
Ibu Deswita dan Ibu Euis menganga melihat ke layat televisi yang menggantung di tembok. Nampak gambar seorang bayi yang sedang bergerak di dalam perut ibunya.
“Nin, cucu kita sudah besar,” bisik Ibu Deswita.
“Iya, Uti. Sebentar lagi ia akan lahir,” bisik Ibu Euis.
“Udah Enin jangan pulang. Di sini saja sampai Haifa lahir,” bisik Ibu Deswita.
“Kasihan Aki kalau ditinggalkan terlalu lama,” bisik Ibu Euis.
“Biarkan saja, kalau kangen suruh ke sini. Nanti dijemput sama Pak Tono,” bisik Ibu Deswita.
“Jangan, ah. Malah jadi ngerepotin Pak Tono,” bisik Ibu Euis.
“Tidak ngerepotin. Pak Tono kerjanya hanya mengantar Wisnu. Sekarang Wisnu sudah nggak ada, paling kerja Pak Tono mengantar Haifa. Tapi Haifa jarang pergi kemana-mana,” bisik Ibu Deswita.
“Nanti dibicarakan dulu dengan Aki,” kata Ibu Euis.
Dug dug dug dug
Tiba-tiba terdengar suara detak jantung bayi.
“Detak jantungnya bagus, Bu,” kata Dokter Ella.
“Alhamdullilah,” ucap Haifa.
“Alhamdullilah, Ti. Cucu kita sehat,” ucap Ibu Euis.
“Alhamdullilah,” ucap Ibu Deswita.
Ibu Euis dan Ibu Deswita keluar dari kamar periksa dokter kandungan dengan wajah berseri. Haifa mengikuti kedua nenek itu dari belakang.
Ketika mereka keluar dari apotek, mereka menoleh ke kanan dan ke kiri mencari Wira.
“Wira kemana?” Tanya Ibu Deswita yang kebingungan mencari Wira.
“Haifa cari Mas Wira,” kata Haifa.
“Nggak usah! Mamah telepon saja,” kata Ibu Deswita sambil mengambil ponselnya di dalam tas.
Haifa melihat seseorang yang mirip dengan Wira. Orang itu sedang berbicara dengan security. Haifa mendekati orang tersebut. Ternyata orang itu adalah Wira.
“Mas Wira,” panggil Haifa.
Wira menengok ke belakang.
“Eh, sudah periksanya?” Tanya Wira.
“Sudah, Mas,” jawab Haifa.
Haifa langsung kembali ke Ibu Deswita dan Ibu Euis. Wira mengikuti Haifa dari belakang.
Melihat Haifa datang bersama Wira, Ibu Deswita tidak jadi menelepon Wira.
__ADS_1
“Kamu darimana saja, Wira?” Tanya Ibu Deswita.
“Ngobrol dengan security di dekat pos,” jawab Wira.
Lalu Wira berjalan menuju ke mobil dan diikuti dari belakang oleh Ibu Deswita, Ibu Euis dan Haifa. Mereka pun masuk ke dalam mobil. Kemudian mobil itupun meninggalkan apotik.
Wira menoleh ke samping Ibu Deswita sudah terlihat mengantuk. Kemudian Wira melihat ke belakang melalui rear-vision mirror Ibu Euis nampak sudah mengantuk. Sedangkan Haifa nampak asyik memperhatikan pedagang makanan kaki lima yang berjejer di jalan.
“Haifa, kamu ingin makan sesuatu?” Tanya Wira sambil fokus menyetir mobil.
Haifa menolek ke depan.
“Haifa mau makan sate padang. Tapi nggak mau dibungkus, mau makan langsung di tempatnya,” jawab Haifa.
“Oke, boleh. Tapi antarkan dulu Mamah dan Tante Euis pulang. Mereka sudah mengantuk,” kata Wira.
“Mas Wira nggak cape bolak-balik?” Tanya Haifa.
“Nggak. Aku sudah biasa,” jawab Wira.
Akhirnya mobil yang dikendarai Wira sampai di depan rumah keluarga Broto. Penjaga rumah membukakan pintu pagar dan mobilpun masuk.
“Pak, jangan ditutup dulu pintunya! Mau pergi lagi,” kata Wira kepada Penjaga rumah.
“Baik, Den,” jawab Penjaga rumah.
Wira menghentikan mobilnya di depan garasi.
“Mah, sudah sampai.” Wira membangunkan Mamahnya.
“Mah, Wira antar Haifa dulu. Haifa mau makan sate padang,” kata Wira.
“Iya, hati-hati di jalan,” kata Ibu Deswita.
Ibu Deswita dan Ibu Euis keluar dari mobil.
“Kamu mau duduk di depan atau di belakang?” Tanya Wira melihat Haifa masih duduk di belakang.
“Di belakang aja, deh. Males pindahnya,” jawab Haifa.
“Ya, nggak apa-apa.”
Wira memundurkan mobilnya keluar dari pekarangan rumah, lalu mobilpun meluncur di jalan.
Wira menyetir mobilnya sambil melihat ke deretan penjual makanan. Sampailah ia melihat tulisan sate padang di sebuah gerobak. Wira menghentikan mobilnya dan menoleh ke belakang.
“Kalau di sini, mau nggak?” Tanya Wira.
Haifa melihat ke gerobak sate padang.
“Mau, Mas,” jawab Haifa.
“Aku parlkir dulu mobilnya.”
__ADS_1
Wira memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
“Ayo kita turun,” kata Wira.
Haifa membuka pintunya, lalu turun dari mobil. Haifa menunggu Wira mengunci pintu mobil. Kemudian mereka bersama-sama menuju tenda penjual sate.
“Bang, sate padang dua porsi, ya!” kata Wira kepada Penjual sate.
“Duduk dulu, Mas!” kata Penjual Sate.
Ketika Haifa hendak duduk, tiba-tiba Wira mencegahnya.
“Tunggu dulu!”
Haifa tidak jadi duduk.
“Kenapa, Mas?” Tanya Haifa.
“Aku periksa dulu kursinya. Takut kamu jatuh pas waktu duduk,” kata Wira.
Wira memeriksa kursi itu lalu mencoba diduduki. Ternyata kursinya aman.
“Aman untuk di duduki,” kata Wira.
Kemudian Haifa pun duduk. Wira duduk di sebelah Haifa. Tak lama kemudian sate yang mereka pesanpun datang. Mata Haifa berbinar ketika melihat sate padang. Sepertinya Haifa sedang lapar.
“Bagaimana? Enak nggak?” Tanya Wira.
“Enak, Mas,” jawab Haifa sambil mengunyah satenya.
Haifa memakan sate sampai habis.
“Mau nambah lagi?” Tamya Wira.
‘Nggak ah. Sudah kenyang,” jawab Haifa.
Wira menghampiri penjual sate lalu membayar sate.
“Ayo, kita pulang,” kata Wira setelah membayar sate.
Haifa menghampiri Wira dan mereka pun jalan beriringan menuju mobil.
“Sekarang babynya sudah kenyang jadi bisa tidur dengan nyenyak,” kata Wira sambil menyalakan mesin mobil.
“Kalau kamu ngantuk tidur saja. Nanti Aku bangunkan kalau sudah sampai,” kata Wira.
“Iya, Mas.” Haifa pun memejamkan matanya.
Sebenarnya Haifa sudah mengantuk, namun karena ia ingin makan sate padang ia menahan rasa kantuknya.
.
.
__ADS_1
up nya sedikit aja, ya! Deche ngantuk berat.