
Haifa memasuki kantor milik Pak Broto. Seperti biasa Haifa mengantarkan makan siang untuk Pak Broto dan Wisnu.
“Selamat siang, Mbak Ira,” sapa Haifa ketika melewati meja resepsionis.
“Siang juga Haifa,” balas Ira.
Haifa terus berjalan menuju ke lift. Ketika sampai di lantai tujuh, Haifa langsung menuju ke meja sekertaris Pak Broto.
“Selamat siang, Mbak Maya. Titip makan siang Bapak, ya,” kata Haifa menyapa Maya yang sedang mengetik.
“Iya, taruh saja di meja,” jawab Maya.
“Terima kasih, Mbak Maya,” ucap Haifa.
“Sama-sama,” balas Maya.
Haifa pun turun ke lantai enam dengan menggunakan liff. Sekarang ia tidak takut lagi jika di dalam liff sendiri.
Setelah sampai di lantai enam, Haifa langsung menuju ke ruangan Wisnu.
“Selamat siang, Mbak Rita,” sapa Haifa.
“Selamat siang, Haifa,” jawab Rita.
“Pak Wisnu ada?” Tanya Haifa.
“Ada, masuk aja,” jawab Rita.
Haifa pun langsung masuk ke ruangan Wisnu.
“Assalamualaikum,” ucap Haifa.
“Waalaikumsalam,” jawab Wisnu ketika melihat Haifa masuk ke dalam ruangan Wisnu.
“Duduk dulu, saya masih banyak pekerjaan,” kata Wisnu.
Haifa pun duduk di kursi sofa. Ia tidak lagi duduk di kursi lipat yang ada di sebelah lemari. Statusnya sekarang bukan asisten rumah tangga lagi, melainkan calon istri Wisnu.
Haifa menunggu Wisnu sambil membaca majalah yang berada di atas meja.
“Nanti kita ke Wedding Organizer, ya. Nanti kamu bisa pilih konsep pernikahan kita mau seperti apa dan mau dilaksanakan dimana,” kata Wisnu.
“Harus secepat itu disiapkannya, Mas?” Tanya Haifa.
“Iya, kan waktunya mepet sekali cuma sebulan,” jawab Wisnu.
“Mas juga sudah daftarkan kamu ke sekolah mengemudi,” kata Wisnu.
“Tapi Haifa takut, Mas,” kata Haifa.
“Nggak usah takut. Kan ada instrukturnya yang akan mengarahkan kamu,” kata Wisnu.
“Bagaimana kalau Haifa nabrak?” Tanya Haifa.
“Nggak akan nabrak asalkan kamu dengerin perkataan instrukturnya,” jawab Wisnu.
“Nanti kamu bawa salah seorang asisten rumah tangga untuk menemani kamu,” kata Wisnu.
Haifa menghela nafas.
“Iya deh, Mas,” jawab Haifa.
Wisnu tersenyum, akhirnya Haifa menyetujuinya.
“Nanti kamu pasti senang kalau sudah bisa menyetir. Kamu bisa kemana-mana sendiri,” kata Wisnu.
Mudah-mudahan nggak nabrak, kata Haifa di dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara adzan dari ponsel Haifa.
“Mas sudah waktunya sholat,” kata Haifa.
Wisnu langsung menghentikan pekerjaannya.
“Kamu mau sholat dimana? Di sini atau di masjid?” Tanya Wisnu.
“Di sini aja, Mas. Bolehkan?” Tanya Haifa.
“Tentu saja boleh,” jawab Wisnu.
Wisnu beranjak menuju ke kamar mandi untuk berwudhu.
__ADS_1
“Saya ke masjid dulu, ya,” pamit Wisnu setelah selesai berwudhu.
“Iya, Mas,” jawab Haifa.
“Kalau mau sholat, sajadahnya ada di lemari ini.” Wisnu menunjuk ke lemari yang berada di dekat meja kerjanya.
“Iya, Mas,” jawab Haifa.
“Saya ke masjid dulu. Assalamualaikum,” ucap Wisnu.
“Waalaikumsalam,” jawab Haifa.
Wisnu pun keluar dari ruangannya menuju ke masjid. Setelah Wisnu pergi Haifa pun mengambil wudhu di kamar mandi Wisnu. Sekarang Haifa mau ke kamar mandi yang berada di ruangan Wisnu. Selesai mengambil wudhu Haifa memulai sholatnya.
Setelah selesai sholat, Haifa melanjutkan membaca majalahnya. Tak lama kemudian Wisnu kembali dari masjid.
“Assalamualaikum,” ucap Wisnu ketika masuk ke dalam ruangannya.
“Waalaikumsalam,” jawab Haifa.
Wisnu langsung duduk di sofa.
“Mau makan sekarang, Mas?” Tanya Haifa.
“Iya, “ jawab Wisnu.
Haifa mulai menyiapkan makanan untuk Wisnu. Wisnu menunggu sambil memejamkan matanya.
“Sudah siap makanannya, Mas,” kata Haifa setelah selesai menyiapkan makanan.
Wisnupun membuka matanya dan menegakkan badannya.
“Kamu sudah makan?” Tanya Wisnu.
“Belum, Mas,” jawab Haifa.
“Kalau begitu ayo kita makan bareng,” kata Wisnu.
“Iya, Mas,” jawab Haifa.
Wisnu dan Haifa makan siang bersama.
*******
“Mbak. Ada nggak dekornya yang agak simpel, jangan terlalu banyak hiasan di tengah-tengahnya menghalangi jalan saja,” kata Haifa.
“Saya sering ke pernikahan di gedung. Saya duduk di sebelah kiri gedung, lalu mau mengambil makanan yang ada di sebelah kanan gedung. Namun sulit karena jalannya terhalang oleh dekorasi yang tidak perlu dan pot-pot besar. Dikasih jalannya cuma sedikit, kalau perlu jalannya harus nyelip di antara dua pot atau harus memutar,” kata Haifa kepada karyawan wedding organizer. (Sebenarnya itu adalah curahan hati author. Mau ngambil minum saja susah bener harus muter dulu).
Wisnu menahan tawanya mendengar perkataan Haifa.
Haifa menoleh ke Wisnu.
“Memang itu kenyataan, Mas,” kata Haifa kepada Wisnu.
“Iya, Mas tau. Mas juga pernah mengalaminya,” kata Wisnu.
“Ikuti saja apa yang calon istri saya inginkan,” kata Wisnu kepada karyawan wedding organizer.
“Baik, Pak,” jawab karyawan WO.
“Saya juga mau disediakan kursi yang banyak untuk para tamu. Agar mereka bisa makan sambil duduk,” kata Haifa.
“Keluarga saya orang kampung, kami biasa makan sambil duduk. Di agama kami diajarkan kalau makan tidak boleh sambil berdiri. Jangan sampai ada kejadian saudara-saudara saya makan sambil selonjoran di bawah karena kursinya penuh semua. Nanti akan membuat malu mertua dan suami saya di depan relasi bisnisnya,” kata Haifa. {author malah makan berdua sama suami di bawah pohon karena tidak kebagian kursi. Untung undangannya di gedung aula kantor. Jadi cuek saja).
“Baik, Mbak. Akan kami usahakan. Ada lagi, Mbak?” tanya karyawan WO.
“Kalau bisa menggunakan meja untuk makan. Relasi saya dan relasi Bapak saya banyak yang sudah tua. Mereka kalau makan harus duduk dan menggunakan meja,” kata Wisnu.
“Berarti meja untuk tamu VIP, ya Pak?” Tanya karyawan WO.
“Nggak harus tamu VIP yang menggunakan meja makan. Yang lain juga bisa menggunakan meja makan,” jawab Wisnu.
“Kalau begitu ruangannya harus lebih luasa lagi. Harus yang bisa menampung di atas lima ribu orang,” kata karyawan WO.
“Iya, nggak apa-apa,” jawab Wisnu.
“Baik, Pak. Akan kami usahakan,” kata karyawan WO.
Setelah dari kantor wedding organizer Wisnu mengajak Haifa ke toko perhiasan di Melawai Plaza Blok M.
“Kamu beli cincin tunangan. Kemarin Mas tidak sempat untuk membelinya,” kata Wisnu ketika mereka sedang memilih cincin nikah.
__ADS_1
“Nggak usah, Mas. Beli cincin nikah saja, kalau cincin tunangan tidak perlu,” kata Haifa.
“Perlu, dong. Biar semua orang tau kalau kamu sudah dilamar,” kata Wisnu.
“Tapi kan Mas harus mengeluarkan biaya lagi,” kata Haifa.
“Nggak apa-apa,” jawab Wisnu.
Haifa menghela nafas. Bagi Haifa, Wisnu terlalu boros untuk membeli hal-hal yang tidak perlu.
“Mbak, ada nggak cincin emas yang tidak pakai berlian?” Tanya Haifa.
“Ada, Mbak. Sebelah sini.” Pegawai toko mengarahkan Haifa ke estalase yang berada di samping kiri toko.
Haifa bergeser ke estalase di samping kiri toko.
Haifa memilih cincin yang bentuknya sederhana. Akhirnya Haifa memilih cincin yang bundar polos tidak ada ukiran.
“Haifa mau yang ini, Mas,” kata Haifa memperlihatkan cincin yang ia pakai.
“Iya, boleh,” jawab Wisnu.
Mereka juga memilih cincin nikah. Kebetulan ada cincin nikah yang modelnya mereka suka dan ukurannya pas di jari Wisnu dan Haifa. Tinggal diukir nama pasangan mereka di cincin itu. Kebetulan toko itu memiliki alat untuk mengukir nama di dalam cincin. Namun mereka harus menunggu sekitar tiga puluh menit. Sambil menunggu cincin nikah mereka diukir, Wisnu mengajak Haifa berkeliling Blok M. Namun sebelum pergi Wisnu membayar semua cincin yang dibelinya.
Ketika mereka melewati toko ponsel Wisnu mengajak Haifa untuk mampir ke toko itu.
“Mas, mau ngapai ke sini?” Tanya Haifa melihat Wisnu sedang memperhatikan ponsel yang berada di dalam estalase toko ponsel itu.
“Mau beli ponsel,” jawab Wisnu.
“Mas mau ganti ponsel Mas dengan yang baru?” Tanya Haifa.
Setau Haifa ponsel yang dimiliki oleh Wisnu sangat mahal, bahkan barang-barang yang ada di toko itu tidak ada yang bisa menyaingi ponsel milik Wisnu.
“Bukan untuk Mas, tapi untuk kamu,” jawab Wisnu.
Haifa menghela nafas.
“Ponsel Haifa tidak usah diganti. Belum rusak masih bisa dipakai,” kata Haifa.
Namun Wisnu tidak mengindahkan perkataan Haifa. Wisnu sibuk memilih ponsel yang spesifikasinya bagus. Karena perkataannnya tidak di dengar Haifa langsung memanggil Wisnu.
“Mas….Mas…,” panggil Haifa.
Wisnu langsung menoleh ke Haifa.
“Kenapa?” Tanya Wisnu.
“Nggak usah beli ponsel, ya,” kata Haifa.
“Nggak apa-apa. Beli saja,” jawab Wisnu.
Haifa langsung cemberut mendengar jawaban Wisnu.
“Kenapa?” Tanya Wisnu melihat wajah Haifa cemberut.
“Mas, Haifa tidak butuh ponsel baru,” kata Haifa.
Wisnu menghela nafas.
“Haifa, ganti saja ponsel kamu dengan yang baru. Biar kamu lebih leluasa memakainya,” kata Wisnu.
Kemudian penjaga toko memberikan ponsel dengan spesifikasi yang diminta oleh Wisnu.
“Nih lihat. Kameranya depan belakang bagus. Kamu bisa sefi semaumu. Penyimpanannya juga besar, kamu bisa mendowload aplikasi yang kamu mau.” Wisnu memperlihatkan ponsel yang diberikan oleh penjaga toko.
Haifa mengambil ponsel itu dari tangan Wisnu.
“Boleh dicoba, nggak?” Tanya Haifa kepada pelayan toko.
“Boleh, Mbak,” jawab pelayan itu.
Haifa mencoba kameranya.
“Bagaimana suka, nggak?” Tanya Wisnu.
Haifa menjawab dengan anggukan.
“Tunangan saya mau, tolong buatkan notanya, ya!” seru Wisnu.
“Baik, Pak.” Penjaga toko langsung membuatkan nota pembelian.
__ADS_1
Sedangkan Haifa asyik membulak-balik ponsel barunya.
Setelah membeli ponsel Wisnu mengajak kembali ke toko perhiasan untuk mengambil cincin mereka. Hari sudah sore jadi Wisnu memutuskan untuk tidak kembali ke kantor, namun langsung pulang ke rumah.