
Pernikahan Wira dan Haifa berlangsung secara meriah. Rekan-rekan bisnis Pa Broto dan Wira hadir di pesta pernikahan Wira dan Haifa. Termasuk Pak Darmawangsa rekan bisnis Pak Broto juga hadir juga di pesta tersebut.
“Wira, kenapa seleramu sama dengan kakakmu? Apa kamu tidak tertarik pada putriku?” tanya Pak Darmawangsa kepada Wira.
“Kami ini sama-sama tertarik dengan wanita cantik, Om,” jawab Wira.
“Putri Om masih muda dan masih kuliah. Belum waktunya untuk menikah,” kata Wira.
“Diapun masih muda,” kata Pak Darmawangsa sambil menunjuk ke Haifa.
Wira menoleh ke Haifa sambil tersenyum.
“Memang istri saya masih muda. Tapi dia sudah siap untuk menjadi seorang istri dan seorang ibu,” jawab Wira.
“Putrikiu juga sudah siap menjadi seorang istri dan seorang ibu,” sanggah Pak Darmawangsa.
“Ah…. sudahlah. Memang putra-putra Pak Broto tertarik dengan wanita yang sama,” kata Pak Darmawangsa.
“Hei, Pak Broto! Apa kau tidak bosan menantu perempuanmu cuma itu-itu saja?” tanya Pak Darmawangsa kepada Pak Broto.
“Ya tidak, Pak Darmawangsa. Malah saya takut kalau menantu saya ini jadi menantu di keluarga yang lain,” jawab Pak Broto.
“Wah…wah….sepertinya menantumu sangat special sekali,” puji Pak Darmawangsa.
Lalu Pak Darmawangsa memanggil seorang yang sedang berdiri di dekat pelaminan. Seorang pemuda menghampiri Pak Darmawangsa. Dan wajah pemuda itu tidak asing bagi keluarga Broto.
“Kenalkan ini putraku, Fahri. Dia baru pulang dari Amerika.”
Semua orang terkejut melihat Fahri. Fahri menyalami semua orang satu persatu. Termasuk Wira dan Haifa. Fahri mencuri-curi pandang ke Haifa.
“Dia cepat-cepat menyelesaikan strata dua hanya untuk meminang pujaan hatinya. Tapi begitu ditanya mana perempuannya? Kenapa tidak dibawa ke sini? Dia malah diam saja,” kata Pak Darmawangsa.
Wira menatap tajam ke Fahri.
“Jadi Fahri adalah putramu? Dia pernah datang ke rumah saya. Dia temannya Wina,” kata Pak Broto.
“Kalau begitu, kita jodohhkan saja mereka,” kata Pak Darmawangsa.
“Papah! Fahri dan Wina hanya teman biasa,” sela Fahri.
“Sepertinya Fahri sudah memiliki tambatan hatinya sendiri. Jadi kita jangan memaksa menjodohkan mereka,” kata Pak Broto.
Pak Broto tau Fahri tidak tertarik kepada Wina. Yang Fahri sukai adalah Haifa menantunya.
“Benar juga,” kata Pak Darmawangsa.
“Pokoknya selamat untuk kalian berdua,” kata Pak Darmawangsa.
Pak Darmawangsa dan Fahri berlalu dari hadapan Wira dan Haifa. Wira pun bernapas lega.
Rombongan tetangga Pak Yayat datang memberikan selamat.
__ADS_1
“Neng Haifa, Papah barunya Alifa meni kasep pisan. Neng Haifa pinter cari suami,” kata Bu Suryaman ketika menyalami Haifa.
Haifa hanya tersenyum mendengarkan perkataan Ibu Suryaman. Diantara deretan panjang rombongann tetangga ada Syaiful yang berada di diurutan terakhir rombongan.
“Selamat ya, Pak Wira. Tolong jaga Haifa baik-baik. Kalau Bapak menyia-nyiakan Haifa, saya akan merebut Haifa dari Bapak,” kata Syaiful.
Mendengar perkataan Syaiful, Wira langsung tersulut emosi.
“Coba saja kalau berani,” jawab Wira sambil menatap tajam ke arah Syaiful.
“Mas! Sudahlah,” kata Haifa sambil mengusap-usap punggung Wira, agar Wira tidak emosi.
“Teman kamu ini berani sekali,” kata Wira.
Kemudian Syaiful menyalami Haifa. Namun Haifa menjaga agar tangannya tidak bersentuhan dengan tangan Syaiful.
“Selamat ya, Haifa. Semoga kalian bahagia,” ucap Syaiful.
“Terima kasih, A,” jawab Haifa.
Kemudian Syaiful pun berlalu dari hadapan Wira dan Haifa.
Hadir juga teman-teman Wira.
“Selamat ya, Wir. Akhirnya buaya darat insap juga,” ucap Bagas.
“Iya, dong. Terima kasih sudah datang,” jawab Wira.
“Selamat ya, Wir. Bini lu cantik banget. Pinter lu carinya,” ucap Tora.
“Jaga baik-baik Mas Wiranya. Nanti dia kambuh lagi,” kata Romi kepada Haifa.
“Sialan lu, Romi,” kata Wira sambil ketawa.
Ekky juga datang untuk memberikan selamat.
“Ky, ngapain lu ke sini? Siapa yang ngurus café gue?” tanya Wira kepada Ekky.
“Mas!” seru Haifa sambil melotot ke Wira.
“Ini weekend, banyak pengunjung yang datang ke café,” kata Wira.
“Yah, Bos. Sekali-sekali ijin. Ini juga ijin untuk menghadiri pernikahan bos sendiri,” jawab Ekky.
Tiba-tiba terdengar suara Wina dari depan pelaminan.
“Ekky, cepetan jangan lama-lama,” teriak Wina.
“Iya, sebentar,” jawab Ekky.
“Mau ngapai lu sama adik gue?” tanya Wira curiga.
__ADS_1
“Wina minta tolong difoto,” jawab Ekky.
“Selamat ya, Bos. Semoga rumah tangganya sakinah, mawadah dan warohmah,” ucap Ekky.
“Aamin. Terima kasih, Ky,” jawab Wira.
“Bu Bos, selamat ya. Dijaga baik-baik Pak Bos nya, nanti ada yang merebut,” ucap Ekky kepada Haifa.
“Terima kasih, Pak Ekky,” jawab Haifa.
Setelah menyalami kedua mempelai Ekky cepat-cepat turun dari pelaminan. Di dekat tangga turun sudah ada Wina yang menunggu. Dengan cepat-cepat Wina meraih tangan Ekky dan menariknya agar Ekky mengikuti kemana Wina pergi.
Setelah acara resepsi selesai Wira dan Haifa kembali ke kamar mereka yaitu kamar khusus pengantin. Haifa duduk di depan meja rias sambil melepaskan acesoris yang menempel di kepalanya. Sedangkan Wira melepaskan suitnya dan langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi. Ketika keluar dari kamar mandi Wira sudah memakai celana pendek dan kaos dengan rambut yang masih basah.
“Mau sholat berjamaah, nggak?” tanya Wira sambil menggunakan sarung.
“Tolong lepasin jarum pentulnya, Mas. Banyak sekali jarum pentulnya,” jawab Haifa.
Wira langsung menghampiri Haifa dan mencabut jarum pentul yang menempel di kerudung Haifa. Akhirnya kerudung itupun bisa dilepas. Haifa langsung membuka ciputnya dan membuka ikatan rambutnya.
“Alhamdullilah. Akhirnya bisa dibuka juga,” ucap Haifa.
Namun tanpa Haifa sadari Wira dari tadi memperhatikan momen-momen istrinya membuka kerudung. Wira tidak berkedip ketika melihat istrinya sudah tidak memakai kerudung lagi dengan rambutnya tergerai di bahunya.
“Kamu cantik sekali,” puji Wira sambil memandangi istrinya yang sudah tidak menggunakan kerudung lagi.
Selama ini Haifa selalu menggunakan jilbab jika berada diluar kamarnya. Hanya saja sewaktu Haifa mengejar Wira yang hendak pergi ke Thailand, Haifa lupa memakai jilbabnya. Itupun rambutnya sedang diikat cepol.
Wira mencium kepala Haifa.
“Mas, jangan dicium-cium. Rambut Haifa bau keringat,” kata Haifa ketika melihat Wira mencium kepalanya.
“Tapi baunya enak,” kata Wira yang masih asyik mencium rambutnya Haifa.
“Mas, ASI nya sudah merembes,” kata Haifa.
Wira langsung berhenti mencium rambut Haifa.
“Mas bantu pompa,” kata Wira.
“Jangan, Mas. Pompanya nanti saja kalau Haifa sudah mandi,” kata Haifa.
Haifa bangkit dari duduknya dan mengambil baju dari dalam kopernya.
“Kalau begitu Mas bantu kamu mandi,” kata Wira sambil membuka sarungnya.
“Nggak usah. Haifa bisa sendiri,” jawab Haifa.
Haifa cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi dan langsung mengunci pintu kamar mandi. Wira mengetuk pintu kamar mandi.
“Kalau sudah mandi kasih tau Mas. Biar Mas bantu memompa ASI nya,” kata Wira dengan kencang.
__ADS_1
“Nggak,” jawab Haifa dari dalam kamar mandi.
Wira terkekeh mendengar jawaban Haifa.