Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
47. Masih Di Café Selera Kita.


__ADS_3

Ekky berjalan mengelilingi café mencari Wina. Akhirnya ia menemukan Wina. Ekky menghampiri Wina.


“Wina, yang namanya Haifa yang mana?” tanya Ekky.


Maklumi saja sewaktu Wisnu meninggal tugas Ekky adalah menyiapkan makanan untuk keluarga setelah pulang dari makam, sehingga Ekky tidak terlalu memperhatikan yang mana istri Wisnu.


“Ini.”


Wina menunjuk ke Haifa.


“Mbak Haifa, nanti jangan pulang dulu. Ke kantor dulu ada titipan dari Pak Wira,” kata Ekky.


“Titipan apa, Mas?” tanya Haifa bingung.


“Nanti saja di kantor,” jawab Ekky.


“Apa Mas yang bernama Ekky?” tanya Haifa.


“Iya, saya Ekky,” jawab Ekky.


“iya, nanti saya mampir ke kantor,” kata Haifa.


“Terima kasih, Mbak. Silahkan dilanjutkan lagi makannya,” kata Ekky.


Ekkypun  meninggalkan meja Haifa. Haifa melanjutkan makannya.


Ternyata masakan di café cukup enak. Nasi uduknya, ayam gorengnya dan sambelnya benar-benar enak. Wira benar-benar tidak main-main dalam mendirikan café.


“Mbak, Mas Wira pintar mencari kokinya,” kata Haifa.


“Resep dari Mas Wira, koki tinggal mengikuti resep dari Mas Wira,” kata Wina.


“Resep? Memangnya Mas Wira bisa masak?” tanya Haifa penasaran.


“Bisa. Masakan Mas Wira enak, loh,” kata Wina sambil mengacungkan jempol.


“Nanti kalau Mas Wira pulang, suruh Mas Wira masak. Kamu pasti ketagihan,” kata Wina.


“Nggak berani, Mbak. Malu ah ngomongnya,” kata Haifa.


“Nggak apa-apa. Tinggal bilang aja. Nanti pasti dimasakin,” ujar Wina.


“Nanti Haifa coba,” kata Haifa.


Haifa pun melanjutkan makannya. Setelah selesai makan Haifa langsung membayar semua pesanan mereka. Ketika Haifa hendak membayar Fahri langsung menyodorkan kartu kreditnya kepada Kasir.


“Pakai ini, Mbak,” kata Fahri kepada Kasir.


“Eh…nggak usah! Biar saya yang bayar,” kata Haifa.


Haifa mengeluarkan uang dari dompetnya, namun dengan cepat Fahri memberikan kartu kredit kepada Kasir. Kasir mengambil kartu kredit yang diberikan oleh Fahri dan langsung memprosesnya.


“Mbak, kenapa diterima kartunya? Saya bayar pakai uang cash,” protes Haifa.


“Nggak apa-apa. Sekali-kali saya bayarin,” kata Fahri.


Haifa menghela nafas.


“Terima kasih, ya,” ucap Haifa.


“Sama-sama,” jawab Fahri.


Haifa kembali ke meja.


“Mbak Wina, Haifa ke kantor Mas Ekky dulu, ya,” kata Haifa.


“Iya,” kata Wina.


“Eh…bisa sendiri kan?” tanya Wina.


“Bisa, Mbak,” jawab Haifa.


“Ya sudah. Wina tunggu di sini,” kata Wina.


“Iya, Mbak.”


Haifa berjalan menuju ke kantor café. Di depan kantor tertulis MANAGER. Haifa langsung mengetuk pintu.


Tok…


Tok…


Tok….


Ekky membuka pintunya.


“Oh…Mbak Haifa. Silahkan masuk, Mbak,” kata Ekky.


Haifa masuk ke dalam ruangan Ekky.


“Silahkan duduk, Mbak,” kata Ekky.

__ADS_1


Haifa duduk di kursi sofa yang berada di ruangan itu.


“Sebentar, Mbak.”


Ekky mengambil amplop coklat dari laci meja kerjanya lalu diberikan ke Haifa.


“Ini uang titipan dari Pak Wira. Jumlahnya sebesar lima belas juta rupiah. Coba Mbak hitung dulu,” kata Ekky.


“Banyak sekali,” kata Haifa.


“Pak Wira menyuruhnya begitu,” jawab Ekky.


Haifa tidak menghitung uang itu melainkan menelepon Wira.


“Assalamualaikum, Mas,” ucap Haifa.


“Waalaikumsalam,” jawab Wira.


“Mas, Mas kasih uangnya kebanyakan. Untuk apa uang sebanyak itu?” protes Haifa.


“Segitu tidak banyak. Pak Tono kan harus digaji. Baby harus sering diperiksa oleh dokter kandungan. Kamu harus minum susu ibu hamil dan vitamin. Mobil harus diservice dan diisi bensinnya. Belum untuk jajan Mamahnya Baby.”


Wira menyebutkan satu persatu.


“Tetap saja kebanyakan, Mas. Saya masih punya simpanan dari Mas Wisnu,” kata Haifa.


“Uang peninggalan Mas Wisnu disimpan saja. Mungkin sewaktu-waktu kamu akan membutuhkannya,” kata Wira.


Haifa menghela nafas.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


“Aku minta nomor  rekening Om Yayat,” kata Wira.


“Nggak usah, Mas. Uang untuk Dodi dari sini saja,” ujar Haifa.


“Jangan, dong. Uang untuk Dodi beda lagi,” kata Wira.


“Haifa tidak akan kasih nomor  rekening Bapak,” kata Haifa.


“Ya sudah. Nanti Aku akan telepon Om Yayat langsung,” kata Wira.


“Eh…Mas punya telepon Bapak?” tanya Haifa kaget.


“Punya, dong,” jawab Wira.


“Dari mana?” tanya Haifa dengan penuh sidik.


“Dari Dodi,” jawab Wira.


“Terserah Mas Wira, aja,” kata Haifa.


“Nah gitu, dong. Sekarang terima uang yang diberikan Ekky. Oke!” kata Wira.


“Udah dulu, ya. Aku masih banyak pekerjaan. Assalamualaikum,” ucap Wira.


“Eh…Mas Wira,” panggil Haifa.


“Ya,” jawab Wira.


“Terima kasih atas kebaikan Mas Wira,” ucap Haifa.


“Sama-sama, Haifa,” jawab Wira.


“Sudah, ya. Assalamualaikum,” ucap Wira.


“Waalaikumsalam,” balas Haifa.


Haifapun mematikan ponselnya.


“Bagaimana, Mbak?” tanya Ekky.


“Saya terima,” jawab Haifa.


“Dihitung dulu, Mbak,” kata Ekky.


Haifa mengambil amplop coklat yang berada di atas meja kemudian menghitung jumlahnya.


“Uangnya pas,” kata Haifa.


Ekky menaruh buku besar yang tebal di depan Haifa.


“Mbak, tolong tanda tangan di sini.”


Ekky menunjuk kolom yang harus di tanda tangani.


“Ini untuk apa?” tanya Haifa curiga.


“Ini bukti kalau Pak Wira sudah mengambil sebagian uangnya bulan ini,” jawab Ekky.


“Siapa yang biasa mengambil uang untuk Pak Wira?” tanya Haifa.

__ADS_1


“Tidak ada, Mbak. Pak Wira mengambilnya kalau sedang pulang ke Indonesia,” jawab Ekky.


“Oh…begitu,” ujar Haifa.


Haifa menanda tangani buku itu.


“Kalau begitu saya pamit dulu. Terima kasih, Mas Ekky,” ucap Haifa.


“Sama-sama, Mbak,” balas Ekky.


Haifa keluar dari ruangan Ekky dan kembali ke tempat duduknya.


“Lama sekali,” kata Wina.


“Telepon Mas Wira dulu,” jawab Haifa.


“Sudah makannya? Ayo kita pulang,” ajak Haifa.


Merekapun beranjak meninggalkan café.


****


Dodi, Arif dan Alit menghampiri Bi Nani yang sedang sibuk menyiapkan kue untuk pengajian nanti malam.


“Ua Nani, Mas Wira kemana? Kok nggak kelihatan?” tanya Arif.


Bi Nani menoleh ke Arif.


“Mau ngapain cari Mas Wira?” tanya Bi Nani sambil meneruskan pekerjaannya.


“Mau nagih janji ke Mas Wira. Mas Wira pernah janji mau mengajak kita ke cafenya Mas Wira,” jawab Arif.


“Ngajak ke café kok sekarang? Kan nanti malam mau ada pengajian,” kata Bi Nani.


“Masih ada waktu, Ua,” sahut Alif.


Bi Nani menghela nafas.


“Mas Wiranya lagi kerja. Tempat kerjanya jauh di Bangkok Thailand,” kata Bi Nani.


“Yah….gagal dong kita makan-makan di café,” ujar Arif.


“Kalau mau ke café minta sama Mbak Wina, tuh.”


Bi Nani menunjuk ke Wina yang baru datang bersama dengan Haifa.


“Ada apa?” tanya Wina.


“Ini anak-anak mencari Den Wira. Katanya mau nagih janji ke Mas Wira,” jawab Bi Nani.


“Janji apa?” tanya Wina.


“Janji mau ngajak makan di cafenya Den Wira,” jawab Bi Nani.


“Tadi Mbak Wina dan Teteh Haifa baru pulang dari café Mas Wira,” kata Wina.


“Yah….kita kok nggak diajak sih?” Dodi protes.


“Pulang dari makam langsung ke sana,” jawab Haifa.


“Kita telat datangnya,” ujar Dody kepada Arif dan Alit.


“Kalian beli ayam kerawuk aja. Minta diantar Pak Tono.”


Haifa memberi uang kepada Dodi.


“Asyik…” ujar Dodi ketika diberi uang.


“Jangan makan di sana, ya! Makannya di rumah aja,” kata Haifa.


“Iya, Teh,” jawab Dodi.


Dodi dan sepupu-sepupunya keluar rumah melalui garasi.


“Mamah dimana, Bi?” tanya Haifa.


“Sepertinya sama Bapak di kamar,” jawab Bi Nani.


“Mbak, Haifa ke kamar dulu, ya,” kata Haifa.


“Bareng ke kamarnya. Mbak juga mau ke kamar,” ujar Wina.


Haifa dan Wina menaiki tangga menuju ke kamar mereka.


.


.


Kta suami Deche, dilarang hutang budi dengan laki-laki!


Bahkan anak Deche yang perempuan tidak boleh minta dijemput ataupun diantar oleh teman laki-laki nya.

__ADS_1


Yang boleh menjemput dan mengantarnya hanya bapak, ibu dan adiknya.


Ngak tau kenapa. Mungkin laki-laki feelingnya beda.


__ADS_2