Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
50. Tamu Yang Tidak Diinginkan.


__ADS_3

Haifa memasukkan baju-bajunya ke dalam tas. Hari ini ia dan Alifa diperbolehkan pulang oleh dokter.


“Assalamualaikum,” ucap Wira ketika masuk ke dalam kamar tempat Haifa di rawat.


“Waalaikumsalam,” jawab Haifa dan Ibu Euis.


“Sudah siap?” tanya Wira.


“Sudah, Mas,” jawab Haifa.


“Tapi Haifa belum bayar rumah sakit. Tolong bayarin, Mas,” kata Haifa sambil mengambil kartu debitnya dari dalam dompet.


“Sudah aku bayar,” jawab Wira sambil memperhatikan Alifa yang sedang tidur di dalam box.


“Loh Mas, biar Haifa bayar sendiri biaya perawatannya. Mas Wira sudah mengeluarkan uang banyak,” Haifa protes.


“Kan untuk keponakanku tersayang,” kata Wira sambil mencium-cium pipi Alifa.


Haifa menghela nafas. Percuma ia protes pasti tidak akan didengar oleh Wira.


“Oh ya, aku pinjam mobilmu, ya. Aku belum sempat membeli mobil,” kata Wira.


“Pakai saja, Mas. Haifa tidak kemana-mana, kok,” jawab Haifa.


“Atau Mas Wira mau pakai mobil Mas Wisnu juga tidak apa-apa,” kata Haifa.


“Tidak usah. Kamu saja yang pakai mobil Mas Wisnu,” kata Wira.


“Sudah beres, belum? Kalau sudah, ayo kita pulang." kata Wira.


“Sudah, Mas,” jawab Haifa.


“Tunggu sebentar.”


Wira keluar dari kamar dan tak lama kemudian ia kembali bersama dengan seorang suster yang membawa kursi roda.


“Kamu naik kursi roda sambil gedong Alifa,” kata Wira.


Haifa duduk di atas kursi roda.


“Tante , biar Wira yang bawakan tasnya,” kata Wira kepada Ibu Euis.


“Jangan! Tasnya berat, loh,” tolak Ibu Euis.


“Nggak apa-apa, Tante.”


Wira mengambil tas travel yang dipegang oleh ibu Euis.

__ADS_1


“Sudah siap semuanya, Pak?” tanya suster.


“Sudah, Sus,” jawab Wira.


Suster mendorong kursi roda keluar dari kamar inap. Wira dan Ibu Euis mengikutinya dari belakang.


Ketika sampai di depan lobby Pak Tono sudah menunggu, beserta mobil yang sudah siap berada di depan lobby rumah sakit. Pak Tono membukakan pintu untuk Haifa.


“Terima kasih suster,” ucap Haifa ketika turun dari kursi roda.


“Sama-sama, Bu,” jawab suster.


Lalu suster membawa kembali kursi rodanya.


Haifa dan Ibu Euis langsung masuk ke dalam mobil. Sedangkan Wira memasukkan barang-barang ke dalam bagasi. Setelah itu Wira menghampiri Haifa.


“Saya tidak mengantarkan kamu pulang. Saya harus langsung ke kantor,” kata Wira.


“Tidak apa-apa, Mas. Terima kasih, Haifa sudah merepotkan Mas Wira,” kata Haifa.


“Sama-sama, Haifa,” balas Wira.


“Dadah Alifa. Om kerja dulu, ya. Assalamualaikum,” ucap Wira.sambil melambaikan tangan ke Alifa.


“Waalaikumsalam,” jawab Haifa.


Wira langsung menutup pintu mobil dan mobilpun bergerak meninggalkan rumah sakit. Wira menarik nafas lega, kemudian ia berjalan menuju ke tempar parkir.


“Pak di dalam ada tamu,” kata Rita.


“Siapa?” tanya Wira.


“Nona Cindy,” jawab Rita.


Wira menghela nafas.


“Kenapa kamu ijinkan dia masuk ke ruangan saya? Apa kamu tidak tau kalau di ruangan saya banyak dokumen penting?” tanya Wira dengan kesal.


“Maafkan saya, Pak. Nona Cindy bilang kalau ia adalah calon istri Pak Wira,” jawab Cindy.


“Dia bukan calon istri saya! Sekali lagi kamu ijinkan dia masuk ke ruangan saya, kamu saya pecat!” seru Wira dengan marah.


“Dan satu lagi. Jika ada perempuan lain yang mencari saya yang mengaku pacar saya atau tunangan saya atau calon istri saya jangan kamu kasih masuk ke ruangan saya. Mengerti kamu!” seru Wira dengan kesal.


“Baik, Pak,” jawab Rita.


Wira membuka pintu ruangannya kemudian masuk ke ruangan kerjanya. Ia melihat  Cindy sedang duduk di kursi sofa dengan menggunakan pakaian sangat seksi.

__ADS_1


“Sedang apa kamu di sini?” tanya Wira ketika masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Cindy langsung menghampiri Wira.


“Wira, sayang. Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sudah kembali ke Indonesia?” tanya Cindy dengan gayanya yang manja.


Wira langsung duduk di kursi kerjanya.


“Kamu tau darimana kalau saya pulang ke Indonesia?” tanya Wira dengan ketus.


“Dari status medsosnya Wina,” jawab Cindy sambil mendekati Wira.


Wina.....awas kamu, ya! seru Wira dalam hati.


“Terus ada perlu apa kamu di sini?” tanya Wira.


“Mau nemenin kamu kerja,” jawab Cindy sambil duduk di pinggir meja dan mengangkat saku kakinya kemudian bertumpu pada kakinya yang lain sehingga terlihat pahanya yang putih mulus.


“Duduk yang benar! Ini kantor bukan pub,” seru Wira.


“Ayolah sayang kita bisa bersenang-senang di sini. Misalkan kita bisa ma-ke lo-ve di meja ini,” kata Cindy sambil berpose yang menantang.


Wira menghela nafas. Kemudian ia menghubungi Rita melalui intercom.


“Rita, tolong kamu usir perempuan ini! Kamu yang mengijinkan dia masuk, kamu juga yang harus mengusirnya keluar! Kalau tidak, kamu akan saya pecat!” seru Wira.


“Jangan begitu dong, sayang,” kata Cindy sambil mendekati Wira.


Tiba-tiba pintu kerja Wira terbuka. Rita langsung masuk ke dalam ruangan Wira dan menghampiri Cindy.


“Nona, tolong keluar dari ruangan Pak Wira! Nanti saya dipecat Pak Wira,” ujar Rita sambil menarik tangan Cindy.


“Tidak mau! Aku mau di sini menemani calon suamiku,” kata Cindy.


“Jangan begitu, Nona. Nanti Pak Wira marah sama saya,” ujar Rita sambil terus menarik tangan Cindy.


“Wira, kamu tega padaku! Setelah menikmati tubuhku, kamu campakkan aku dengan seenaknya,” seru Cindy dengan marah.


Wira mendekati Cindy.


“Sekali lagi kamu bikin onar di sini, akan aku buat kamu menyesal telah mendekati Wira Hutama!” seru Wira dengan tatapan tajam.


Cindy mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Ia langsung balik badan dan mengambil tasnya yang tergeletak di kursii sofa lalu keluar dari ruangan Wira sambil membanting pintu.


Akhirnya Rita bernafas lega.


“Ingat Rita, hal seperti ini jangan sampai terjadi lagi!” kata Wira.

__ADS_1


“Iya, Pak,” jawab Rita lalu keluar dari ruangan Wira.


Wira membantingkan diri ke kursi kerjanya dan bernafas dengan lega.


__ADS_2