
Mobil MPV Premium milik Pak Broto berhenti di depan rumah Pak Yayat. Mereka disambut oleh Pak Yayat dan Ibu Euis serta Dodi.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Broto ketika masuk ke dalam pekarangan rumah Pak Yayat.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Yayat.
“Apa kabarnya Aki?” sapa Pak Broto.
“Alhamdullilah sehat, Kakung,” jawab Pak Yayat.
Mereka saling bersalaman satu dengan yang lain. Pak Yayat mempersilahkan semua tamunya untuk masuk ke dalam rumah. Diantara rombongan keluarga Pak Broto turun hadir juga Mang Diman dan Bi Nani beserta kedua anak mereka.
“Loh, Nan ikut juga ke sini?” tanya Ibu Euis.
“Iya, Ceu,” jawab Bi Nani.
“Sengaja saya suruh Mang Diman dan Bi Nani ikut serta, biar kita bisa kumpul keluarga,” kata Pak Broto.
Kali ini Bi Nani dilarang membocorkan rencana mereka datang ke Sumedang. Bi Ros juga dilarang untuk masak untuk menjamu keluarga Pak Broto. Dengan alasan Pak Broto dan Ibu Deswita ingin bersilahturahmi dengan seluruh keluarga Haifa.
Setelah beramah tamah sebentar, mulailah Pak Broto mengutarkan niat mereka datang ke rumah orang tua Haifa.
“Kedatangan kami ke sini selain bersilaturahmi, kami juga menyampaikan keinginan anak kami Wira,” kata Pak Broto.
Sebelum melanjutkan pembicaraannya Pak Broto mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari seseorang.
“Haifa mana?” tanya Pak Broto.
“Ibu sedang menyusui Alifa di kamar,” jawab Sri.
“Ya, sudah biarkan saja. Saya teruskan lagi, ya,” kata Pak Broto.
“Kedatangan kami kemari untuk menyampaikan keinginan anak kami Wira untuk meminang Haifa putri Aki dan Nini,” kata Pak Broto.
Ibu Euis dan Pak Yayat kaget mendengarnya. Ibu Euis dan Pak Yayat menoleh ke Wira.
“Wira, apakah itu benar?” tanya Pak Yayat.
“Iya, Om. Saya mencintai Haifa putri Om,” jawab Wira.
__ADS_1
Pak Yayat menghela napas, ia tidak mengira ini bakalan terjadi.
“Apakah Haifa mengetahui hal ini?” tanya Pak Yayat.
“Tau, Om,” jawab Wira.
“Lalu apa jawaban Haifa?” tanya Pak Yayat.
“Dia mau menerima saya,” jawab Wira.
Pak Yayat menoleh ke Ibu Euis.
“Mah, coba panggil Haifa ke sini,” kata Pak Yayat.
“Iya, Pak.”
Ibu Euis langsung beranjak menuju ke kamar Haifa.
“Alifa sudah bobo?” tanya Ibu Euis.
“Sudah, Mah,” jawab Haifa sambil bangun dari tempat tidur.
“Bapak memangilmu. Katanya ada yang dingin ditanyakan oleh Bapak,” kata Ibu Euis.
“Duduk sini,” kata Pak Yayat sambil menunjuk ke kursi di sebelahnya.
Haifa menikuti apa yang dikatakan bapaknya.
“Wira datang ke sini untuk melamarmu. Apakah kamu sudah tau?” tanya Pak Yayat.
Semua memandang ke Haifa.
“Sudah, Pak,” jawab Haifa.
“Lalu apa jawabanmu?” tanya Pak Yayat.
“Haifa terima lamaran Mas Wira,” jawab Haifa.
“Alhamdullilah,” ucap semua orang yang berada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
“Wira sudah dengar sendirikan jawabannya,” kata Pak Yayat. “Iya, Om,” jawab Wira.
“Kalau Om terserah pada Haifa, karena Haifa yang akan menjalaninya,” kata Pak Yayat.
“Terima kasih, Om,” ucap Wira.
“Hanya satu pinta Om, tolong jangan kecewakan Haifa,” kata Pak Yayat.
“Insya Alloh, Wira akan berusaha untuk tidak mengecewakan Haifa,” jawab Wira.
“Om tidak perlu janji, tapi perlu bukti,” kata Pak Yayat lagi.
“Baik, Om,” jawab Wira.
“Sekarang kita menentukan tanggal pernikahan,” kata Pak Broto.
“Tapi sebelum penentuan tanggal pernikahan, saya mau minta tolong ke Dodi,” kata Pak Broto.
“Sebentar saya panggilkan,” kata Ibu Euis.
Ibu Euis pergi menuju ke ruang keluarga, di sana Dodi sedang asyik menonton bersama dengan keempat sepupunya.
“Dodi,kamu dipanggil Pak Broto,” kata Ibu Euis.
Dodi beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang tamu.
“Ada apa, Om?” tanya Dodi kepada Pak Broto.
“Tolong belikan nasi Padang untuk semua orang,” jawab Pak Broto.
“Kamu beli nasinya diantar Pak Tono,” kata Pak Broto.
“Asyik, mau Om,”jawab dodi.
“Ini uangnya.”
Pak Broto memberikan uang sebesar lima ratus ribu rupiah kepada Dodi.
“Ingat, ya! Belinya yang enak,” kata Pak Broto wanti-wanti.
__ADS_1
“Baik, Om,” jawab Dodi.
Akhirnya Dodi pergi untuk membeli nasi Padang. Dodi pun mengajak keempat sepupunya untuk ikut bersamanya.