Keturunan Terpilih

Keturunan Terpilih
Bab 75


__ADS_3

...Happy reading 📖...


...****************...


Dengan bibir cemberut dan wajah kesalnya Alina terus berjalan tak tentu arah diikuti Zero yang berjalan tepat di belakang Alina dengan wajah datarnya, sesekali tersenyum tipis saat melihat wajah kesal Alina yang terlihat sangat menggemaskan di matanya.


"Sungai," ucap Alina tiba-tiba berhenti dan berbalik menatap Zero.


"100 meter arah barat."


Mata Alina membulat terkejut dengan jawaban Zero. Bagaimana Zero bisa tau maksud dari satu kata yang diucapkannya?


Alina saja perlu waktu lama untuk bisa memahami ucapan Zero yang terlalu singkat, padat, dan tidak jelas.


"Ehem, kau jangan ikuti aku apalagi mengintip ku, aku ingin mandi ," ucap Alina penuh peringatan kemudian berlalu begitu saja tanpa menunggu balasan Zero.


Alina berjalan ke arah barat dengan mulut yang tidak berhenti mengumpati Zero. Sampainya di sungai Alina langsung membasuh wajahnya.

__ADS_1


"Ah segarnya, sepertinya pria gil4 itu benar-benar tidak mengikutiku. Baiklah selanjutnya rencana ke dua, kabur sebelum ketahuan," ucap Alina memperhatikan sekelilingnya dengan saksama.


Yakin benar-benar tidak ada yang mengawasinya. Alina langsung melompat dari batu satu ke batu yang lain untuk menyebrangi sungai dangkal dan cukup luas di depannya.


Gerakan Alina sangat lihai walau tanpa mengeluarkan sedikit pun tenaga dalamnya, tapi nasib baik sepertinya tidak berpihak pada Alina karena tepat saat menginjak batu terakhir untuk bisa sampai di tepi sungai, kaki Alina terpeleset dan nyaris saja jatuh jika dua pasang tangan tidak menahan punggungnya.


Alina perlahan membuka kedua matanya saat tidak merasakan rasa sakit dan yang pertama kali dilihatnya adalah dua orang pria yang saling melempar tatapan tajam penuh permusuhan, pria pertama tak lain adalah Zero dan pria kedua adalah Aldirk yang masih mengenakan topeng perak untuk menutupi separuh wajahnya.


"Kau baik-baik saja?" ucap Zero dan Aldirk kompak menatap lembut Alina.


"Ehem, ya aku baik, dan terimakasih."


Alina hafal suara dingin, singkat, dan datar ini, tentu saja berasal dari iblis kejam yang harusnya ia hindari.


"Ti-tidak," cicit Alina bersembunyi di balik punggung tegap milik Aldirk dengan wajah ketakutan yang terlihat jelas.


"Apa dia melukaimu sayang? Sebaiknya kau ada di istana ku saja sayang, tidak usah kabur agar kau tidak bertemu dengan iblis sepertinya,"ucap Aldirk dengan suara lembutnya diakhiri dengan seringaiannya menatap Zero remeh.

__ADS_1


"Ak-aku......"


"Dia milikku, jangan menyentuhnya!" ucap Zero dengan nada datarnya sambil mendorong tubuh Aldirk dan menarik cepat tangan Alina agar mendekat ke arahnya.


"Dia milikku dan dia permaisuri ku!"ucap Aldirk menatap tajam Zero.


"Dia ratuku!"


"Dia istriku!"


Tak dapat mengendalikan emosinya, Zero dan Aldirk mengeluarkan kekuatannya masing-masing dan langsung saja beradu kekuatan, tanpa menyadari Alina tengah tersenyum licik melihat pertarungan mereka.


"Bukan gayaku jika tidak bisa lepas dari para predator,"gumam Alina sebelum berbalik dan menjauhi tempat itu sebelum disadari salah satu atau bahkan kedua pria yang seharusnya tidak di temuinya itu.


Jika Alina sudah menjauh dari tempat itu, lain halnya dengan Aldirk dan Zero yang masih sibuk menyerang dan menjatuhkan lawan dengan mata berkobar api permusuhan.


"Hahh-hahh-hahh, baru beberapa meter berlari tapi rasanya sudah berkilo-kilo meter. Kakek benar, apapun keahlian kita namun saat kita lama tidak menggunakannya keahlian itu perlahan akan berkurang bahkan menghilang, " gumam Alina dengan nafas yang tidak beraturan.

__ADS_1


Ya mau tidak mau Alina harus kabur secara manual tanpa menggunakan kekuatannya, karena jika Alina menggunakan kekuatannya otomatis auranya akan meningkat dan akan mudah terdeteksi Aldirk juga Zero.


__ADS_2