak akan! aku memang sering diam tapi bukan berarti aku menerima. Diamku membawa bencana, tingkahku penuh tipu daya," ucap Alina.
"Baiklah, jika kau kembali terjebak dalam cinta palsunya aku akan kembali tercipta dan aku akan menghancurkan dunia ini setelah menghancurkanmu!"
"Jika takdir, terima saja."
Demon Alina terlihat mengucapkan sebuah mantra, kemudian jiwanya yang masih menempati tubuh asli Alina terbang dan menyatu dengan tubuh kloningnya.
АААААККККККНННН
Teriak Alina kesakitan dan tak lama tubuhnya jatuh di atas tanah setelah kekuatan Demonnya benar-benar menyatu ke dalam jiwanya.
"Tunggu, biar aku yang mengangkat nya, dia nona baruku," ucap Dreko mendahului langkah Neo yang berjalan mendekati Alina.
"Tidak perlu, aku masih mampu mengangkat nona kecilku itu," ucap Neo langsung berteleportasi di dekat Alina dan menggendong Alina ala bridal style.
"Sudah ku bilang aku saja yang menggendong nya," ucap Dreko tak terima merebut Alina dari gendongan Neo.
"Kau pikir aku percaya dengan naga sepertimu,huh, tidak akan!"
__ADS_1
"Biarkan aku saja."
"Tidak, aku saja. "
"Dasar burung, jauhkan kutu-kutu busukmu itu dari nona ku."
"Kau yang jauhkan air liur menjijikkan mu itu dari nona ku."
Kedua hewan kontrak itu tidak ada yang mau mengalah dan terus berebut untuk menggendong Alina yang tengah pingsan karena kelelahan.
Karena keduanya yang sama-sama kurang siap merebut dan menahan tubuh mungil Alina, tubuh Alina terlepas dari tangan keduanya tapi sebelum menyentuh tanah Neo dan Dreko sama-sama membuat ranjang dari sulur dan daun tanaman.
"Untung saja tepat pada waktunya, jika tidak mati kita," ucap Neo menghela nafas lega.
"Dasar naga!!! Lihat saja, nona Alina akan lebih menyayangiku karena aku kakaknya," gerutu Neo ikut berteleportasi masuk ke ruang Tara.
"Bayi siapa itu?" gumam Neo menatap Willy yang tertidur lelap di atas ranjang Alina.
"Dia Willy, hewan kontrak nona Alina yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri," jawab Dreko sambil meletakkan tubuh Alina dengan hati-hati di samping Willy.
"Aku baru tau bahwa serigala putih masih ada, ku pikir bangsa mereka sudah punah."
"Willy adalah serigala putih terakhir."
__ADS_1
Oekk....Oekk... Oekk
Tangisan Willy yang sangat keras membuat Dreko dan Neo terkejut dan dengan segera keduanya berjalan ke sisi ranjang dimana Willy berada.
"Biar aku yang menggendongnya, kau tidak akan bisa." ucap Dreko angkuh.
Plakk
"Aku yang bisa menggendongnya kau tidak bisa," ucap Neo tak mau kalah setelah memukul tangan Dreko yang mau menyentuh Willy.
"Lihat, dia tidak mau diam di gendonganmu. Berikan padaku!" ucap Dreko langsung merebut Willy dari gendongan Neo.
"Aku baru menggendongnya, tentu saja dia masih menangis," ucap Neo menatap sinis Dreko.
"Lihat, kau pun sama, Willy tetap menangis jadi cepat berikan padaku," lanjut Neo dan langsung merebut Willy kembali.
"Aku belum lama menggendongnya, berikan Willy padaku cepat," ucap Dreko akan merebut Willy tapi lebih dulu Neo berteleportasi menjauhi dari Dreko.
"Tidak, kau itu mengerikan, Willy tidak akan mau kau gendong."
"Kau benar-benar, dasar burung aneh!" ucap Dreko geram dan langsung berlari mendekati Neo, sedangkan Neo langsung ikut berlari menjauhi Dreko.
Akhirnya terjadilah aksi kejar-kejaran yang mengabaikan Willy yang masih terus menangis dengan sangat keras.
__ADS_1