Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
23. Berpisah Untuk Sementara


__ADS_3

Hari terus berlalu tak terasa hari pernikahan Haifa dan Wisnu sudah dekat. Hari ini Bi Nani dan beberapa orang ART ditugaskan oleh Ibu Deswita untuk membersihkan apartment Wisnu. Haifa hendak ikut membantu Bi Nani namun dilarang oleh Ibu Deswita.


Haifa dilarang untuk mengerjakan apa-apa oleh Ibu Deswita. Bahkan memasak dan mengantar makanan ke kantorpun untuk sementara ini dilarang oleh Ibu Deswita.. Haifa hanya boleh duduk manis sambil melakukan perawatan. Hal ini benar-benar membuat Haifa menjadi bosan. Apalagi Wisnu masih masuk ke kantor. H minus tiga baru Wisnu mengambil cuti. Haifa hanya ditemani ponsel dan televisi. Malam harinya Haifa mengeluhkan hal ini kepada Wisnu.


“Mas, Haifa sekarang dilarang Mamah untuk melakukan pekerjaan apapun,” kata Haifa ketika meeka sedang duduk-duduk di teras belakang rumah.


(Ibu Deswita menyuruh Haifa untuk memanggilnya Mamah).


“Bagus, dong. Kamu jadi bisa santai,” kata Wisnu.


“Tapi Mas, itu bukan kebiasaan Haifa,” kata Haifa.


Wisnu menghela nafas.


“Masksud Mamah baik. Mamah tidak ingin kamu kecapean, takutnya nanti kamu jatuh sakit,” kata Wisnu dengan sabar.


“Tapi kan Haifa bosan, Mas,” protes Haifa.


“Nanti juga kamu tidak akan bosan. Besok Pak Tono akan menjemput Mamah, Bapak dan Dodi,” kata Wisnu.


Mata Haifa langsung berbinar, mendengar besok keluarganya akan datang. Berarti mulai besok malam Haifa menginap di apartment Wisnu. Ia akan bebas melakukan apa saja di sana tanpa ada yang melarang.


“Asyik besok nginap di apartment,” ujar Haifa dengan gembira.


“Kamu seneng, ya? Jauh dari saya?” Tanya Wisnu dengan wajah yang pura-pura cemberut.


“Bukan Haifa senang karena jauh dari Mas Wisnu. Tapi Haifa senang karena bisa bebas melakukan apa saja, tanpa dilarang oleh Mamah Deswita,” jawab Haifa.


“Tapi kamu nggak boleh berenang. Nanti kulitmu hitam karena terbakar sinar matahari,” kata Wisnu.


Wajah Haifa langsung cemberut.


“Ini nggak boleh, itu nggak boleh. Bolehnya apa dong?” Gerutu Haifa.


Wisnu menahan senyumnya melihat Haifa yang cemberut.


“Kamu bolehnya cuma perawatan kulit,” jawab Wisnu.


Haifa langsung menoleh ke arah Wisnu.


“Mas, kulit Haifa sensitive. Kalau terus-terusan dilulur atau discrup bukannya kinclong malah jadi gatal-gatal  timbul ruam-ruam merah,” kata Haifa.


“Mas mau pas di hari pernikahan kita, Haifa garuk-garuk terus menerus?” Kata Haifa dengan kesal.


“Kamu kan bisa bilang ke mereka jangan dilulur atau discrub,” kata Wisnu.


“Sudah Haifa bilang ke beauty therapist, tapi mereka malah menjawab nggak akan menimbulkan efek sampingan, Mbak.  Scrubnya ringan, hanya mengangkat sel kulit mati,” kata Haifa yang meniru perkataan petugas spa.


“Kalau Mas tidak percaya. Nih lihat.” Dengan spontan Haifa menyibakkan kerudung yang menutupi dadanya.


Wisnu langsung melotot melihat apa yang akan dilakukkan Haifa. Untung dada Haifa tertutup kaos sehingga tidak terlihat oleh Wisnu.


“HAIFA!!!” Bentak Wisnu dengan spontan sambil matanya melotot.


Haifa langsung berhenti tidak melanjutkan.


“Maaf, Mas. Haifa lupa,” kata Haifa.


“Kalau di tangan ada, nggak?” Tanya Wisnu.

__ADS_1


“Ada, Mas.” Haifa menyingsikan lengan bajunya dan memperlihatkan kepada Wisnu.


Wisnu melihat ada garis-garis merah bekas garukan tangan.


“Ini gatel?” Tanya Wisnu.


Haifa menjawabnya dengan mengangguk.


Wisnu menghela nafas.


“Besok kamu ke dokter kulit diantar sama Mamah!” Kata Wisnu.


“Nggak usah, Mas! Nanti Mamah marah,” kata Haifa.


“Mamah harus tahu hal ini. Jadi tidak memaksakanmu untuk perawatan kulit lagi,” kata Wisnu.


“Tunggu sebentar.” Wisnu beranjak masuk ke dalam rumah.


Haifa menghela nafas. Sebetulnya tidak ingin mengadukan hal ini kepada Wisnu. Namun ia takut kalau harus melakukan perawatan lagi. Apalagi beauty therapistnya mengatakan masih ada serangkaian perawatan kecantikan sebelum hari pernikahan.


Tak lama kemudian Wisnu kembali dengan Ibu Deswita.


“Coba Mamah lihat,” kata Ibu Deswita.


Haifa memperlihatkan tangannya yang gatal-gatal. Ibu Deswita langsung menghela nafas ketika melihat bekas garukan di tangan Haifa.


“Di dada ada juga?” Tanya Ibu Deswita.


Haifa menjawab dengan mengangguk.


“Sini Mamah lihat.” Ibu Deswita membawa Haifa menjauh dari Wisnu lalu menyuruh Haifa membuka kerudung dan kaos yang di bagian dadanya. Di dada Haifa nampak ruam-ruam merah serta bekas garukan.


“Seluruh badan gatal, Mah. Tapi udah berkurang,” jawab Haifa.


“Tetap saja kamu harus ke dokter kulit!” kata Ibu Deswita.


“Besok kita ke dokter kulit sebelum ke tempat catering,” kata Ibu Deswita.


Besok Haifa ada jadwal untuk mencicipi menu untuk resepsi pernikahannya.


“Iya, Mah,” jawab Haifa.


“Besok Mamah akan complain pada salonnya,” kata Ibu Deswita.


“Biar Wisnu saja yang complain, jangan Mamah yang complain,” kata Wisnu.


Wisnu takut kalau Mamahnya yang complain pasti akan memarahi habis-habisan salon kecantikan itu.


“Ya sudah, kamu saja yang complain,” kata Ibu Deswita.


“Haifa sudah malam, saatnya kamu harus tidur,” kata Ibu Deswita kepada Haifa.


“Iya, Mah,” jawab Haifa.


Ibu Deswita pun kembali ke kamarnya meninggalkan Haifa berdua dengan Wisnu.


“Mas, sudah malam. Haifa tidur duluan, ya,” kata Haifa.


“Iya, Mas juga mau tidur,” kata Wisnu.

__ADS_1


Lalu mereka pun menuju ke kamar mereka masing-masing.


****


Pagi-pagi sekali Pak Tono sudah pergi ke Sumedang untuk menjemput orang tua Haifa. Haifa tidak ikut ke Sumedang selain tidak boleh oleh Ibu Deswita, ia juga harus ke dokter kulit dan harus pergi ke tempat catering untuk mencicipi makanan.


Semua para ART sibuk mempersiapkan untuk menyambut kedatangan orang tua Haifa. Namun Haifa pergi bersama dengan Ibu Deswita dari pagi hingga sore hari.


Tepat pada saat adzan magrib berkumandang, mobil APV Premium  yang dikendarai oleh Pak Tono memasuki halaman rumah keluarga Broto.


“Assalamualaikum,” ucap Pak Yayat ketika memasuki rumah Pak Broto.


“Waalaikumsalam,” jawab semua orang yang berada di ruang keluarga.


Rupanya Pak Yayat masuk melalui garasi yang langsung menunju ke ruang keluarga.


Haifa langsung menghampiri Bapaknya dan mencium tangannya. Haifa mencium tangan Mamahnya kemudian memeluk Mamahnya.


“Apa kabarnya, Haifa?” Tanya Ibu Euis.


“Baik, Mah,” jawab Haifa.


Haifa menyodorkan tangannya ke Dodi dan Dodi langsung mencium tangan Haifa. Rupanya ada Bi Ros dan keluarganya. Haifa mencium tangan Bi Ros dan Mang Tedi. Tak lupa Haifa mengusap kepala kedua sepupunya Arif dan Alit.


Kedatangan keluarga Haifa di sambut oleh Pak Broto dan keluarga. Berhubung sudah waktunya sholat magrib, Pak Broto mengajak sholat magrib bersama di musholah. Mereka sholat berjamaah dan Pak Yayat yang menjadi imamnya. Setelah selesai sholat magrib Pak Broto berbincang-bincang dengan tamunya sambil menunggu makan malam siap dihidangkan.


“Pak Bu, makan malamnya sudah siap,” kata Bi Nani.


‘Oh…iya. Terima kasih Bi Nani,” ucap Pak Broto.


“Ayo semuanya kita makan dulu,” ajak Pak Broto kepada semua tamunya.


“Kami jadi merepotkan Pak Broto dan Ibu Deswita,” kata Pak Yayat.


“Kami tidak merasa direpotkan. Kami malah senang karena kedatangan tamu dari jauh,” kata Pak Broto.


Haifa terharu melihat perlakuan Pak Broto dan Ibu Deswita kepada keluarganya. Pak Broto dan Ibu Deswita menerima dengan baik keluarga Haifa. Mereka tidak merasa malu memiliki calon besan orang kampung.


Setelah selesai makan malam keluarga Haifa pamit untuk pulang ke apartment Wisnu. Haifa pun ikut bersama orang tuanya, karena Haifa akan dipingit tidak boleh bertemu dengan Wisnu sampai hari pernikahan mereka.


“Haifa ikut sama Bapak dan Mamah ya, Mas,” kata Haifa sebelum masuk ke dalam mobil.


“Jaga diri baik-baik,” kata Wisnu.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


“Assalamualaikum,” ucap Haifa.


“Waalaikumsalam,” jawab Wisnu.


Haifa pun masuk ke dalam mobil dan pintu mobilpun langsung tertutup.


Dari dalam mobil Haifa melambaikan tangannya ke Wisnu. Wisnu memperhatikan mobil APV Premium yang membawa Haifa hingga tidak terlihat lagi.


Pak Broto  menepuk bahu Wisnu.


“Sudah. Nanti juga bertemu lagi pas waktunya akad nikah,” kata Pak Broto.


“Iya, Pah,” jawab Wisnu.

__ADS_1


Memang berat rasanya Wisnu jauh dari Haifa. Karena dia sudah terbiasa setiap hari bersama dengan Haifa.


__ADS_2