
Tanpa Haifa sadari ada sebuah mobil berhenti di seberang rumah Pak Broto. Seseorang keluar dari mobil itu dan mendekati Haifa. Haifa masih terus menangis.
“Mas Wira, jangan tinggalkan kami. Kami membutuhkan Mas Wira,” kata Haifa sambil menangis.
“Apakah itu artinya kau mengatakan “Ya”?” tanya laki-laki itu.
Haifa mendengar perkataan laki-laki itu, ia langsung berhenti menangis. Dilapnya air matanya dengan menggunakan telapak tangannya. Kemudian Haifa menoleh ke samping, ia seperti mengenal sepatu yang digunakan laki-laki itu. Haifa mengangkat wajahnya ke atas. Wira sedang berdiri di sampingnya sambil tersenyum ke arahnya.
“Mas Wira,” kata Haifa dengan tidak percaya.
Haifa langsung berdiri.
“Apakah itu artinya kau mengatakan “Ya”?” tanya Wira sekali lagi.
“Iya, Mas,” ucap Haifa.
“Alhamdullilah hirobbil alamin. Terima kasih, Haifa,” ucap Wira.
“Mas Wira kenapa tidak pamit kepada Haifa?” tanya Haifa.
“Kalau aku melihatmu dan Alifa, rasanya aku enggan untuk pergi. Namun disatu sisi lain kamu pasti akan merasa terganggu dengan keberadaanku. Buktinya kamu kabur ke Sumedang,” jawab Wira.
“Haifa tidak merasa terganggu dengan keberadaan Mas Wira. Haifa hanya ingin sendiri dulu,” jawab Haifa.
“Mas Wira tidak jadi pergi, kan?” tanya Haifa dengan berharap wira membatalkan keberangkatannya.
“Aku tetap harus pergi. Kalau aku tidak pergi, bagaimana aku bisa menghidupi kalian?” tanya Wira.
“Sekarang baru ada Alifa, tapi nanti akan ada adik-adiknya Alifa yang akan membutuhkan biaya banyak,” jawab Wira.
“Tapi tidak harus bekerja di Bangkok,” kata Haifa.
“Di Bangkok aku ada sedikit pekerjaan. Tapi perusahaan bekas tempatku bekerja meminta aku untuk kembali bekerja di sana. Tadinya aku sudah menolak. Tapi setelah kamu menolakku, aku berpikir untuk menerima kembali tawaran mereka,” jawab Wira.
“Sudah ya, jangan nangis lagi. Kasihan Alifa kalau Mamahnya menangis terus,” kata Wira.
“Mas berapa lama pergi?” tanya Haifa.
“Belum tau. Doakan saja agar pekerjaanku cepat selesai, sehingga bisa cepat kembali lagi,” jawab Wira.
“Aamiin ya robbil alamin,” ucap Haifa.
“Aku pergi dulu. Nanti ketinggalan pesawat,” pamit Wira.
“Iya, Mas,” jawab Haifa.
“Assalamualaikum,” ucap Wira lalu berjalan kembali ke mobil.
Namun tiba-tiba Wira berbalik lagi lalu tersenyum memandangi Haifa.
“Kamu cantik kalau seperti itu,” puji Wira.
Haifa mengerut kening.
“Kenapa, Mas?” tanya Haifa bingung.
Wira menunjuk kepalanya sendiri. Haifa langsung kaget. Ia baru saadar kalau ia keluar dari kamar tidak menggunakan kerudung. Haifa langsung lari masuk ke dalam rumah. Wira tertawa sambil geleng-geleng melihat kelakuan Haifa. Kemudian Wira membalikkan badannya dan masuk kembali ke dalam mobil. Mobil itupun melanjutkan kembali perjalanannya menuju bandara.
Haifa sebetulnya tidak langsung ke kamarnya. Ia hanya mengumpet di balik tembok. Ia memperhatikan Wira hingga mobil yang membawa Wira menghilang dari depan rumah.
Tiba-tiba Bi Nani mengagetkan Haifa.
“Ngapain kamu di sini?” tanya Bi Nani.
“Alifa nangis tuh, minta ne-nen,” kata Bi Nani.
“Oh iya, sampai lupa sama Alifa,” ujar Haifa.
Lalu Haifa kembali ke kamarnya.
“Haifa-Haifa, udah jadi Mamah tapi kelakuannya masih seperti ABG labil,” kata Bi Nani.
*****
Semenjak kejadian tadi pagi hidup Haifa kembali berwarna. Ada seseorang yang jauh di sana sekarang mengisi relung hatinya. Seperti siang ini Haifa mendapatkan pesan dari Wira.
Mas Wira :
Aku sudah sampai di Suvarnabhumi Internasional Airport.
Haifa :
__ADS_1
Alhamdullilah.
Malam harinya setelah Haifa melaksanakan sholat isya, Wira mengirim pesan.
Mas Wira :
Sedang apa?
Haifa :
Baru selesai sholat isya.
Mas Wira :
Alifa sedang apa?
Haifa :
Sedang berceloteh sendiri. Dia belum mau bobo.
Mas Wira :
Biarkan saja, nanti kalau sudah cape pasti langsung bobo.
Haifa :
Mas Wira sedang apa?
Mas Wira:
Sedang membayangkan kamu.
Haifa :
Haifa serius nanyanya. Kok jawabnya malah main-main?
Mas Wira :
Aku serius.
Haifa :
Gombal.
Mas Wira :
Aku baru pulang kerja. Kalau cape paling enak membayangkan orang yang kita cintai. Capenya langsung hilang.
Haifa :
Tuh kan, ngegombal lagi.
Udah, ah. Mau bobo aja.
Mas Wira :
Tidur yang nyenyak, ya. Assalamualaikum.
Haifa:
Waalaikumsalam.
Haifa menyimpan ponselnya di atas nakas.
“Alifa, kita bobo yuk. Sudah malam,” ajak Haifa.
Alifa berhenti bermain dan langsung mi-mi ASI ibunya. Haifa memeluk Alifa sambil menepuk-tepuk belakang badan Alifa. Merekapun tidur dengan nyenyak.
****
Waktu terus berlalu, tak terasa dua minggu sudah Wira berada di Bangkok. Malam ini Wira menelepon Haifa.
“Besok aku pulang. Naik pesawat pagi,” kata Wira.
“Alhamdullilah,” ucap Haifa dengan senang.
“Besok jemput aku, ya di Bandara. Bawa Alifa juga,” kata Wira.
“Iya, Mas,” jawab Haifa.
Keesokan harinya Haifa mengajak Alifa ke Bandara Soekarno Hatta untuk menjemput Wira. Haifa juga membawa Sri agar ada yang membantunya menjaga Alifa.
__ADS_1
Haifa berdiri di terminal kedatangan sambil memperhatikan penumpang pesawat yang keluar dari terminal kedatangan. Ketika melihat Wira keluar dari terminal kedatangan Haifa langsung melambaikan tangannya ke arah Wira. Wira tersenyum lalu menghampiri Haifa.
“Assalamualaikum,” ucap Wira ketika mendekati Haifa.
“Waalaikumsalam,” jawab Haifa.
“Apa kabarnya anak sholeha?” tanya Wira kepada Alifa.
“Alhamdullilah Alifa sehat,” jawab Haifa.
“Mamahnya apa kabarnya?” tanya Wira.
“Alhamdullilah Haifa sehat,” jawab Haifa.
Merekapun berjalan menuju ke pinggir teras terminal kedatangan menunggu Pak Tono datang menjemput. Tak lama kemudian mobil yang dikemudikan Pak Tono pun datang. Wira memasukkan kopernya ke dalam bagasi lalu masuk ke dalam mobil.
“Langsung ke Café Selera Kita ya, Pak,” kata Wira kepada Pak Tono.
“Baik, Den,” jawab Pak Tono.
Haifa menoleh ke Wira.
“Mau ngapain ke sana?” tanya Haifa.
“Kita makan siang di sana,” jawab Wira.
Empat puluh menit kemudian mereka sampai di café Selera Kita.
“Pak, nanti makan siang di café ya,” kata Wira ke Pak Tono sebelum turun.
“Baik, Den,” jawab Pak Tono.
“Ayo kita turun,” ajak Wira kepada Haifa.
Wira dan Haifa turun dari mobil. Sri mengikuti majikannya sambil membawa stoller milik Alifa. Merekapun masuk ke dalam café.
“Selamat siang Pak Wira,” ucap pelayan café ketika melihat Wira datang.
“Siang. Pak Ekky dimana?” tanya Wira.
“Ada di kantornya Pak,” jawab pelayan itu.
Wira mengambil Alifa dari tangan Haifa.
“Alifa, sama Mbak Sri dulu ya. Om ada perlu sama Mamah.”
Wira memberikan Alifa kepada Sri. Lalu Wira memanggil pelayan café.
“Tolong carikan meja kosong untuk baby sitter anak saya dan supir saya! Kalau untuk baby sitter anak saya di area no smoking,” kata Wira kepada pelayan café.
“Kasih mereka makan siang! Biar mereka pilih sendiri menunya,” lanjut Wira.
“Baik, Pak,” jawab pelayan itu.
Wira memegang tangan Haifa.
“Kamu ikut aku,” kata Wira kepada Haifa.
Wira membawa Haifa ke suatu tempat namun mereka berpas-pasan dengan Ekky.
“Selamat siang, Bos,” sapa Ekky.
“Ky, tolong lu urusin makan siang untuk baby sitter anak gue dan supir gue! Tapi anak gue jangan lu kasih apa-apa. Dia masih mi-mi ASi ibunya,” kata Wira.
“Terus Bos, mau kemana?” tanya Ekky.
“Gue ada urusan sama calon bini gue,” jawab Wira.
“Hah? Calon bini? Bukannya ini istri almarhum Wisnu?” tanya Ekky.
“Udah, lu nggak usah kebanyakan nanya! Sana urusin dulu baby sitter dan supir gue,” ujar Wira.
“Siap, Bos,” jawab Ekky.
Wira kembali berjalan sambil memegang tangan Haifa.
“Mas, sebenarnya kita mau kemana?” tanya Haifa.
.
.
__ADS_1
mau dibawa kemana Haifa? ntar Deche mikir dulu jawabannya.