
Mengetahui Fahri berada di Bandung membuat Wira merasa tidak tenang. Ia mencari cara agar Fahri tidak datang mengunjungi Haifa. Tiba-tiba ia ada ide agar bisa memantau gerak-gerik Haifa. Wira memanggil Dodi beserta dengan sepupu-sepupunya ke kamarnya.
“Kalian Mas Wira beri tugas untuk menjaga Teteh Haifa,” kata Wira.
“Kenapa Teteh Haifa harus dijaga? Siapa yang akan berbuat jahat ke Teteh?” tanya Teguh.
“Bukan ada yang berniat jahat ke Teteh. Tapi Mas Wira takut ada yang akan ada laki-laki lain datang menghampiri Teteh selama Teteh dipingit,” jawab Wira.
“Oh, jadi jadi kita disuruh menjaga agar Teteh tidak bertemu dengan laki-laki lain?” tanya Arif.
“Iya,” jawab Wira.
“Oke, baiklah,” kata Arif sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Nanti Mas Wira akan kasih kalian hadiah,” kata Wira.
“Hadiah?” tanya Alit dengan berbinar-binar.
“Hadiahnya mainan. Kalian boleh pilih mainan apa saja di mall belakang,” jawab Wira.
“Asyik mainan,” seru semuanya dengan girang.
“Bagaimana? Mau kan menjaga Teteh Haifa?” tanya Wira.
“Mau, Mas,” jawab semuanya.
“Berarti deal, ya! Kalian mulai menjaga Teteh sekarang juga!” kata Wira.
“Siap, Mas.”
Dodi dan para sepupunya pergi menuju ke kamar Haifa.
“Teteh, kita boleh main sama Alifa, nggak?” tanya Suci ketika berada di depan kamar Haifa.
“Boleh, silahkan masuk,” jawab Haifa.
Suci bersama rombongan masuk ke dalam kamar Haifa. Mereka mendekati Alifa yang sedang main di tempat tidur. Alifa senang melihat ada paman-paman dan bibi-bibinya. Bayi itu tertawa senang ketika banyak yang mengajaknya main. Anak-anak itu bermain di kamar Haifa hingga sore hari. Orang tua mereka kebingungan mencari anak anaknya. Mereka menghampiri kamar satu persatu. Ketika mereka datang ke kamar Haifa, mereka kaget melihat anak-anaknya di kamar Haifa semua.
“Lagi pada ngapain di sini?” tanya Bi Nani.
“Lagi main sama Alifa,” jawab Suci.
Bi Nani melihat Alifa asyik bermain sendiri sambil hendak menggigit kakinya. Alit dan Suci sedang asyik nonton film anak. Dodi, Arif dan Teguh sedang asyik dengan ponsel mereka bermain ML.
“Sudah mainnya nanti lagi. Sekarang mandi dulu lalu sholat ashar,” kata Bi Nani.
“Bagaimana ini?” tanya anak-anak sambil berbisik.
“Mandinya gantian aja. Perempuan dulu yang mandi,” bisik Dodi.
Akhirnya Suci dan Alit ke luar dari kamar Haifa menuju ke kamar mereka masing-masing. Setelah Suci dan Alit selesai mandi dan sholat mereka kembali ke kamar Haifa. Gantian anak laki-laki yang mandi. Setelah selesai mandi dan sholat mereka kembali ke kamar Haifa. Mereka bermain sampai adzan magrib berkumandang lalu mereka kembali ke kamarnya masing-masing.
Setelah selesai sholat magrib Pak Broto mengajak semua keluarga Haifa untuk makan malam di mall yang berada di belakang hotel tempat mereka menginap. Tinggallah Haifa, Alifa dan Sri yang tidak ikut makan malam.
Sebelum pergi Wira berpesan pada Sri.
“Ingat ya, Sri. Ibu Haifa tidak boleh bertemu dengan siapapun. Apalagi laki-laki, tidak boleh!” seru Wira.
“Baik, Pak,” jawab Sri.
__ADS_1
Setelah itu barulah Wira pergi dengan tenang. Tak lama setelah Wira pergi ada dua orang pegawai hotel datang ke kamar Haifa. Sri membuka pintu kamar.
“Dengan kamarnya Ibu Haifa?” tanya pegawai itu.
“Iya, betul,” jawab Sri.
“Saya mengantarkan bingkisan untuk Ibu Haifa,” kata pelayan tersebut.
“Dari siapa, Pak?” tanya Sri.
“Dari tamu kamar 605. Pak Fahri,” jawab pegawai itu.
Mendengar namanya Sri langsung kaget.
“Tunggu sebentar, Mas. Saya tanya Ibu Haifa dulu,” kata Sri.
Sri menghampiri Haifa.
“Bu, ada pegawai hotel mengantarkan bingkisan untuk Ibu,” kata Sri.
“Bingkisan dari siapa?” tanya Haifa.
“Dari tamu kamar 605. Pak Fahri,” jawab Sri.
Haifa beranjak dari tempat tidur menuju ke pintu kamar. Haifa melihat dua orang pewai hotel sambil membawa bingkisan yang begitu banyak.
“Bingkisan dari siapa, Mas?” tanya Haifa.
“Dari Pak Fahri, Bu,” jawab pegawai itu.
Haifa menghela nafas.
Kemudian pegawai itu memberikan semua bingkisan yang mereka bawa kepada Sri. Sri menaruh semua bingkisan di dalam kamar.
“Banyak sekali bingkisannya, Bu,” kata Sri.
“Iya,” jawab Haifa.
“Bu, sepertinya yang ini makanan,” kata Sri sambil menunjuk ke beberapa buah gody bag.
Haifa mendekati bingkisan itu.
“Iya, Sri. Ini makanan semua,” kata Haifa.
Haifa membuka gody bag itu. Ternyata di dalam gody bag ada berbagai macam makanan. Ada pizza, burger, fried chicken, donat dan juga minumannya. Semua dalam jumlah yang banyak. Mungkin tadi siang tanpa sengaja Fahri melihat banyak anak-anak yang masuk ke dalam kamar Haifa.
“Kita tidak usah pesan makan, Sri. Kita makan ini saja. Sayang kalau tidak dimakan,” kata Haifa.
“Iya, Bu,” jawab Sri.
Lalu merekapun memakan makanan yang dikirim oleh Fahri. Ketika Haifa sedang makan ada pesan masuk dari Wira.
Mas Wira:
Sudah makan, belum?
Haifa :
Ini lagi makan.
__ADS_1
Mas Wira:
Makan sama apa?
Haifa :
Fried chicken.
Mas Wira :
Bagaimana cara membelinya?
Haifa :
Pesan lewat aplikasi.
Haifa berbohong.
Mas Wira :
Selamat makan. Makan yang banyak, ya.
Haifa menghembuskan nafas lega. Kemudian ia melanjutkan makannya.
Keesokan paginya setelah sarapan pagi Dodi dan sepupu-sepupunya kembali ke kamar Haifa. Haifa memberikan makanan yang kemarin diberikan oleh Fahri kepada adik-adiknya.
“Kenyang, Teh,” jawab mereka.
“Ya sudah. Nanti kalau mau ambil saja, ya,” kata Haifa.
“Teteh beli makanan banyak-banyak untuk apa?” tanya Dodi.
“Tadi malam Teteh lapar sekali, jadi Teteh pesan makanan yang banyak,” jawab Haifa dengan berbohong.
“Oh…,” kata Dodi.
Dodi, Arif dan Teguh mulai main ML. Sedangkan Alit dan Suci mengajak main Alifa.
Malam harinya Haifa tidur lebih cepat karena besok subuh ia harus dirias oleh MUA.
****
Haifa berjalan di dalam ballroom menuju ke meja akad nikah sambil di dituntun oleh kedua Bibinya. Semua orang yang hadir di dalam ruangan itu memandanginya, termasuk juga Wira. Wira tidak berkedip ketika memandangi calon istrinya.
Cantik sekali, bisik Wira di dalam hati.
Akhirnya sampailah Haifa ke meja tempat akad nikah. Haifa duduk di sebelah Wira. Haifa duduk sambil menunduk ke bawah, sedangkan Wira masih saja memandangi Haifa.
“Sudah Nak Wira, jangan dipandangi terus calon istrinya. Tidak akan kemana-mana, kok,” kata Pak penghulu.
Wira pun mengalihkan pandangannya ke depan.
“Kita mulai saja akad nikahnya,” kata Pak penghulu.
Pak Yayat menjabat tangan Wira. Dan mulailah ijab kabul hingga terdengarlah kata SAH dari semua tamu yang menyaksikan akad nikah Wira dan Haifa.
“Alhamdulillahirobbilalamin,” ucap Wira dan Haifa.
Setelah selesai menandatangani buku nikah, Wira dan Haifa pun saling memakaikan cincin nikah kepada pasangannya. Setelah memakaikan cincin nikah Wira mengecup kening Haifa. Lalu membisikkan kata ditelinga Haifa, “ Kamu cantik sekali.” Mendengar perkataan Wira, Haifa langsung tersipu malu.
__ADS_1
Diiantara semua tamu yang hadir ada dua orang laki-laki yang menyaksikan akad nikah Wira dan Haifa dengan hati yang sedih dan terluka. Mereka adalah Fahri dan Syaiful.