
“Alhamdullilah,” ucap Bi Nani ketika melihat hasilnya.
Bi Nani dan Ibu Deswita langsung sujud syukur. Haifa melihat apa yang dilakukan Bi Nani dan Ibu Deswita dengan bingung. Sebetulnya Haifa masih mengantuk jadi ia belum sadar dengan apa yang Ibu Deswita perintahkan.
“Mamah dan Bi Nani kenapa?” Tanya Haifa bingung.
“Haifa, kamu hamil,” kata Bi Nani.
“Hah? Haifa hamil?” Tanya Haifa bingung.
“Iya, kamu hamil,” kata Ibu Deswita.
Ibu Deswita memperlihatkan hasilnya kepada Haifa. Ada dua garis merah yang sejajar pada test pack itu. Yang satu warna merahnya cukup jelas dan satu lagi warna merahnya hanya seulas tidak terlalu jelas.
“Kok ada dua garis merahnya? Tadi Haifa lihat cuma ada satu garis merahnya,” ujar Haifa.
“Memang begitu, Haifa,” kata Bi Nani.
“Wisnu harus diberitahu,” kata Ibu Deswita.
Ibu Deswita hendak keluar dari kamar Haifa untuk mengambil ponselnya.
“Jangan, Bu! Biar Haifa yang menelepon Den Wisnu,” sahut Bi Nani.
“Begitu, ya?” Tanya Ibu Deswita.
“Iya. Ibu juga jangan telepon Pak Broto! Kasih Haifa kesempatan untuk memberitahu suaminya,” kata Bi Nani.
“Ya sudah. Saya nanti lagi menelepon Bapaknya,” kata Ibu Deswita.
“Ayo kita keluar, Bu! Biarkan Haifa menelepon Den Wisnu,” kata Bi Nani.
Ibu Deswita dan Bi Nani keluar dari kamar Haifa.
Haifa memandangi ponsel yang berada di tangannya. Ia bingung harus mengatakan apa pada suaminya. Sungguh ini semua tidak terpikirkan sama sekali oleh Haifa. Haifa mengklik nomor ponsel suaminya. Deing pertama belum diangkat teleponnya. Dering kedua juga belum diangkat juga oleh suaminya. Dering ketiga barulah diangkat oleh Wisnu.
“Assalamualaikum,” ucap Wisnu.
“Waalaikumsalam,” ucap Haifa.
“Mas sedang apa?” Tanya Haifa.
“Mas baru selesai makan siang,” jawab Wisnu.
__ADS_1
“Kamu sudah makan belum?” Tanya Wisnu.
“Belum, Mas. Bi Nani sudah membawakan makan siang ke kamar,” jawab Haifa.
“Dimakan ya, makanannya!” kata Wisnu.
“Iya, Mas,” jawab Haifa.
“Mas,” panggil Haifa.
“Hmm,” jawab Wisnu.
“Ada yang ingin Haifa beritahu ke Mas Wisnu,” kata Haifa.
“Apa itu?” Tanya Wisnu.
“Tapi Mas harus janji jangan kaget, ya!” kata Haifa.
“Iya,” jawab Wisnu.
“Haifa….Haifa…..” Haifa tidak meneruskan perkataannya.
“Kamu kenapa, Haifa?” Tanya Wisnu.
Wisnu langsung diam, tidak terdengar suara apapun dari seberang sana.
“Mas….Mas kenapa?” Tanya Haifa.
Namun tidak ada jawaban dari Wisnu.
“Mas….Mas marah, ya?” Tanya Haifa sekali lagi.
Namun Wisnu tetap diam.
“Mas….Mas Wisnu,” kata Haifa dengan suara yang lebih keras.
Namun masih saja tidak ada jawaban dari Wisnu. Akhirnya Haifapun menangis.
“Mamah….Bi Nani…. Mas Wisnu marah sama Haifa,” kata Haifa sambil menangis.
Tiba-tiba Ibu Deswita dan Bi Nani masuk ke kamar Haifa.
“Wisnu marah kenapa?” Tanya Ibu Deswita kaget.
__ADS_1
“Mas Wisnu marah sama Haifa karena Haifa hamil,” jawab Haifa sambil menangis.
“Masa sih?” Tanya Ibu Deswita tidak yakin.
“Mas Wisnu hikk…diam saja hikkk….tidak mau menjawab hikkk…. panggilan Haifa,” kata Haifa sambil sesegukan.
Ibu Deswita merebut ponsel dari tangan Haifa.
“Wisnu!” seru Ibu Deswita.
Namun tidak ada jawaban dari Wisnu.
“Wisnu jangan keterlaluan kamu! Istri sedang hamil kamu malah kamu marahi,” bentak Ibu Deswita.
“Siapa yang marah sama Haifa, Mah?” Tanya Wisnu.
“Wisnu tidak marah sama Haifa,” kata Wisnu.
“Kalau kamu tidak marah sama Haifa, kenapa kamu tidak menjawab sewaktu Haifa memanggil-manggilmu?” Tanya Ibu Deswita.
“Sekarang Haifa menangis, ia mengira kamu marah padanya,” kata Ibu Deswita.
“Tolong berikan ponselnya kepada Haifa, Mah,” kata Wisnu.
Ibu Deswita memberikan ponselnya kepada Haifa.
“Ha…lo…,” kata Haifa dengan sesegukan.
“Haifa sayang, Mas tidak marah sama Haifa. Hanya saja Mas kaget mendengar kabar bahagia ini. Mas perlu menenangkan diri dulu karena jantung Mas berdebar kencang dan sesak,” kata Wisnu.
“Sekarang masih berdebar dan sesaknya?” Tanya Haifa dengan khawatir.
“Sudah nggak. Sudah agak mendingan,” jawab Wisnu.
“Maafkan Haifa, ya. Karena sudah salah sangka kepada Mas Wisnu,” kata Haifa.
“Tidak apa-apa. Mestinya Mas yang meminta maaf telah menyebabkanmu menjadi salah sangka,” kata Wisnu.
“Nanti sore kita ke dokter, ya. Mas akan pulang cepat,” kata Wisnu.
“Pasti Mas Wisnu lagi sibuk. Kapan-kapan saja ke dokternya, kalau Mas Wisnu sudah tidak sibuk,” kata Haifa.
“Lebih cepat lebih baik. Pekerjaan bisa dteruskan besok,” kata Wisnu.
__ADS_1
“Iya, deh. Terserah Mas Wisnu saja,” jawab Haifa.