
Pukul dua belas kurang lima belas menit Wisnu pamit untuk ke masjid untuk melaksanakan sholat Jum”at. Sedangkan Haifa menunggu di ruangan Wisnu. Haifa bersiap-siap untuk sholat dzuhur. Haifa mengambil wudhu di kamar mandi yang berada di luar ruangan Wisnu. Kamar mandi yang biasa dipakai oleh para staf. Haifa tidak berani untuk menggunakan kamar mandi yang berada di dalam ruangan Wisnu. Bagi Haifa itu adalah kamar mandi pribadinya Wisnu.
Sambil menunggu adzan Haifah membaca Al Qur’an terlebih dahulu. Setelah membaca membaca Al Qur’an Haifa bersiap-siap untuk sholat dzuhur. Selesai sholat dzuhur Haifa membuka ponselnya sambil menunggu Wisnu datang.
Tiga puluh menit kemudian Wisnu kembali dari masjid.
“Mau makan sekarang , Den?” tanya Haifa.
“Iya,” jawab Wisnu.
Haifa membuka tas yang berisi rantang lalu ia menata rantang-rantang di atas meja. Setelai Haifa selesai menata rantang-rantang Haifa melihat Wisnu tertidur di kursi sofa.
“Den Wisnu, bangun Den. Makan dulu,” kata Haifa.
Namun Wisnu tetap saja tidur. Haifa mendekati Wisnu lalu menepuk tepuk bahu Wisnu pelan-pelan. Merasa ada yang menepuk-nepuk bahunya, Wisnu langsung bangun.
“Den Wisnu makan dulu, nanti tidur lagi kalau sudah makan,” kata Haifa.
Wisnu membetulkan possi duduknya.
“Kamu sudah makan belum?” tanya Wisnu.
“Belum, Den,” jawab Haifa.
“Memangnya kamu tidak lapar? Ayo makan bareng sama saya. Lagi pula nggak enak kalau saya makan tapi kamu cuma melihat saya makan. Saya seperti majikan yang pelit,” kata Wisnu.
“Saya bawa bekal sendiri, " kata Haifa.
Haifa mengeluarkan kotak makanan dari dalan tasnya.
“Coba saya lihat isinya!” seru Wisnu.
Haifa mendekat diri dengan meja sofa lalu memperlihatkan isi kotak makanan kepada Wisnu.
“Cuma sedikit isinya, mana bisa kenyang,” kata Wisnu ketika melihat isi kotak makanan Haifa.
“Ayo tambah lagi makanannya,” kata Wisnu.
“Nggak ah, Den. Takut nggak habis,” jawab Haifa.
“Kamu diet, ya?” tanya Wisnu dengan penuh sidik.
“Takut diputusin pacar, ya? Gara-gara gendut,” goda Wisnu.
“Saya belum punya pacar,” jawab Haifa.
“Masa? Saya nggak percaya, tuh,” kata Wisnu dengan senyum dikulum.
“Ya sudah, kalau tidak percaya,” kata Haifa sambil cemberut.
“Jangan marah, dong. Saya kan cuma bercanda,” kata Wisnu yang melihat Haifa cemberut.
“Den Wisnu bercandanya nggak lucu,” kata Haifa.
“Iya, maaf,” kata Wisnu dengan menyesal.
__ADS_1
“Sekarang Den Wisnu makan dulu, terus makan obatnya,” kata Haifa.
“Iya Suster Haifa,” jawab Wisnu.
Wisnu mengambil nasi dan lauk-pauk lalu diletakkan ke atas piring dan mulai makan. Haifa juga memakan bekalnya.
Setelah selesai makan seperti biasa Wisnu meminum obatmya. Sedangkan Haifa membereskan meja bekas Wisnu makan.
“Haifa, hari Minggu besok antarkan saya ke teman saya, ya," kata Wisnu.
“Ada acara apa, Den?” tanya Haifa sambil menumpuk rantang.
“Aqiqah bayinya yang baru lahir,” jawab Wisnu.
Haifa menoleh ke arah Wisnu.
“Saya nggak ikut, ah. Malu sama teman-teman Den Wisnu,” jawab Haifa.
“Kenapa malu? Kamu kan pake baju bukannya nggak pake baju,” sanggah Wisnu.
“Lagi pula saya nggak punya baju yang sopan untuk ke acara seperti itu,” kata Haifa.
“Nanti saya belikan sekalian cari kado untuk anak teman saya,” jawab Wisnu.
“Jadi hari ini kamu jangan pulang dulu! Kamu pulangnya bareng sama saya. Nanti saya telepon Mamah kalau kamu mau antar saya cari kado untuk bayi,” kata Wisnu.
Wisnu mengambil ponselnya dan menelepon Ibu Deswita.
“Assalamualaikum, Mah.”
“Waalaikumsalam.”
“Iya, tidak apa-apa. Nanti kamu pulangnya disupri Pak Tono atau menyetir sendiri?”
“Wisnu menyetir sendiri saja. Kasihan Pak Tono kalau harus pulang malam. Lagipula ada Haifa yang menemani Wisnu.”
“Hati-hati loh menyetirnya!”
“Iya, Mah. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Wisnu mengakhiri percakapannya.
“Saya sudah minta ijin ke Mamah. Dan Mamah mengijinkan kamu menemani saya,” kata Wisnu.
“Sambil menunggu kamu bantu saya mencek dokumen-dokumen.” Wisnu menaruh beberapa lembar dokumen di atas meja.
“Kamu kan mau kerja di kantor. Untuk sementara kamu belajar kerja sama saya,” ujar Wisnu.
“Kalau saya melakukan kesalahan bagaimana?” tanya Haifa.
“Kamu nggak akan melakukan kesalahan. Kamu baca satu persatu. Nanti juga kamu mengerti,” kata Wisnu
“Dan satu lagi. Jangan panggil saya dengan kata “Den” geli saya mendengarnya,” protes Wisnu.
__ADS_1
Haifa mengerutkan kening mendengar perkataan Wisnu.
“Kenapa geli? Kan Den Wisnu sudah biasa dipanggil “Den” oleh para ART," kata Haifa bingung.
“Iya para ART sudah biasa memanggil saya “Den”. Tapi kamu masih kecil lebih muda dari saya, jadi nggak pantes panggil “Den”,” jawab Wisnu.
“Apa saya harus panggil “Pak” aja, ya?” tanya Haifa.
“Jangan panggil “Pak” kesannya saya seperti sudah tua saja,” kata Wisnu.
Memang sudah tua bisik Haifa di dalam hati.
“Terus saya harus panggil apa?” tanya Haifa bingung.
“Panggil saya “Mas”,” jawab Wisnu.
“Jangan ah, Den! Kedengarannya nggak sopan. Nanti saya dimarahin sama Ibu Deswita,” kata Haifa.
“Loh kenapa dimarahin? Memangnya kamu salah apa?” Tanya Wisnu.
“Karena manggil Mas Wisnu,” jawab Haifa.
“Coba katakan sekali lagi!” Seru Wisnu.
“Karena mang…….”
“Bukan yang itu. Dua kata yang belakang,” sahut Wisnu.
“Mas Wisnu,” kata Haifa dengan suara pelan dan hampir tidak kedengaran.
“Apa? Coba ulang lagi. Tidak kedengaran,” ujat Wisnu sambil menempelkan telapak tangannya di dekat telinganya.
“Mas Wisnu,” kata Haifa dengan malu-malu.
“Nah begitu, dong! Kan enak di dengarnya,” ujar Wisnu.
Wisnu kembali menelepon seseorang.
“Assalamualaikum, Pak Tono.”
”Waalaikumsalam.”
“Pak Tono sekarang sudah boleh pulang. Saya masih ada urusan. Nanti saya akan menyetir sendiri.”
“Tapi Den Wisnu nanti menyetir sendiri tidak ada yang menemani.”
“Ada Haifa yang menemani saya. Haifa saya tahan untuk menemani saya.”
“Baiklah kalau begitu. Saya ke atas sekarang untuk mengantarkan kunci mobil.”
“Tidak usah ke atas Pak Tono! Kunci titipkan saja ke repsesionis.”
“Baik, Den.”
“Begitu saja, Pak Tono. Assalamualaikum.”
__ADS_1
“Waalaikumsalam.”
Wisnu menutup teleponnya.