
Satu Bulan Kemudian.
Bangkok, Thailand.
Malam ini Wira tidak bisa tidur mengingat perkataan Wisnu. Sudah satu bulan ini perkataan Wisnu dimalam itu terus saja mengiang di telinga Wira. Wira memutuskan untuk keluar mencari angin segar. Sampailah ia ke sebuah pub yang berada di ruang terbuka di sebuah gedung. Wira menikmati minumannya dan sebatang rokok di temani alunan dengan musik. Pandangannya tak lepas pada pemandangan kota Bangkok di malam hari.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.
“Hei bos, sudah lama nggak pernah ke sini. Kemana saja?” Sapa Roni, teman nongkrong bareng di pub itu.
“Sibuk dengan pekerjaan,” jawab Wira sambil menghisap rokoknya.
“Gue dengar akhir-akhir ini elo sering mundar-mandir ke Indonesia. Ngapain aja?” Tanya Roni.
“Kakak gue nikah, jadi gue mesti menghadiri pernikahannya. Kalau gue nggak datang nyokap gue bakalan cerewet,” jawab Wira.
“Kakak luh sudah nikah, terus kapan luh nikah?” Tanya Roni.
“Tau ah, pusing kepala gue,” jawab wira.
“Pusing kenapa? Di suruh nikah juga sama nyokap luh?” Tanya Roni.
“Bukan. Kakak gue nitipin istri dan anaknya ke gue,” jawab Wira.
“Hah? Emang kakak luh mau kemana?” Tanya Roni bingung.
“Gue nggak tau. Gue aja bingung,” jawab Wira sambil memijat kepalanya yang pening.
Tiba-tiba….
“Eh bos, cewek tuh.” Roni menunjuk ke seorang perempuan dengan dagunya.
__ADS_1
“Dia dari tadi ngelihatin elo terus,” kata Roni.
Wira menoleh ke arah perempuan yang ditunjuk oleh Roni.
“Cantik bos, body nya yahud. Sesuai dengan selera luh,”kata Roni.
“Nggak ah gue lagi pusing,” tolak Wira.
“Tumben. Biasanya kalau elo pusing suka main cewek,” kata Roni.
“Gue lagi nggak mood,” ujar Wira.
“Eh…tuh cewek jalan kemari,” kata Roni.
Wira menoleh, ternyata perempuan yang dimaksud sedang menghampirinya.
“Hai…,” sapa perempuan itu.
(Kita pakai bahasa Indonesia saja, ya. Kalau pakai bahasa Inggris cape harus di translate ke Bahasa Indonesia. Jadi nambah kerjaan).
“Boleh gabung, nggak?” Tanya perempuan itu.
“Boleh,” jawab Roni.
“Kenalkan nama saya Isabella.” Isabella mengulurkan tangannya ke Wira.
“Wira,” kata Wira sambil menyalami tangan Isabella.
“Saya Roni.” Roni menyalami tangan Isabella.
Isabelle mencoba mendekati Wira, namun tiba-tiba ponsel Wira bergetar. Wira merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Sebuah pesan dari Wisnu.
__ADS_1
Isabella terus berusaha mendekatkan badannya ke Wira. Namun Wira acuh saja, ia fokus pada pesan yang dikirim oleh Wisnu.
“Wira, pulanglah! Mas titip Mamah, Papah, Wina serta Haifa dan anak yang dikandungnya.”
Setelah membaca pesan, Wira langsung menghubungi Wisnu. Namun ponsel Wisnu tidak dapat dihubungi.
Wira merasa cemas, ia takut terjadi apa-apa pada Wisnu.
“Sorry, gue mesti pulang sekarang.”
Wira mengambil uang dari dompetnya lalu ia taruh di atas meja kemudian ia pergi meninggalkan Roni dan Isabella begitu saja.
“Eh, Wira mau kemana, luh?” panggil Roni.
Wira hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang.
*****
Jakarta.
Setelah mengirim pesan kepada Wira, Wisnu langsung tidur sambil memeluk Haifa. Dibelainya rambut Haifa dengan lembut sambil mengecup kening Haifa.
Kemudian Wisnu beralih pada perut Haifa yang sudah membesar. Dari tadi bayi di dalam kandungan Haifa tidak bisa diam. Ia terus saja bergerak seolah ia senang ketika Papahnya memeluk Mamahnya.
Wisnu mengusap perut Haifa dengan penuh kasih sayang.
“Ade, Ade jangan nakal, ya! Harus nurut sama Mamah dan jaga Mamah baik-baik. Papah sayang Ade dan Mamah.”
Wisnu mengecup perut istrinya, tiba-tiba sebuah tendangan mendarat di bibir Wisnu. Wisnu terkekeh dengan ulah anaknya. Wisnu mengusap kembali perut istrinya. Setelah itu Wisnu kembali berbaring sambil memeluk istrinya dan menyusul ke alam mimpi.
.
__ADS_1
.
Mulai hari ini up sehari sekali dan tidak bisa banyak. Mata Deche perih kalau lihat laptop terlalu lama. Ditambah kurang tidur selama bulan Ramadhan. Mohon pengertiannya 🙏