Keturunan Terpilih

Keturunan Terpilih
Bab 32


__ADS_3

...Happy reading 📖...


...****************...


Tak apa meski pemberontakan dikediaman perdana menteri sedikit mereda karena tak lama lagi kaisar dan para pejabat lah yang akan mencopot gelar perdana menteri darinya dengan paksa.


Perjalanan kami menuju kediaman perdana menteri berjalan lancar bahkan jauh lebih cepat dari perjalanan ku sebelumnya saat menuju kediaman menteri kehakiman, karena kak Varo dan Kak Vano mengetahui jalan tikus yang cukup aman dari para perampok dan orang-orang jahat yang kurang pekerjaan, akhirnya perjalanan yang kami tempuh hanya sekitar 6 jam-an.


"Mari,Adik," ucap kak Vano mengulurkan tangannya untuk membantuku turun dari kereta kuda.


"Terimakasih kak," jawabku menyambut uluran tangan kak Vano dengan tangan kiriku.


"Ingat,Adik,jangan jauh-jauh dari kami berdua," ucap kak Varo langsung meraih tangan kananku yang bebas.


"Jika seperti ini bagaimana aku bisa menjauh," gerutuku kesal.


Bagaimana tidak? Aku seperti anak kecil yang berdiri di tengah-tengah tiang listrik karena tinggiku hanya sebatas bahu kedua kakak sepupuku itu.Ya... betapa pendeknya tubuh yang ku tempati ini.


"Bukannya itu nona Alina?"

__ADS_1


"Apa rumor kecantikannya itu tidak benar? Kenapa dia masih menggunakan cadar?"


"Benar seharusnya dia dengan bangga menunjukkan wajah cantiknya itu, bukan menutupinya dibalik cadar."


"Percuma kalau cantik tapi tak memiliki tenaga dalam."


"Hahahaha,kau benar, kurasa pelayan rendahan lebih hebat darinya."


"Kecantikannya itu hanya berguna diatas r4njang pria,hahahaha."


"Tak apa kak, tak ada gunanya kakak meladeni 🐶 yang tengah menggonggong," ucapku menggenggam erat tangan kak Vano dan kak Varo yang tengah menahan amarahnya.


Oh ayolah siapa yang tidak akan geram apalagi marah saat mendengar ada yang menghinamu secara terang-terangan, tapi tak ada gunanya juga meladeni mulut-mulut 🐶 seperti mereka saat yang satu menggonggong yang lain juga akan ikut menggonggong.


"Jangan dengarkan mereka,Dik,kakakmu ini akan terus berada di samping mu untuk mendukung mu dalam setiap langkah mu, " ucap kak Varo menatapku sambil tersenyum manis.


"Kakak juga akan terus bersama mu,Dik," sahut kak Vano.


Aku hanya tersenyum saja karena jujur aku juga tidak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


"Kak, aku meninggalkan hadiah untuk adik terakhir di kereta...aku akan mengambilnya sebentar,kakak lanjut saja," ucapku saat teringat kotak hadiah istimewa untuk adik rubahku tertinggal di kereta.


"Kami akan menemanimu," ucap kak Vano dan kak Varo kompak.


"Tidak usah,Kak, Alina bisa sendiri,lagian jarak tempat parkir kereta kuda juga tidak jauh," ucap Alina.


Sebelum kedua kakakku itu menjawab, aku sudah lebih dulu melepaskan genggaman kedua tangan mereka dan berlari keluar aula menuju tempat dimana kereta kuda milik tamu diparkirkan.


"Mengapa semua yang istimewa itu menyusahkan, seperti hadiah istimewa ini, bagaimana aku bisa melupakan hal yang se-istimewa ini," ucap Alina menatap kotak kado bewarna biru yang berada di tangannya.


"Seperti dirimu, memilikimu yang istimewa itu sangat sulit," ucap seseorang yang tiba-tiba membuat Alina terkejut bahkan nyaris melempar kotak kado yang dipegangnya.


"Ah putra mahkota,anda seperti hantu yang tiba-tiba muncul," ucap Alina tersenyum manis di balik cadarnya.


Bukanya marah mendengar kata-kata sindiran Alina, justru putra mahkota malah tertawa.


"Bukannya jodoh seperti ini.... selalu datang tiba-tiba," ucap putra mahkota.


"Anda terlalu percaya diri kalau saya akan menjadi jodoh anda, sebaiknya putra mahkota mengaca karena jodoh adalah cerminan diri," ucap Alina menatap datar putra mahkota dan segera berlalu pergi meninggalkan putra mahkota yang masih saja tertawa.

__ADS_1


"Kau sangat lucu sayangku," gumam putra mahkota menatap punggung Alina yang menjauh.


__ADS_2