Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
37. Tujuh Bulan Kemudian.


__ADS_3

Waktu terus berlalu, kehamilan Haifa sudah memasuki bulan ke tujuh. Ibu Deswita mengadakan pengajian syukuran tujuh bulan di rumahnya. Ibu Deswita mengundang anak yatim piatu  dan ibu-ibu pengajian di acara syukuran. Pak Yayat beserta keluarga juga hadir mengikuti syukuran ini. Wina dan Wira juga datang jauh-jauh dari luar negeri untuk mengikuti acara syukuran ini. Ibu Deswita mengancam akan memusuhi kedua anaknya jika Wina dan Wira tidak mau datang.


Rumah Pak Broto ramai oleh para tamu yang akan mengikuti pengajian. Rona bahagia terpancar di wajah Wisnu dan Haifa ketika menerima kedatangan para tamu.


“Selamat, ya. Akhirnya menyusul juga,” ucap Rina sambil mengusap perut Haifa yang sudah membesar.


“Tokcer juga, luh,” celetuk Reza.


“Iya, dong,” kata Wisnu sambil tersenyum.


“Sigana Pak Direktur unggal peting nyetor, wae,” ujar Iwan, (Sepertinya Pak Direktur setiap malam nyetor terus).


Dewi langsung memukul tangan suaminya.


“Papah, kebiasaan ih! Mulutnya nggak pernah di filter,” seru Dewi.


“Emang bener, kok. Tanya aja ke Wisnu,” ujar Iwan.


“Tau aja elo, Wan,” kata Wisnu dengan tersenyum.


Tidak ada rasa tersinggung di hati Wisnu ketika mendengar celetukkan teman-temannya. Wisnu menanggapinya dengan tertawa dan senyuman.


Banyak tamu yang berdatangan membuat Wisnu khawatir melihat Haifa yang dari tadi berdiri terus menerus.


“Kamu sambil duduk saja, jangan terlalu lama berdiri nanti kakinya sakit,” kata Wisnu.


“Kaki Haifa tidak apa-apa, tapi bayinya dari tadi nggak bisa diam,” kata Haifa sambil mengusap perutnya.


“Mungkin bayinya ingin supaya Mamahnya istirahat,” kata Wisnu.


Pengajian segera akan dimulai Wisnu mengajak Haifa masuk ke dalam rumah untuk mengkuti pengajian.


Pukul dua siang para tamu mulai pamit untuk pulang. Termasuk Ibu Euis dan Pak Yayat pamit pulang ke Sumedang.


“Mamah pulang, ya. Jaga kandunganmu baik-baik! Jangan terlalu cape! Jangan terlalu banyak makan yang asin-asin dan yang manis-manis serta jangan makan yang pedas-pedas! Agar Ibu dan bayinya dalam keadaan sehat,” nasehat Ibu Euis.


“Iya, Mah,” jawab Haifa.

__ADS_1


“Mamah kenapa tidak menginap di sini?” Tanya Wisnu.


“Apartement Wisnu masih kosong,” kata Wisnu.


“Sengaja Mamah pulang sekarang, agar besok Minggu Bapak dan Dodi bisa beristirahat dulu. Hari Seninnya tidak terlalu cape masuk kantor dan sekolah. Lagi pula mobil yang dipakai mobil rental, jadi harus secepatnya dipulangkan,” kata Ibu Euis.


“Nanti Wisnu ganti uang sewanya,” kata Wisnu.


“Jangan! Kamu sudah kirim banyak uang ke Mama. Lagi pula Mamah punya uang untuk membayar sewa mobil,” kata Ibu Euis.


Setiap bulan Wisnu mengirim uang untuk kedua orang tua Haifa serta untuk keperluan sekolah Dodi.


“Nggak apa-apa, Mah. Nanti Wisnu transfer uangnya,” kata Wisnu.


“Sudah ah, takut keburu malam Mamah pulang sekarang,” kata Ibu Euis.


“Assalamualaikum,” ucap Ibu Euis.


“Waalaikumsalam,” ucap Haifa dan Wisnu.


Rombongan keluarga Pak Yayat pulang ke Sumedang. Rumah Ibu Deswita kembali sepi. Hanya para ART yang berlalu lalang membereskan rumah.


Setelah sholat isya, Haifa langsung tidur. Mungkin ia kecapean setelah syukuran tujuh bulan. Wisnu keluar dari kamarnya menuju ke teras. Dari dalam rumah Wisnu melihat Wira sedang duduk di teras sambil merokok.


“Jangan terlalu sering merokok! Jaga kesehatan!” kata Wisnu sambil menyender di pintu.


“Eh…Mas Wisnu.” Wira cepat-cepat mematikan rokoknya, karena Wisnu tidak kuat dengan asap rokok.


Lalu Wisnu duduk di sebelah Wira.


“Belum tidur, Mas?” Tanya Wira.


Tidak biasanya kakaknya tidur larut malam.


“Belum ngantuk,” jawab Wisnu.


“Nanti Haifa mencari Mas Wisnu,” kata Wira.

__ADS_1


“Haifa sudah tidur. Semenjak hamil Haifa bawaannya ngantuk terus,” kata Wisnu.


Wira memandangi wajah Wisnu, entah mengapa wajah Wisnu seperti sedang memikirkan  sesuatu.


“Mas sedang memikirkan sesuatu?” Tanya Wira.


Wisnu menghela nafas.


“Mas mau minta tolong padamu,” kata Wisnu.


“Minta tolong apa, Mas?” tanya Wira.


“Mas titip Haifa dan anak yang ada di kandungnya,” kata Wisnu.


“Mas mau pergi kemana?” Tanya Wira.


“Mas nggak pergi kemana-mana. Kalau terjadi sesuatu pada Mas, titip Haifa dan anaknya,” kata Wisnu.


“Jangan becanda, Mas!” ujar Wira.


“Mas tidak becanda., Mas lagi serius. Umur manusia tidak ada yang tau,” kata Wisnu.


“Bagaimana kalau Wira yang meninggal lebih dahulu?” Tanya Wira.


“Tidak mungkin kamu yang meninggal lebih dahulu. Kamu masih muda dan sehat,” jawab Wisnu.


“Mas juga masih muda. Selama ini Mas selalu menjaga kesehatan dan rajin check up ke dokter,” kata Wira.


“Tapi Mas tidak sesehat dirimu,” kata Wisnu.


“Pokoknya Mas titip Haifa  dan anak Mas. Dia terlalu muda untuk Mas tinggalkan. Tolong jaga dia baik-baik!” kata Wisnu.


Wisnu bangkit dari duduknya lalu menepuk bahunya Wira.


“Mas tidur dulu, ya. Jangan tidur larut malam! Ingat, jaga kesehatan!” Wisnu kembali ke kamarnya.


“Mas juga harus jaga kesehatan!” seru Wira pada dirinya sendiri.

__ADS_1


“Astagfirullohaladzim,” ucap Wira sambil mengusap mukanya dengan kasar.


Wira langsung menuju ke kamarnya untuk mengambil wudhu dan sholat isya. Agar pikirannya tenang dan tidak dibayang-bayangi perkataan kakaknya.


__ADS_2