
Pernikahan Ekky dan Wina.
Hari ini asalah hari penikahan Wina dan Ekky. Pernikahan Wina dan Ekky diadakan di sebuah hotel mewah di daerah Jakarta Selatan. Banyak tamu yang dihadir di pernikahan Wina dan Ekky. Haifa duduk di tempat khusus untuk keluarga. Ia nampak cantik dengan balutan gaun seragam keluarga. Perutnya belum kelihatan membesar, ia baru hamil tiga bulan. Tiba-tiba ada seseorang yang mendekatinya.
“Hallo Haifa, apa kabar?” sapa Farhan.
Haifa menoleh ke orang yang menyapanya.
“Alhamdullilah baik,” jawab Haifa.
“Sendirian saja? Mana Alifa?” tanya Farhan.
“Tuh,” Haifa menunjuk ke Alifa yang sedang belajar berjalan sambil dituntun ayahnya.
“Kamu cantik sekali hari ini,” puji Farhan. ( asa meni siga syair lagu, ya? )
“Terima kasih,” ucap Haifa.
“Kamu lagi hamil?” tanya Farhan.
Farhan melihat perut Haifa yang agak membuncit.
“Iya, sudah hamil tiga bulan,” jawab Haifa.
Tiba-tiba ada yang batuk di belakang mereka.
“Ehem..ehem…..”
Haifa dan Farhan menoleh ke belakang. Wira sedang berdiri di belakang mereka sambil menggendong Alifa. Ia memandang tajam ke arah Farhan.
“Sedang apa kamu di sini?” tanya Wira dengan tatapan mengintimidasi Farhan.
“Sedang menyapa teman lama,” jawab Farhan.
“Sejak kapan Haifa menjadi temanmu?” tanya Wira dengan ketus.
“Mas, Alifa sudah jalan-jalannya?” tanya Haifa untuk mencairkan suasana.
“Sudah,” Wira menaruh Alifa di atas pangkuan Haifa.
“Haifa, aku permisi dulu. Mau gabung dengan teman-teman,” Farhan pamit.
“Iya,” jawab Haifa.
Farhanpun pergi dari hadapan Wira dan Haifa.
“Sudah cape jalan-jalannya?” tanya Haifa kepada Alifa.
“Mau mimi cucu, nggak?” tanya Haifa lagi.
“Mas tolong ambilkan dot di tas,” kata Haifa.
Wira mengambil botol susu Alifa dari dalam tas lalu diberikan kepada Haifa. Haifa memberikan dot kepada Alifa dan bayi itu langsung menge-nyot dotnya.
“Mas, sudah makan?” tanya Haifa.
“Belum. Nanti saja bareng sama kamu,” jawab Wira.
“Haifa harus menunggu Sri selesai makan,” kata Haifa.
“Iya, nggak apa-apa. Nanti saja nunggu Sri dulu,” jawab Wira.
Alifa terus menge-nyot dot susunya hingga tertidur.
“Alifa tidur?” tanya Wira.
__ADS_1
“Iya, mungkin ia sudah cape jalan ke sana kemari,” jawab Haifa.
“Pinggang Mas rasanya mau copot harus membungkuk terus mengikuti Alifa,” kata Wira sambil mengusap punggungnya.
“Kasihan. Nanti malam Haifa pijitin deh,” kata Haifa.
“Bener, ya? Tapi pijatnya pake plus-plus,” bisik Wira.
“Mas! Kandungan Haifa belum lewat dari trisemester pertama, jadi nggak boleh keseringan diajak main,” kata Haifa.
“Minggu ini belum dapat jatah,” jawab Wira sambil berbisik.
Haifa menghela nafas.
“Tapi mainnya sekali aja, ya,” bisik Haifa.
“Kalau nggak lupa, ya,” jawab Wira sambil tersenyum.
“Mas!” seru Haifa sambil melotot.
****
Haifa memandangi rumah di hadapannya. Sebuah rumah yang besar dan halaman lumayan luas. Rumah itu hampir sebesar rumah mertuanya.
“Bagaimana?” tanya Wira.
“Mas, mau beli rumah ini? Memang Mas punya uangnya?” tanya Haifa dengan tidak yakin.
“Eh….meremehkan suaminya, ya!” seru Wira.
“Bukan begitu, Mas. Ini kan di tengah kota Jakarta. Di daerah elit. Harganya pasti ratusan milyar bahkan bisa trilyunan,” kata Haifa.
“Uangnya ada. Kamu tenang saja,” jawab Wira.
“Bagaimana kalau kita bayarnya setengah-setengah saja. Mas,” usul Haifa.
“Sebagian dari uang Mas Wira, sebagian lagi uang Haifa,” jawab Haifa.
Wira berpikir sejenak.
“Kamu seperempatnya saja dan membiayai renovasinya,” kata Wira.
“Oke deal. Kapan kita ketemu dengan pemiliknya?” tanya Haifa.
“Wah…wah…wah…kamu udah tidak sabar ingin membelinya, ya? Sabar, Bu. Kita lihat-lihat dulu dalam rumahnya,” kata Wira.
“Nanti Mas buat janji dengan pemilik rumahnya,” kata Wira.
“Oke, Mas atur saja,” ujar Haifa.
Bagaimanapun juga Wira dan Haifa harus memiliki rumah sendiri untuk keluarga kecil mereka. Semenjak Wina menikah, Wira memutuskan untuk membawa keluarga kecilnya pindah dari rumah orang tuanya. Sedangkan apartment peninggalan Wisnu bukanlah tempat yang baik untuk membesarkan anak-anak. Wira memutuskan untuk mencari rumah yang tidak jauh dari rumah orang tuanya. Agar orang tuanya masih bisa datang menengok cucu cucunya.
Setelah menghubungi pemilik rumah akhirnya Wira dan Haifa dapat melihat ke dalam rumah itu. Rumah itu cukup luas dan memiliki banyak kamar. Memang itu yang Wira cari, jika orang tua Haifa datang berkunjung ke Jakarta mereka punya kamar sendiri di rumah ini. Setelah deal dengan harganya Wira langsung membayarnya. Sesuai dengan kesepakatan tujuh puluh lima persen uang Wira dan dua puluh lima persen uang Haifa. Biaya renovasi ditanggung Haifa.
Darimana Haifa mempunyai uang sebesar itu? Haifa memilikinya dari harta peninggalan almarhum Wisnu.
Wira mempercepat renovasi rumah. Ia ingin sebelum Haifa melahirkan mereka sudah bisa pindah ke rumah baru mereka.
****
Wira pulang dari kantor dengan kepala pusing. Bagaimana tidak pusing tadi siang Pak Broto memanggil Wira dan Ekky ke ruangannya. Pak Broto berencana untuk pensiun dan menyerahkan perusahaannya kepada Wira dan Ekky. Wira menggantikan kedudukan Pak Broto dan Ekky yang menggantikan kedudukan Wira. Sekarang yang menjadi pertanyaan Wira adalah siapa yang akan menggantikan kedudukan Ekky di cafenya. Itulah persoalannya.
“Ky, sebelum kamu pindah ke kantor Papah tolong carikan orang untuk menggantikanmu,” kata Wira ketika mereka hendak makan malam bersama di rumah.
“Siap, Mas,” jawab Ekky.
“Kenapa bukan Mas Wira saja yang mencari? Kenapa harus Aa Ekky?” tanya Wina.
Wina memanggil Ekky dengan tambahan Aa. Karena ia dimarahin mamahnya gara-gara memanggil suami hanya “Ekky”.
__ADS_1
“Nggak ada sopan-sopannya kamu sama suami! Seperti manggil teman saja,” begitu kata Ibu Deswita.
Balik lagi ke Ekky dan Wira.
“Ekky kan belum resign. Jadi dia harus mencari penggantinya sebelum resign dari café,” kata Wira.
“Besok saya akan mulai buka lowongan kerja untuk menjadi manager,” kata Ekky.
“Mas, ada kriteria khusus nggak untuk lowongan ini?” tanya Ekky.
“Mas ingin orangnya amanah dan pekerja keras. Selebihnya kamu yang lebih tau kriteria yang pantas menjadi penggantimu,” jawab Wira.
“Baik, Mas. Akan saya laksanakan,” kata Ekky.
Hari terus berlalu, Ekky menjalankan apa yang perintahkan oleh Wira. Iya mulai membuka lowongan kerja untuk menjadi manajer di café milik Wira. Satu persatu orang ia wawancara sampai akhirnya ia menemukan orang yang tepat untuk menjadi penggantinya. Namun ia belum menerima orang itu karena harus memberitahu Wira terlebih dahulu.
Ekky memasuki lobby perusahaan milik Pak Broto.
“Selamat siang, Mbak. Saya mau bertemu dengan Pak Wira,” kata Ekky.
Ira memandangi wajah Ekky.
“Bapak suaminya Mbak Wina, ya?” tanya Ira.
“Kok Mbak tau?” Ekky balik bertanya.
“Tau dong. Semua orang di kantor ini di undang oleh Pak Broto,” jawab Ira.
Ekky tersenyum mendengar perkataan Ira.
“Bapak langsung masuk saja. Ruangan Pak Wira di lantai enam,” kata Ira.
“Terima kasih,” ucap Ekky.
Ekky pun langsung menuju ke liff. Ekky keluar dari liff ketika liff berhenti di lantai enam. Ekky bingung yang mana ruangan Wira karena terlalu banyak pintu. Ekky menghampiri Rita.
“Selamat siang, Mbak. Saya mau ketemu Pak Wira. Ruangannya dimana, ya?” tanya Wira.
“Saya sekertarisnya. Ada perlu apa, ya?” tanya Rita.
“Saya Ekky, manager Selera Kita milik Pak Wira,” jawab Ekky.
“Tunggu sebentar. Saya harus tanya Pak Wira dulu,” Rita bangun dari tempat duduknya lalu mengetuk pintu ruang kerja Wira.
“Masuk,” jawab Wira.
Rita membuka pintu ruangan.
“Pak, ada Pak Ekky dari Selera Kita,” kata Rita.
“Suruh masuk,” jawab Wira.
“Silahkan masuk, Pak,” kata Rita kepada Ekky.
Ekky masuk ke ruangan Wira.
“Bagaimana, Ky?” tanya Wira langsung ketika Ekky masuk ke ruangannya.
Ekky duduk di kursi yang berada di depan meja Wira. Ekky menyerahkan map yang ia bawa.
“Sudah dapat orangnya. Saya tinggal menunggu persetujuan dari Mas Wira,” jawab Ekky.
Wira membuka map yang diberikan oleh Ekky. Wira langsung kaget melihat foto calon manager café Selera Kita. Ditambah membaca namanya Wira langsung geram.
“Kok dia sih? Memang tidak ada pelamar yang lain?” tanya Wira dengan kesal.
“Dia yang terbaik diantara ratusan pelamar,” jawab Ekky.
“Nggak bisa! Mas tidak mau menerima dia menjadi manager café Selera Kita!” seru Wira dambil membanting map yang dipegangnya.
__ADS_1