Keturunan Terpilih

Keturunan Terpilih
Bab 37


__ADS_3

...Happy reading 📖...


...****************...


Brukkk


Karena tak berkonsentrasi dalam berjalan Alina menabrak seorang pria,lebih tepatnya mereka berdua saling menabrak karena pria itu juga tak memperhatikan jalan depannya,ia terlalu sibuk melihat penjual-penjual yang menawarkan dagangannya.


Dengan segera Alina mundur dua langkah, tak ada adegan terjatuh atau berpelukan karena memang keduanya sama-sama berjalan dengan pelan bukan berlari.


"Beraninya gadis itu menabrak pangeran kedua."


"Kalau pangeran kedua marah, dalam sekali tatap gadis itu bisa hancur."


" Kau benar, pangeran kedua sangat kuat dan hebat."


"Bahkan tingkatan ilmu bela diri pangeran kedua lebih tinggi dari putra mahkota."


Bisik-bisik orang yang menyaksikan kejadian itu menatap Alina dengan tatapan yang berbeda-beda tapi lebih banyak adalah tatapan takut serta prihatin.


"Menunduklah nona, mohon ampun pada pangeran kedua," tegur prajurit yang berada di belakang pria tadi.

__ADS_1


"Maaf," ucap Alina tanpa menunduk apalagi membungkuk.


"Kau sangat tidak sopan nona! Dimana matamu itu hingga kau beraninya menabrak pangeran kedua dan sekarang kau bahkan tidak bersujud di kaki pangeran kedua," sahut prajurit yang berada disisi kanan pangeran kedua itu.


"Kau harus dihukum cambuk!" sahut prajurit yang berada di samping kiri pangeran kedua berjalan ke arah Alina sambil mengeluarkan cambuknya.


Alina memegang dan menahan cambuk prajurit itu yang akan mengenai tubuhnya.


"Dimana letak ketidak sopanan ku? Bukanya aku sudah minta maaf, seharusnya dia juga meminta maaf karena bukan aku yang menabraknya tapi kami saling menabrak," ucap Alina menarik cambuk yang dipegangnya itu dengan kuat.


Hingga membuat prajurit yang juga memegang ujung cambuk itu jatuh tengkurap di depan kaki pangeran kedua.


Alina berhenti saat sebuah dinding elemen tanah muncul dengan tiba-tiba di depannya.


"Jangan halangi jalanku," ucap Alina dingin.


"Mungkin nona salah mengartikan sujud yang dilakukan di depan kaisar dan keluarganya. Sujud itu bukan dalam artian menyembah kaisar melainkan sebagai perwujudan rasa hormat pada kaisar orang yang paling berpengaruh besar dalam mensejahterakan rakyat," ucap pangeran kedua berbalik dan menatap punggung Alina.


Pangeran kedua lah yang telah membuat dinding elemen tanah itu hanya dengan menggerakkan satu jari telunjuknya saja


"Itu menurutmu, beda halnya jika menurut ku, karena bagiku sujud hanyalah pantas kepada tuhan bukan kepada manusia biasa seperti kalian, "ucap Alina melambaikan tangan kanannya membuat dinding elemen tanah yang menghalangi jalannya hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Dengan langkah pelan dan santainya Alina berjalan meninggalkan pangeran kedua yang terus menatapnya dengan seulas senyum yang menghiasi bibirnya.


"Biarkan,"ucap pangeran kedua saat prajurit akan mengejar Alina.


Semua yang mendengar ucapan pangeran kedua sangat terkejut karena pangeran kedua adalah tipikal orang yang pemarah dan kejam pada orang yang berani mencari masalah dengannya apalagi dengan orang yang tidak menghormatinya dan menghormati keluarganya tapi ......


Mengapa pangeran kedua membiarkan gadis itu pergi begitu saja? Itulah yang dipikirkan semua orang yang melihat kejadian langka tadi.


"Tidak sulit menemukanmu sang terpilih, " gumam pangeran kedua yang hanya bisa didengar olehnya.


"Huh,tidak kakaknya tidak adiknya sama-sama menyebalkan sok tau, sok kenal sok akrab sok pintar sok-sok semuanya lah, " gerutu Alina kesal.


Kaki Alina melangkah memasuki sebuah rumah makan yang sangat ramai dibandingkan dengan rumah makan lainnya.


"Anda ingin memesan apa nona?" tanya seorang pelayan menghampiri Alina yang sudah duduk manis di salah satu meja.


"Tiga jenis makanan yang paling enak, "jawab Alina.


"Mohon ditunggu sebentar nona,"ucap pelayan itu membungkuk hormat dan berjalan meninggalkan Alina.


"Aku dengar rumah makan ini milik nyonya Desina apakah itu benar?" ucap seorang wanita yang duduk di meja yang tak jauh dari Alina.

__ADS_1


__ADS_2