Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
57. Perempuan Penggangu.


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Mang Diman berhenti di depan rumah Haifa. Dodi yang hendak keluar dari rumah langsung berhenti. Ia kembali masuk ke dalam rumah.


“Mamah Bapak, Teteh datang,” kata Dodi dengan kencang.


Ibu Euis yang sedang memasak di dapur langsung mematikan kompornya lalu menuju ke ruang tamu.


“Ada apa, Dod?” tanya Ibu Euis.


“Teteh datang,” jawab Dodi.


Sedangkan Pak Yayat langsung keluar dari kamar mandi dan menghampiri Dodi.


“Kamu ngapain teriak-teriak?” tanya Pak Yayat.


“Teteh datang,” jawab Dodi sambil menunjuk ke luar.


Pak Yayat dan Ibu Euis langsung melihat ke luar. Haifa turun dari mobil sambil menggendong Alifa.


“Alhamdullilah, Pak. Cucu kita datang,” kata Ibu Euis dengan wajah berseri.


Ibu Euis langsung menghampiri Haifa.


“Assalamualaikum,” ucap Haifa.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Euis.


“Alhamdullilah cucu Enin datang,” ucap Ibu Euis.


Haifa mencium tangan Mamahnya.


Ibu Euis langsung mengambil Alifa dari tangan Haifa.


“Enin kangen sama Alifa,” kata Ibu Euis sambil menimang-nimang cucunya dan membawanya ke dalam rumah.


Haifa dan Sri mengikuti dari belakang.


“Ceu, saya langsung pulang ke rumah,” kata Bi Nani di depan pintu.


“Nggak mampir, dulu?” tanya Ibu Euis.


“Nggak ah, Ceu. Kang Diman sudah cape,” jawab Bi Nani.


“Ya sudah, kalau nggak mampir. Terima kasih ya, Nan,” kata Ibu Euis.


“Sama-sama, Ceu,” jawab Bi Nani.


“Haifa, mobil diparkir di rumah Bibi ya,” kata Bi Naini.


“Iya, Bi,” jawab Haifa.


Lalu Bi Nani pergi meninggalkan rumah Haifa. Haifa menghampiri Bapaknya dan mencium tangan Bapaknya.


“Ini siapa, Haifa?” tanya Ibu Euis sambil menunjuk ke Sri.


“Ini Sri baby sitternya Alifa. Biasa, disuruh sama Mas Wira,” jawab Haifa.

__ADS_1


“Sri ini ibu saya, Eninnya Alifa,” kata Haifa kepada Sri.


“Dan itu, Bapak saya,” Haifa menununjuk ke Pak Yayat yang sedang duduk di depan televisi.


“Yang itu, adik saya Dodi,” kata Haifa.


“Iya, Bu,” kata Sri.


“Kalian sudah makan belum?” tanya Ibu Euis.


“Sudah, tadi sebelum ke sin mampir dulu di rumah makan,” jawab Haifa.


“Sri, kita belum sholat dzuhur. Ayo sholat dulu,” kata Haifa ke Sri.


“Mah, titip Alifa ya, Haifa mau sholat dulu,” kata Haifa kepada Ibu Euis.


“Iya,” jawab Ibu Euis.


Haifa mengajak Sri ke kamarnya untuk sholat. Setelah selesai sholat Haifa mengecek ponselnya. Belum ada pesan lagi dari Wira. Haifa bernafas lega.


Sementara itu nun jauh di sana Wira sedang memandangi ponselnya. Sampai sekarang Haifa masih belum menjawab pesannya. Padahal beberapa menit yang lalu Haifa online.


“Ayolah Haifa, jawab pesanku,’ kata Wira kepada dirinya sendiri.


Baru kali ini ia dibuat bingung oleh seorang wanita yang jinak-jinak merpati. Tiba-tiba….


Tok…


Tok…


Tok…


“Masuk!” teriak Wira.


Rita masuk ke dalam ruangan Wira sambil membawa map. Pandangan Wira terus fokus ke ponsel.


“Ini Pak, dokumen yang harus ditanda tangan,” kata Rita.


“Taruh di meja!” jawab Wira tanpa melihat ke arah Rita.


Rita menaruh map di atas meja Wira, lalu meninggalkan ruangan Wira.


“Pak Wira kenapa? Seperti orang yang lagi kebingungan,” Rita bicara pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba…


“Wira mana?”


Seorang perempuan seksi berdiri di belakang Rita.


“Maaf, Bu. Pak Wira tidak bisa diganggu,” kata Rita.


“Kamu bohong, ya?” tanya perempuan itu.


“Benar, Bu. Kalau diganggu beliau pasti akan marah,” jawab Rita.

__ADS_1


“Aku nggak percaya.”


Perempuan itu mencoba untuk masuk ke ruangan Wira.


“Jangan, Bu. Nanti Pak Wira marah, saya bisa dipecat.”


Rita berusaha menghalang-halangi perempuan itu. Namun perempuan itu licik, ia menginjak sepatu Rita dengan hak sepatunya yang tinggi. Rita langsung kesakitan dan perempuan itu berhasil masuk ke dalam ruangan Wira.


Rita cepat-cepat memanggil security menggunakan intercom. Tiba-tiba terdengar suara Wira memanggilnya dengan kencang, “RITAAAAA.”


Rita langsung masuk ke dalam ruangan Wira.


“Sudah berapa kali saya bilang, saya tidak mau diganggu dengan perempuan yang model kayak gini!” bentak Wira.


“Maaf, Pak. Tadi dia menginjak sepatu saya dengan hak sepatunya,” jawab Rita.


“Panggil security!” seru Wira.


“Sudah saya panggil, Pak,” jawab Rita.


“Wira, kamu jangan begitu sama aku. Aku kan ke sini mau ketemu kamu. Kita sudah lama tidak main,” kata perempuan itu.


Mendengar kata main tiba-tiba perut Rita menjadi mual dan mau muntah.


Gila! Pak Wira sering main sama perempuan kayak begini. Pantesan aja banyak perempuan yang kayak begini datang ke kantor cari Pak Wira, kata Rita di dalam hati sambil menutup mulutnya yang hampir mau muntah.


“Pergi kamu Sheila! Saya tidak mau diganggu. Aku sudah punya calon istri,” usir Wira.


“Tapi aku kan calon istrimu,’ kata Sheila.


“Jangan ngimpi kamu, Sheila!” seru Wira.


Tiba-tiba dua orang security masuk ke dalam ruangan Wira.


“Ibu keluar dari sini!” seru seorang security.


“Nggak mau. Saya mau ketemu calon suami saya,” jawab Sheila.


“Tolong kerja samanya, Bu. Jangan sampai kami menggunakan kekerasan,” kata security itu.


“Saya tidak mau!” seru Sheila.


Dengan terpaksa dua orang security itu memegang tangan Sheila dan membawa paksa keluar dari ruangan Wira.


Sesampainya di lobby mereka bertemu dengan Pak Broto yang baru datang ke kantor. Pak Broto memperhatikan kedua security yang membawa paksa peremupuan cantik dan seksi. Sepertinya Pak Broto mengenali wajah perempuan itu. Pak Broto menghampiri Ira.


“Ada apa ini?” Pak Broto bertanya kepada Ira.


“Ada perempuan yang hendak mengganggu Pak Wira,” jawab Ira.


“Perempuan mau mengganggu Wira? Tapi itu seperti teman perempuan Wira,” kata Pak Broto.


“Dia sering ke sini?” tanya Pak Broto.


“Baru kali ini dia datang. Tapi banyak perempuan yang seperti itu  datang bergantian mencari Pak Wira. Semuanya cantik-cantik dan seksi-seksi,” jawab Ira.

__ADS_1


Pak Broto menghela nafas.


“Ya sudah.” Pak Broto pergi meninggalkan meja resepsionis.


__ADS_2