
Haifa tetap saja diam dia tidak mau memilih tas sesuai dengan perintah Wisnu.
“Mas pulang, yuk! Besokkan Mas harus kerja nanti Mas kecapean kalau berlama-lama di sini,” kata Haifa.
Wisnu menghela nafas.
“Mengapa kamu menolak untuk dibelikan tas?” tanya Wisnu.
“Haifa tidak butuh tas, Mas. Haifa masih punya tas yang bisa Haifa pakai,” jawab Haifa.
“Tapi itu tas pemberian orang tuamu. Mas juga ingin membelikan kamu tas,” kata Wisnu.
“Mas jangan menghambur-hamburkan uang hanya untuk Haifa! Lebih baik Mas simpan untuk masa depan Mas. Untuk anak dan istri Mas Wisnu,” seru Haifa.
Wisnu tersenyum ia mengerti dengan maksud Haifa.
“Tenang saja, untuk mereka sudah Mas siapkan. Kalau untuk membeli tas memang sudah menjadi jatah untuk kamu. Adik Mas yang cantik.” Wisnu memencet hidung Haifa.
Haifa langsung cemberut ketika Wisnu memencet hidungnya.
“Sakit, Mas,” kata Haifa memegang hidungnya yang memerah karena dipencet oleh Wisnu.
“Kamunya nggak nurut," kata Wisnu.
“Ya sudah, Haifa pilih tasnya. Tapi yang murah aja, ya," kata Haifa.
Wisnu tersenyum, biar diubeg-ubeg di tempat ini tidak akan ada tas yang murah. Kecuali ada cacatnya.
“Mbak ada tas yang discount tujuh puluh lima persen, nggak?” tanya Haifa kepada pegawai dept store.
“Kalau yang discount tujuh puluh lima persen nggak ada, Mbak,” jawab Pegawai itu.
Haifa diam mendengar jawaban Pegawai itu.
“Mas nggak ada tas yang murah. Kita cari ke tempat lain aja, yuk!” kata Haifa.
“Di tempat lain tasnya lebih mahal lagi. Harganya bisa di atas sepuluh juta,” jawab Wisnu.
“Mahal amat, sih harganya? Memangnya terbuat dari bahan apa?” gerutu Haifa.
Mau tidak mau Haifa memilih tas di tempat itu. Setelah muter-muter akhirnya Haifa mendapatkan juga tas yang cocok untuknya. Namun ketika dilihat harganya Haifa langsung shock karena kaget melihat harga tasnya. Wisnu menghampiri Haifa.
“Kenapa?” tanya Wisnu.
“Harganya mahal, Mas,” jawab Haifa sambil menunjukkan harga yang menempel pada label tas.
“Nggak apa-apa. Ambil saja kalau kamu suka. Ambil lagi satu tas untuk pesta,” kata Wisnu.
“Untuk apa tas pesta? Haifa tidak pernah pergi ke pesta,” kata Haifa.
“Kamu akan sering menemani Mas pergi ke pesta. Cari tas pesta yang sesuai dengan selera kamu, jangan tas pesta seperti ibu-ibu,” kata Wisnu.
“Iya.” Haifa kembali mencari tas yang di suruh oleh Wisnu.
Akhirnya Haifa mendapatkan tas yang sesuai dengan keinginannya. Haifa memberikan kedua tas tersebut kepada Pegawai toko.
Setelah Wisnu membayar belanjaan Haifa, merekapun pulang ke rumah.
.
.
Wisnu mengendarai mobilnya dengan tenang. Langit sudah mulai gelap karena mulai pergantian waktu dari siang ke malam. Sedangkan Haifa asyik menikmati suasana Jakarta di sore hari.
“Haifa,” panggil Wisnu.
__ADS_1
Haifa menoleh ke arah Wisnu.
“Ya, Mas,” jawab Haifa.
“Mas perhatikan tadi sewaktu nonton film kenapa sedikit- sedikit kamu memejamkan mata dan menutupi matamu?” tanya Wisnu sambil menoleh sebentar ke arah Haifa.
“Oh..itu, karena ada adegan dewasanya. Haifa dan Dodi dilarang menonton film yang ada adegan dewasanyanya. Setiap ada adegan dewasa selalu di suruh tutup mata,” jawab Haifa.
Mendengar perkataan Haifa, Wisnu langsung menoleh ke Haifa.
“Serius? Tidak boleh sama sekali?” tanya Wisnu.
“He em,” jawab Haifa sambil mengangguk.
“Waw…kalau Dodi dilarang Mas masih bisa mengerti karena Dodi masih remaja. Tapi kamu kan sudah memasuki usia dewasa,” kata Wisnu.
“Kata Mamah dan Bapak adegan seperti itu hanya boleh dilakukan oleh suami istri. Tidak boleh dilakukan dengan yang bukan mahramnya,” jawab Haifa.
“Bagus juga cara orang tuamu mendidik anak. Jarang loh di jaman seperti sekarang ini ada orng tua yang masih begitu perhatiannya kepada anaknya,” kata Wisnu.
Wisnu jadi teringat pada Wira adiknya. Wira sudah tinggal lama di luar negeri, tamat SMA Wira langsung kuliah di Amerika. Selama kuliah di luar negeri kehidupan Wira sangat bebas namun masih bisa dikontrol. Ya, hanya sekedar gonta- ganti pacar tidak lebih dari itu. Namun setelah lulus S2 dan mulai bekerja kehidupan bebasnya sedikit demi sedikit mulai bertambah bagaikan seorang Don Juan. Sehingga membuat kedua orang tuanya mengurut dada dengan kelakuan Wira.
“Astagfirullahaladzim,” ucap Wisnu sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Haifa menoleh ke Wisnu.
“Kenapa Mas?” tanya Haifa.
“Tidak apa-apa,” jawab Wisnu.
Wisnu enggan menceritakannya kepada Haifa karena bagaimanapun juga Wisnu tidak akan membuka aib saudaranya sendiri di depan Haifa. Biarlah itu menjadi rahasia keluarga Wisnu.
****
Haifa sedang membantu Bi Nani memasak di dapur, namun tiba-tiba Ibu Deswita memanggilnya.
Haifa menoleh kepada Bi Nani.
“Sana ikuti saja. Tidak usah takut,” kata Bi Nani.
Haifa pun pergi meninggalkan dapur dan menghampiri Ibu Deswita yang berada di dalam ruang kerja Pak Broto. Ibu Deswita sedang duduk di sofa yang berada di ruang kerja tersebut.
“Tutup pintunya! Saya tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan kita,” kata Ibu Deswita.
Haifa pun menutup pintu
“Duduk!” kata Ibu Deswita.
Haifa pun duduk di ujung sofa sambil menunduk seolah-olah akan diintrogasi oleh Ibu Deswita.
“Apa pendapat kamu tentang Wisnu anak saya?” tanya Ibu Deswita.
Haifa mengangkat kepalanya dan menatap Ibu Deswita.
“Maksud ibu?” tanya Haifa.
“Maksud saya pandangan kamu terhadap anak saya,” jawab Ibu Deswita.
“Mas Wisnu baik dan ramah,” jawab Haifa.
“Tentu saja dia baik dan ramah. Saya mendidiknya dengan baik,” kata Ibu Deswita.
“Tapi bukan itu jawab yang saya inginkan. Tapi pandangan kamu sebagai perempuan terhadap anak saya seorang laki-laki,” kata Ibu Deswita dengan gemas.
Haifa tidak menjawab pertanyaan Ibu Deswita, ia hanya diam sambil menunduk.
__ADS_1
“Ayo jawab! Kenapa diam saja?" seru Ibu Deswita.
“Saya tidak tahu harus jawab apa,” cicit Haifa.
“Kamu kan tau tujuan Bi Nani membawa kamu ke sini,” kata Ibu Deswita.
Haifa mengangguk.
“Kalau tahu, apa tujuannya Bi Nani membawamu ke Jakarta?” tanya Ibu Deswita.
“Untuk dikenalkan kepada Mas Wisnu,” jawab Haifa dengan suara pelan.
“Untuk apa kamu dikenalkan ke Wisnu?” tanya Ibu Deswita.
“Untuk menjadi calon istrinya,” jawab Haifa.
“Nah! Sekarang saya tanya setelah berkenalan dan kalian sering bersama, kamu menganggap Wisnu sebagai apa?” tanya Ibu Deswita.
“Sebagai kakak,” jawab Haifa.
“Hanya sebagai kakak? Tidak lebih?” tanya Ibu Deswita.
Haifa diam tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
“Ini arti diam kamu karena kamu menyukai anak saya atau kamu tidak menyukai anak saya?” tanya Ibu Deswita.
Haifa diam saja. Air matanya mulai menetes.
“Kenapa kamu malah menangis?” tanya Ibu Deswita dengan gemas.
Ia agak kesulitan untuk mengetahui isi hati Haifa.
“Maafkan saya, Bu. Saya ini hanyalah orang desa pendidikan saya hanya tamatan SMA. Tidak sepantasnya saya menaruh hati pada Mas Wisnu,” jawab Haifa sambil menangis.
“Haifa, saya itu mencari menantu untuk anak saya Wisnu. Bukan cari patner bisnis untuk Wisnu,” kata Ibu Deswita.
“Yang sekarang ini dibutuhkan oleh Wisnu adalah wanita sholeha yang mau mendampinginya dengan setia dan mengurusnya dengan baik,” kata Ibu Deswita lagi.
“Kalau soal pendidikan itu nomor kesekian. Lagi pula pendidikan masih bisa dikejar jika kalian sudah menikah nanti,” kata Ibu Deswita.
Haifa menatap Ibu Deswita dengan berbinar sambil mengusap air matanya dengan punggung telapak tangannya.
“Saya boleh kuliah, Bu?” tanya Haifa.
“Tentu saja boleh. Tapi dengan seijin Wisnu. Boleh tidaknya kamu kuliah hanya Wisnu yang berhak menentukan,” jawab Ibu Deswita.
“Jadi kamu ada hati dengan anak saya?” tanya Ibu Deswita.
Haifa menjawab dengan menganggukan kepala.
“Kalau Wisnu tidak usah ditanya perasaan dia ke kamu. Kelihatan kok dari barang-barang yang ia belikan untukmu,” kata Ibu Deswita.
Haifa langsung kaget mendengar perkataan Ibu Deswita.
“Ibu tahu?” tanya Haifa.
“Tentu saja saya tahu. Saya bisa membedakan mana barang baru dipakai dan mana barang yang sudah sering dipakai,” jawab Ibu Deswita.
“Mas Wisnu memaksa saya, Bu,” kata Haifa.
“Tidak apa-apa. Itu udah rejeki kamu karena menjadi orang yang special di hatinya,” kata Ibu Deswita.
Sekarang Ibu Deswita bisa bernafas lega, akhirnya ia bisa menemukan calon istri yang pantas untuk Wisnu.
“Sekarang cuci mukamu! Sebentar lagi kamu akan pergi mengantarkan makanan ke kantor. Jangan sampai Wisnu melihat wajahmu sembab karena habis menangis. Nanti Wisnu menyangka saya telah memarahi kamu,” kata Ibu Deswita.
__ADS_1
“Baik, Bu.” Haifa pun keluar dari ruang kerja Pak Broto menunju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.