
Ekky bingung melihat kakak iparnya yang tiba-tiba marah.
“Mas Wira mengenalnya?” tanya Ekky.
”Bukan Mas yang kenal. Tapi Haifa, dia teman Haifa dan menyukai Haifa. Ia menyukai Haifa dari Haifa belum menikah dengan Mas Wisnu,” jawab Wira.
Ekky menghela nafas.
“Tapi kan itu cerita lama, Mas. Apa yang Mas Wira khawatirkan?” tanya Ekky.
“Dia pasti berusaha merebut Haifa,” kata Wira.
“Yang penting Haifa tidak mau sama dia,” ujar Ekky.
“Buktinya Haifa lebih memilih Mas Wira daripada Syaiful,” ujar Ekky lagi.
Wira berpikir sejenak. Walau bagaimanapun Wira tidak ingin Syaiful mendekati Haifa.
“Coba kamu cari lagi, barangkali ada yang lebih baik dari Syaiful,” kata Wira.
“Baik, Mas. Akan saya usahakan,” jawab Ekky.
“Saya permisi dulu, Mas,” pamit Ekky sambil membawa kembali map yang tadi ia bawa.
“Hmm,” jawab Wira.
Ekky membenarkan apa yang dikatakan Wira. Seandainya hal tersebut terjadi pada dirinya, tentu saja ia akan bersikap sama seperti Wira. Ekky kembali ke café untuk membuka mengiklankan lowongan kerja.
Kejadian tadi membuat Wira tidak bisa konsentrasi bekerja. Wira memanggil Pak Tono untuk menjemputnya. Ketika sampai di rumah Wira di sambut Haifa dengan khawatir.
“Mas, kenapa? Mas sakit?” tanya Haifa ketika melihat suaminya masuk ke dalam rumah.
“Mas tidak apa-apa. Mas hanya pusing memikirkan café,” jawab Wira.
Wira duduk di sofa, Haifa duduk di samping suaminya.
“Ada masalah apa dengan café?” tanya Haifa.
“Mas lagi bingung mencari pengganti Ekky,” jawab Wira.
“Bukankah Ekky sedang mencarikan penggantinya?” tanya Haifa.
“Iya tapi…..,” Wira menceritakan semuanya kepada Haifa.
Haifa menghela nafas.
“Ya sudah, kita coba cari yang lain,” kata Haifa.
“Lagipula, dari dulu juga Haifa tidak ada rasa pada Aa Syaiful. Haifa cuma menganggap teman, tidak lebih,” lanjut Haifa.
“Tapi Syaiful sangat mengharapkanmu,” kata Wira.
“Biarkan saja, yang penting Haifa tidak ada rasa sama Aa Syaiful. Haifa cuma cinta sama Mas Wira,” kata Haifa.
“Benarkah?” tanya Wira.
__ADS_1
Kemudian Wira mendekati Haifa dan mencium bibir Haifa.
“Mas, nanti ada yang lihat,” bisik Haifa.
“Alifa mana?” tanya Wira.
“Lagi di teras belakang sama Mamah dan Papa,” jawab Haifa.
“Kita main, yuk. Mumpung Alifa lagi anteng. Udah lama nggak melongok bayi,” bisik Wira.
“Udah sore, Mas. Sebentar lagi magrib,’ kata Haifa.
“Sebentar aja, yuk,” Wira beranjak dari tempat duduknya lalu menggandeng tangan Haifa menuju ke kamar.
Di depan kamar mereka bertemu Wina.
“Masih sore, Mas. Udah mau diajak main aja,” sahut Wina seolah tau niat kakaknya.
“Biarin, mumpung Alifa lagi anteng,” jawab Wira.
Wira menarik tangan Haifa masuk ke dalam kamar. Selanjutnya terserah amda.
****
Hari terus berlalu. Ekky mulai menyeleksi pelamar-pelamar baru, hingga ia menemukan satu calon manager yang baru. Namun Ekky kurang sreg dengan calon yang baru ini. Ia merasa calon yang baru orangnya licik dan tidak bisa dipercaya. Walaupun dari hasil test wawancara sepertinya orang itu mempunyai skill untuk memanage perusahaan. Bagaimanapun juga ia harus melaporkan hasilnya kepada Wira.
Siang ini Ekky datang ke kantor Wira.
“Bagaimana sudah ada calon terbaru?” tanya Wira.
Wira membaca riwayat hidup orang tersebut.
“Lumayan juga pengalaman kerjanya,” kata Wira.
“Oke, tinggal kamu terima bekerja di café. Sehingga kamu bisa secepatnya pindah ke sini,” kata Wira.
“Tapi, Mas,” kata Ekky terpotong.
“Tapi kenapa?” tanya Wira.
“Kok saya merasa orang itu sepertinya bukan orang yang bisa dipercaya,” jawab Ekky.
“Itu hanya perasaan kamu saja,” kata Wira.
“Kalau Mas Wira tidak percaya coba saja wawancara dia. Nanti Mas Wira juga tau apa yang saya khawatirkan,” jawab Ekky.
“Baiklah. Kamu hubungi dia, bilang kalau dia ada wawancara dengan owner café,” kata Wira.
“Baik, Mas. Akan saya laksanakan. Saya pamit dulu,” kata Ekky.
“Silahkan,” jawab Wira.
Ekky beranjak dari tempat duduknya lalu keluar dari ruangan Wira.
Seperti yang Wira perintahkan, Ekky menghubungi orang tersebut untuk datang ke tempat Wira bekerja.
__ADS_1
Keesokan harinya orang tersebut datang ke kantor Wira. Seperti yang Ekky katakan Wira melihat wajah orang itu seperti tidak bisa dipercaya. Seperti orang licik. Wira mewawancarai orang tersebut. Jawabanya meyakinkan tapi……..
Setelah wawancara Wira mengatakan nanti akan dikabari oleh Ekky. Setelah orang itu keluar Wira sangat kecewa. Bagaimanapun juga Wira membutuhkan orang yang amanah dan pekerja keras seperti Ekky.
Wira menelepon Ekky.
“Ky, tolong hubungi Syaiful. Katakan pada Syaiful kalau dia ada wawancara dengan owner café,” kata Wira.
“Baik, Mas,” jawab Ekky.
Wirapun menutup teleponnya.
****
Keesokan harinya Syaiful datang ke kantor Wira. Dan betapa terkejutnya Syaiful ketika melihat Wira berada di ruangan itu.
“Silahkan duduk,” kata Wira.
Syaiful pun duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Wira.
“Apa yang membuatmu melamar kerja di café Selera Kita?" tanya Wira.
“Saya ingin mencari pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan saya sebelumnya. Saya juga ingin mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari pekerjaan sebelumnya,” jawab Syaiful.
“Bukannya kamu melamar kerja di café hanya untuk mendekati Haifa?” tanya Wira.
“Tidak, Pak. Bahkan saya tidak tau kalau café itu milik Pak Wira,” jawab Syaiful.
Wira memandang pemuda di depannya, sepertinya pemuda itu berkata jujur.
“Oke, mulai besok kamu sudah bisa kerja di café Selera Kita,” kata Wira.
“Maksud, Pak Wira?” tanya Syaiful bingung.
“Kamu diterima bekerja di café Selera Kita sebagai manager,” jawab Wira.
“Alhamdullilah,” ucap Syaiful.
“Terima kasih, Pak,” ucap Syaiful sambil mengangguk kepalanya.
“Tapi ingat! Kamu jangan coba-coba untuk mendekati istri saya! Apalagi sampai merebutnya!” ancam Wira.
“Siap, Pak. Akan saya laksanakan,” jawab Syaiful.
“Besok kamu akan ditranning oleh Ekky. Karena Ekky akan secepatnya akan pindah ke kantor ini,” kata Wira.
“Baik, Pak,” jawab wira.
“Sekarang kamu boleh pulang,” kata Wira.
Syaiful membungkukkan badannya lalu keluar dari ruangan Wira.
Setelah Syaiful keluar Wirapun membantingkan badannya ke kursi.
“Ya Alloh, mudah-mudahan dia bisa dipercaya,” kata Wira.
__ADS_1