
Setelah Wisnu selesai sholat magrib gantian Haifa yang sholat magrib. Setelah selesai sholat magrib Wisnu mengajak Haifa ke sebuah restaurant jepang yang cukup terkenal di mall itu.
“Kamu pernah makan makanan Jepang?” tanya Wisnu ketika di depan restaurant jepang itu.
Haifa menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu hari ini kamu mencoba makanan Jepang.”
Wisnu menuntun Haifa masuk ke dalam restaurant Jepang. Restaurant itu kelihatan cukup ramai oleh pengunjung yang baru pulang kantor. Mereka sedang makan-makan bersama dengan rekan-rekannya.
Wisnu memilih tempat yang agak pojok ruangan.
“Di sini makananya all you can eat and self service,” kata Wisnu setelah mereka duduk.
“Saya ambilkan makanannya. Nanti kalau kita ke sini lagi kamu belajar ambil sendiri.”
Wisnu bangun dari tempat duduk untuk mengambil makanan. Haifa menunggu di meja. Tak lama kemudian Wisnu membawa bahan makanan mentah. Setelah Wisnu bulak-balik beberapa kali akhirnya mereka bisa memulai memasak. Haifa mengikuti arahan Wisnu, sampai ada yang sudah matang.
“Nih, kamu cobain.” Wisnu menaruh sepotong daging di atas nasi milik Haifa.
Haifa mencoba daging yang berada di atas nasi.
“Bagaimana rasanya?” tanya Wisnu
Haifa mengunyah daging sambil mengacungkan jempolnya. Wisnu tersenyum melihatnya. Haifa mencoba satu persatu yang berada di atas meja. Sampai nasinya hanya dimakan sedikit karena Haifa takut kekenyangan jika dimakan dengan nasi sehingga ia tidak bisa mencicipi makanan dengan puas.
Wisnu memakan makanannya sambil memperhatikan Haifa sedang asyik mencicipi makanan satu persatu.
“Mas, apa mereka tidak akan rugi jika kita memakan sebanyak ini ?” tanya Haifa sambil mengunyah makanannya.
“Tidaklah. Mereka sudah memperhitungkan semuanya,” jawab Wisnu.
“Habiskan makanannya!” kata Wisnu.
“Iya, Mas.”
“Nasinya tidak dimakan?” Wisnu melihat nasi Haifa masi ada setengah mangkok.
“Nggak ah, nanti kekenyangan kalau dihabiskan nasinya,” jawab Haifa.
Wisnu tidak melanjutkan makannya. Ia sudah merasa kenyang dengan melihat Haifa makan. Lagipula Wisnu tidak boleh terlalu banyak makan daging merah.
“Mas kenapa berhenti makannya? Makanannya masih banyak loh, Mas,” kata Haifa.
“Nggak ah. Mas sudah kenyang, kamu habiskan saja,” jawab Wisnu.
“Saya mana sanggup menghabiskan makanan sebanyak ini,” kata Haifa.
__ADS_1
“Kamu pasti bisa habiskan. Tanggung sedikit lagi,” ujar Wisnu.
Akhirnya Haifa bisa menghabiskan semua makanan yang berada di atas meja, kecuali nasi.
“Alhamdullilah hirobbil alamin,” ucap Haifa setelah selesai makan.
“Udah kenyangkan?” tanya Wisnu sambil tersenyum melihat Haifa yang kekenyangan.
“Bukan kenyang lagi tapi kemerkaan,” jawab Haifa.
Wisnu mengerut keningnya mendengar kata kemerkaan.
“Apa itu kemerkaan?” tanya Wisnu.
“Kenyang yang berlebihan,” jawab Haifa.
“Ayo Mas, kita pulang. Ini sudah kemalaman,” kata Haifa.
Tadi Haifa sempat melihat jam di ponselnya ternyata sudah jam delapan malam. Ia merasa tidak enak pada Ibu Deswita kalau pergi terlalu lama.
“Tidak usah terburu-buru, kita sudah dekat dengan rumah. Lima menit juga sampai,” ujar Wisnu.
“Tetap saja Haifa merasa tidak enak pada Ibu Deswita. Gara-gara mengajak Haifa belanja dan makan di restaurant Mas Wisnu jadi telat pulangnya,” kata Haifa.
“Tenang saja, Mamah tidak akan marah,” kata Wisnu lalu bangkit dari tempat duduknya.
“Ayo, kita pulang.” Wisnu membawakan semua barang belanjaan lalu berjalan menuju kasir untuk membayar makanan.
.
.
Malam sabtu langit tampak cerah, jalanan masih ramai dengan mobil yang masih berlalu lalang. Wisnu mengendarai mobilnya dengan tenang ditemani oleh suara musik yang terdengar dari radio FM. Haifa asyik memandangi suasana Jakarta di malam hari.
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel milik Haifa. Haifa mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Dilayar ponselnya tertulis nama Aa Syaiful. Haifa mengambaikan panggilan dari Syaiful, Ia mengecilkan suara dering
ponselnya kemudian dimasukkkan kembali ponselnya ke dalam tas. Suara deringpun berakhir.
Tak lama kemudian terdengar lagi suara ponsel yang bergetar dari tas Haifa. Nguk…nguk…nguk….Namun Haifa mengabaikannya.
“Kenapa tidak diangkat? Siapa tau ada hal yang penting,” kata Wisnu melihat Haifa yang tidak mau menjawab panggilan di ponselnya.
“Bukan hal penting, Mas. Itu cuma teman yang iseng menelepon,” jawab Haifa.
“Angkat aja, siapa tau dia mau mengabarkan sesuatu yang penting,” kata Wisnu.
Haifa menghela nafas panjang kemudian mengambil ponselnya dari dalam tasnya.
__ADS_1
“Assalamualaikum,” ucap Haifa.
“Waalaikumsalam, Haifa. Lagi apa?” tanya Syaiful.
Wisnu mematikan radio, agar Haifa bisa menjawab telepon tanpa terganggu.
“Sedang di jalan mau pulang ke rumah,” jawab Haifa.
“Darimana malam-malam begini?” tanya Syaiful.
“Nganterin Mas Wisnu belanja,” jawaban Haifa.
Wisnu terlihat tenang menyetir mobilnya, namun telinganya mendengarkan percakapan Haifa dengan Syaiful.
“Mas Wisnu itu siapa?” tanya Syaiful dengan penuh rasa ingin tahu.
“Dia majikannya Bi Nani,” jawab Haifa singkat.
“Kalian pergi hanya berdua saja?” tanya Syaiful.
“Iya,” jawab Haifa.
Wisnu membelokkan mobil ke jalan menuju rumahnya.
“A udah dulu ya, ini sudah mau sampai ke rumah. Assalamualaikum.”
Haifa langsung mengakhiri panggilannya.
Wisnu menoleh ke samping.
“Sudah selesai neleponnya?” tanya Wisnu .
“Sudah,” jawab Haifa.
Wisnu menghentikan mobilnya di depan rumahnya dan menunggu penjaga rumahnya membukakan pintu. Setelah pintu pagar dibuka Wisnu memasukkan mobilnya.Wisnu memasukkan mobilnya sampai ke dalam garasi. Setelah mobil berhenti Haifa bersiap-siap turun dari mobil.
“Terima kasih atas semua pemberian dan makan malamnya, Mas. Semoga Allah membalas semua kebaikan Mas Wisnu,” ucap Haifa.
“Aamiin. Sama-sama, Haifa,” balas Wisnu.
Haifa turun dari mobil sambil membawa semua belanjaan yang dibelikan oleh Wisnu. Wisnu memperhatikan Haifa dari dalam mobilnya.
Siapa laki-laki yang meneloponya barusan? Apakah ia kekasih Haifa? tanya Wisnu di dalam hati.
Wisnu mengusap wajahnya dengan kasar.
“Astagfirullahaladzim,” ucap Wisnu.
__ADS_1
“Sadar Wisnu, dia masih kecil. Dia lebih pantas menjadi anakmu,” kata Wisnu kepada dirinya sendiri.
Wisnu pun keluar dari mobilnya sambil membawa kado untuk anaknya Rina dan Reza. Wisnu melangkah dengan gontai menuju kamarnya.