
Pagi-pagi sekali Haifa sudah berada di dapur untuk menyiapkan bumbu yang akan dipakai masak oleh Bi Nani. Tadi malam Haifa menelepon Bi Nani untuk menanyakan menu untuk sarapan. Jawab Bi Nani menu hari ini adalah omlet dan tahu cah brokoli.
Haifa mempersiapkan semuanya mulai dari mengupas bawang Bombay dan bawang putih sampai memotong sayuran. Pukul setengah enam Bi Nani datang diantar oleh Mang Diman dengan menggunakan motor. Sebetulnya jam kerja Mang Diman adalah jam setengah tujuh, namun dari bolak-balik ke rumah kontrakannya lebih baik Mang Diman tidak pulang lagi. Mang Diman memanfaatkan waktunya dengan memanaskan mobil dan mengelap mobil yang akan dipakai oleh Pak Broto dan Wisnu.
“Sudah disiapkan semuanya?” tanya Bi Nani ketika menghampi Haifa di dapur.
“Sudah, Bi,” jawab Haifa.
“Tapi Haifa belum memasak nasi. Takut salah takarannya,” kata Haifa.
Beras yang biasa dimakan oleh Keluarga Broto pasti berbeda dengan kualitas beras yang biasa Haifa makan di kampung, jadi cara memasaknya pun pasti berbeda.
“Sini kamu perhatikan, ya!”
Bi Nani mengambil baskom dan mengisinya dengan beras yang diambil dari rice box. Haifa memperhatikan baik-baik apa yang dilakukan Bi Nani. Cara mencucinya juga Haifa perhatikan dan Haifa menghitung berapa kali Bi Nani membilasnya. Ketika beras dimasukkan ke rice cooker Haifa melihat takaran airnya.
“Sekarang sudah paham jumlah takarannya?” tanya Bi Nani.
“Sudah, Bi,” jawab Haifa.
Setelah memasak nasi Bi Nani melanjutkan memasak omlet dan tahu cah brokolinya. Haifa membantu mencuci peralatan masak.
Pukul enam sarapan sudah siap, hanya saja nasinya belum matang. Haifa membawa makan itu ke meja makan.
“Sudah matang sarapannya?” tanya Ibu Deswita yang menghampiri Haifa di ruang makan.
“Sudah, Bu. Tapi nasi nya belum matang,” jawab Haifa.
“Nggak apa-apa. Bapak dan Wisnu biasanya sarapan jam tujuh,” kata Ibu Deswita.
“Kamu sarapan dulu, ya! Ajak Bi Nani dan ART yang lain sarapan,” kata Ibu Deswita.
“Iya, Bu,” jawab Haifa lalu kembali ke dapur.
Haifa menghangatkan sisa makanan yang kemarin dan membuat telur dadar sebagai tambahannya. Setelah selesai Haifa mengajak semua ART, sopir dan penjaga rumah untuk sarapan bersama.
Setelah selesai sarapan Haifa ikut bersama dengan Bi Nani berbelanja ke pasar.
.
.
Pukul sebelas siang Haifa bersiap-siap untuk mengantarkanmakanan ke kantor Pak Broto dan Wisnu. Haifa tidak lupa membawa mukenah dan bekal makan siangnya. Setelah semuanya siap Haifa pun berangkat diantar oleh Pak Tono supir pribadi Wisnu.
Haifa turun dari mobil di depan lobby kantor Pak Broto. Dengan tenang Haifa masuk ke dalam kantor.
__ADS_1
“Selamat siang, Mbak,” sapa Haifa menghampiri meja resepsionis.
“Siang. Mau mengantarkan makanan, ya?” tanya Ira.
“Iya, Mbak,” jawab Haifa.
“Silahkan langsung saja ke ruangan Pak Broto dan Pak Wisnu,” kata Ira.
“Baik, Mbak. Permisi, Mbak.”
Haifa meninggalkan meja resepsionis menuju liff. Haifa memecet tombol liff, pintu liff langsung terbuka. Haifa mencoba mengingat-ingat cara menggunakan liff yang sudah diajarkan oleh Wisnu. Haifa pun berhasil dan liff membawa Haifa ke lantai tujuh.
Sesampai di lantai tujuh Haifa langsung menghampiri Maya sekretaris Pak Broto.
“Selamat siang, Mbak. Saya mengantarkan makan siang siang untuk Pak Broto,” kata Haifa.
“Oh iya, simpan saja di meja,” kata Maya.
Haifa meletakkan tas yang berisi rantang diatas meja.
“Terima kasih, Mbak. Saya permisi dulu,” ucap Haifa lalu kembali menuju tangga darurat.
Haifa turun ke lantai enam dengan menggunakan tangga darurat. Sesampainya di lantai enam Haifal angsung menuju ke ruangan Wisnu.
“Selamat siang, Mbak Rita,” sapa Haifa.
“Pak Wisnunya ada?” tanya Haifa.
“Ada. Mengantarkan makanan, ya?” tanya Rita.
“Iya, Mbak.”
“Sebentar saya tanya Pak Wisnu dulu.”
Rita menghubungi Wisnu melalui intercom
“Iya, Rit ada apa?” tanya Wisnu.
“Ada ART mengantarkan makanan,” jawab Rita.
“Haifa, bukan?” tanya Wisnu.
Rita menutup horn telepon dengan tangannya.
“Nama kamu siapa?” tanya Rita.
__ADS_1
“Saya Haifa,” jawab Haifa.
“Iya, Pak. Namanya Haifa,” jawab Rita.
“Suruh dia masuk,” kata Wisnu.
Rita menutup intercomnya.
“Disuruh masuk sama Pak Wisnu,” kata Rita.
“Terima kasih, Mbak,” ucap Haifa.
“Sama-sama,” jawab Rita.
Haifa mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruangan Wisnu.
“Masuk!” seru Wisnu dari dalam ruangan.
Haifa membuka pintu.
“Assalamualaikum,” ucap Haifa ketika mau masuk ke dalam ruangan.
“Waalaikumsalam,” jawab Wisnu.
Haifa menaruh tas rantang di atas meja.
“Mau makan sekarang, Den?” tanya Haifa.
“Nanti saja kalau sudah sholat,” jawab Wisnu sambil fokus membaca dokumen di depannya.
“Kalau begitu saya ke masjid dulu ya, Den,” pamit Haifa.
Wisnu langsung mengalihkan pandangannya ke Haifa.
“Mau ngapain ke masjid sekarang?” tanya Wisnu.
“Saya mau baca Al Qur’an dulu di masjid,” jawab Haifa.
“Bukannya sekarang hari Jum’at? Mesjidnya sedang disiapkan untuk sholat Jum’at,” kata Wisnu.
“Oh, iya ya. Saya lupa kalau sekarang hari Jum'at,” ujar Haifa.
“Kamu tuh masih muda tapi sudah pelupa,” kata Wisnu.
“Nanti baca Al Qur’annya di sini saja pas saya sedang sholat Jum’at. Agar ruangan saya jadi adem setelah kamu membaca Al Qur’an.”
__ADS_1
“Sajadahnya ada di lemari itu.” Wisnu menunjukkan ke lemari di sebelah kursi lipat.
“Iya, Den,” jawab Haifa.