Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
67. Persiapan Pernikahan.


__ADS_3

Rita berjalan menuju pantry untuk membuat minum tamu Wira.


“Da, tolong buatkan minum untuk tamu Pak Wira. Tamunya berjumlah dua orang sekalian buatkan juga minum untuk Ibu Haifa dan Pak Wira,” kata Rita kepada Aida office girl yang bertugas di lantai enam.


“Baik, Mbak Rita,” jawab Aida.


Aida memulai membuatkan minumannya. Sedangkan Rita berdiri di pantry sambil memperhatikan Aida. Tiba-tiba ponsel Rita berbunyi, Rita mengambil ponselnya dari saku blazernya. Ada sebuah pesan masuk.


Ira :


WO ketemu Pak Wira untuk urusan apa?


Rita menghela nafas.


Rita:


Nggak tau.


Ira:


Masa Mbak Rita nggak tau. Mbak Rita kan sekretaris Pak Wira.


Rita:


Bener, aku nggak tau. Pak Wira tidak ngomong apa-apa.


Ira:


Apa tanya ke Ibu Haifa saja, ya?


Ibu Haifa ada di ruangan Pak Wira, nggak?


Rita:


Ada.


Ira:


Nanti nanya Ibu Haifa saja.


“Ibu Haifa pasti tau, Ibu Haifa kan calon istrinya,” gumam Rita lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku blazer.


Aida menoleh ke Rita.


“Kenapa Ibu Haifa, Mbak Rita?” tanya Aida.


“Nggak. Bukan apa-apa,” jawab Rita.


“Sudah selesai belum minumannya?” tanya Rita.


“Sudah, Mbak,” jawab Aida.


“Kamu yang bawa minumannya. Saya yang membukakan pintunya,” kata Rita.


“Iya, Mbak.”


Aida membawa nampan yang berisi cangkir ke ruangan Wira. Di depan pintu terdengar salah satu petugas WO bertanya, “ Jadi Bapak dan Ibu pernikahannya mau diadakan di Bandung?”


“Iya,” jawab Wira.


Rita membukakan pintu ruangan agar Aida bisa masuk  ke dalam ruangan Wira. Aida menaruh cangkir yang berisi teh di atas meja.


“Terima kasih, Aida,” ucap Haifa.


Aida langsung keluar dari ruangan Wira dan Rita menutup kembali ruangan Wira.


Oh, jadi mereka mau menikah di Bandung. Berarti para karyawan tidak diundang, dong. Kan jauh ke Bandung, kata Rita di dalam hati.

__ADS_1


Rita kembali ke meja kerjanya dan meneruskan pekerjaannya.


Kita kembali lagi ke calon pengantin.


“Kalau bisa tempat parkir yang muat untuk bis. Karena kami akan menyewa beberapa bis yang akan mengangkut keluarga dan karyawan kami,” kata Wira.


“Bagaimana kalau di ballroom hotel?” tanya Rio.


“Boleh,” jawab Wira.


Haifa menoleh ke Wira.


“Mas!” seru Haifa.


“Tidak apa-apa. Kamu tenang saja, dananya ada,” kata Wira yang berusaha menenangkan Haifa.


Haifa menghela nafas.


“Minggu depan Bapak dan Ibu sudah bisa survei tempat,” kata Andri.


“Maksudnya kami ke Bandung untuk melihat tempatnya?” tanya Haifa.


“Iya, Bu. Tapi tidak bisa hari libur, karena tempatnya dipakai,” jawab Andri.


“Iya, tidak apa-apa,” kata Wira.


Haifa menoleh ke Wira.


“Sekalian ajak Alifa jalan-jalan ke Bandung,” kata Wira ke Haifa.


“Nanti akan kami atur jadwalnya,” kata Andri.


Lalu mereka membicarakan konsep pernikahan. Wira meminta pihak WO untuk mengikuti semua keinginannya Haifa. Mulai dari dekor ballroom, menu makanan, pakaian pengantin, undangan sampai souvenir semuanya harus sesuai dengan keinginan Haifa. Wira ingin Haifa merasa nyaman dengan pesta pernikahannya yang kedua.


****


Hari terus berlalu, berita rencana pernikahan Wira dan Haifa akhirnya tersebar juga. Entah darimana berita itu bermula, padahal Rita sudah mati-matian menutup mulutnya. Namun Wira dan Haifa tidak merasa terganggu dengan berita tersebut.


“Sebenarnya Mamah mau ikut. Tapi dilarang sama Papah,” kata Ibu Deswita ketika Haifa pamit pada Ibu Deswita.


“Papah melarang Mamah untuk ikut campur untuk pesta pernikahan kalian. Padahal Mamah bukannya mau ikut campur, Mamah cuma mau lihat aja seperti apa tempatnya,” keluh Ibu Deswita.


“Mamah kan bisa lihat pada hari H nya,” kata Pak Broto.


“Tapi Mamah penasaran pengen lihat, Pah,” protes Ibu Deswita.


“Sudah, beri mereka privasi. Biiarkan mereka pergi bertiga. Sri dan Pak Tono saja tidak mereka bawa,” kata Pak Broto.


Ibu Deswita menghela nafas.


“Iya, deh,” Akhirnya Ibu Deswita menyerah.


Wira dan Haifa mencium tangan Ibu Deswita dan Pak Broto.


“Assalamualaikum,” ucap Haifa dan Wira.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Deswita dan Pak Broto.


Wira dan Haifa masuk ke dalam mobil, kemudian mobilpun meluncur meninggalkan halaman rumah Pak Broto. Sepanjang perjalanan Alifa tidak bisa diam, ia sibuk berceloteh dan tangannya bergerak-gerak terus. Setelah cape


Alifapun menangis meminta ASi. Haifa memiringkan tubuhnya agar tidak terlihat oleh Wira ketika sedang menyusui Alifa. Sampai akhirnya Alifa tertidur dan puncak dada Haifa bisa dilepas dari mulut Alifa. Haifa sembali membetulkan posisi duduknya.


“Sudah tidur?” tanya Wira ketika melihat posisi duduk Haifa kembali lurus ke depan.


“Sudah,” jawab Haifa.


Perjalanan Bandung Jakarta ditempuh waktu tiga jam, cukup lama dari hari-hari sebelumnya. Sekarang kecepatan berkendaraan di jalan tol benar-benar diperhatikan karena ada tilang elektronik. Wira mengendarai mobilnya sesuai dengan kecepatan maksimal yang diberlakukan di jalan tol.

__ADS_1


“Kamu mau ke kamar mandi, nggak?” tanya Wira.


“Nggak, Mas,” jawab Haifa.


“Kalau mau ke kamar mandi bilang, ya!” kata Wira.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


Tak terasa mobil yang dikendarai Wira sampai di pintu keluar tol Pasteur. Setelah keluar dari tol Wira mengemudikan mobilnya menuju sebuah Mall besar dan cukup terkenal di kota Bandung. Haifa memperhatikan Wira sepertinya hafal jalanan kota Bandung.


“Mas, hafal jalan di Bandung?” tanya Haifa.


“Waktu masih bujangan aku sering ke Bandung,” jawab Wira.


Haifa menoleh ke Wira.


“Memangnya sekarang sudah tidak bujangan lagi?” tanya Haifa.


“Kan sekarang sudah ada kamu dan Alifa. Jadi sudah tidak sendirian lagi,” jawab Wira dengan santai.


“Oh….”


“Kamu sudah laper, belum?” tanya Wira.


“Belum, Mas,” jawab Haifa.


“Kalau begitu kita langsung ke hotel,” kata Wira.


Tak lama kemudian mereka sampai di hotel tempat mereka menikah nanti. Wira menghentikan mobilnya di depan  lobby hotel.


“Ayo kita turun.” Wira membuka pintu mobil dan turun dari mobil.


Wira mengeluarkan stoller dari bagasi dan mengambil tas Alifa dari kursi belakang. Setelah itu Wira memberikan kunci mobil kepada petugas parkir valet.


Wira dan Haifapun berjalan menuju ke lobby hotel. Ternyata para petugas WO sudah menunggu mereka di lobby hotel.


“Selamat datang Pak Wira dan Ibu Haifa,” sapa Rio petugas WO.


“Bagaimana perjalanannya lancar?” tanya Rio.


“Alhamdullilah lancar, tidak ada kendala,” jawab Wira.


“Mari, Pak kita langsung lihat ballroomnya.” Rio mengajak Wira dan Haifa menuju ballroom hotel.


Ketika pintu ballroom dibuka Haifa terkesimak dengan interior ballroom. Tanpa di dekor juga ballroom sudah terlihat mewah. Ruangannya juga cukup luas, bisa menampung orang banyak.


“Bagaimana, Pak Bu?” tanya Rio.


“Ini sudah mewah tidak perlu dekor lagi,” jawab  Haifa.


“Mungkin hanya ditambah rangkaian bunga hidup, agar terlihat lebih asri,” kata Rio.


“Tapi rangkaian bunganya yang sederhana jangan terlalu mewah,” ujar Haifa.


“Baik, Bu,” jawab Rio.


“Kamu setuju kita menikah di sini?” tanya Wira kepada Haifa.


“Mau bagaimana lagi, Mas. Haifa harus jaga prestise Papah dan Mas Wira di depan rekan bisnis dan teman-teman Papah dan Mas Wira,” jawab Haifa dengan pelan.


“Alhamdullilah, ternyata istriku pengertian juga,” ucap Wira.


“Baru calon, Mas. Belum jadi istri,” ralat Haifa.


“Tapi kan sebentar lagi akan menjadi istri,” ujar Wira.


“Masih lama, Mas. Beberapa minggu lagi,” kata Haifa.

__ADS_1


“Kalau begitu waktunya dipercepat, ya,” kata Wira sambil tersenyum ke Haifa.


“Mas!” seru Haifa sambil melotot.


__ADS_2