
Wira langsung masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah nampak sepi, para tamu sudah pulang setelah dari pemakaman. Wira menghampiri Iroh yang sedang membereskan meja makan.
“Roh, Mamah mana?” Tanya Wira.
“Ada di kamarnya, Den,” jawab Iroh.
“Kalau Haifa dimana?” Tanya Wira.
“Ada di kamarnya,” jawab Iroh.
“Tolong bawa koper saya ke kamar. Saya mau ketemu Mamah dulu,” kata Wira.
“iya, Den.” Iroh mengambil koper Wira lalu dibawa ke kamar Wira.
Wira menuju ke kamar orang tuanya. Wira membuka pintu kamar orang tuanya dengan pelan-pelan. Ia melihat Papahnya sedang mengusapi punggung Mamahnya.
“Assalamualaikum,” ucap Wira ketika masuk ke dalam kamar.
“Waalalikumsalam,” jawab Pak Broto.
Ibu Deswita menoleh ke belakang.
“Wira!” seru Ibu Deswita.
Wira langsung menghampiri Mamahnya dan memeluknya. Tangisan Ibu Deswita pun pecah.
“Nggngngng….” Ibu Deswita menangis di pelukan Wira.
“Mas…mu…mening…gal….kan …kita,” kata Ibu Deswita sambil menangis.
“Yang sabar ya, Mah. Mungkin ini memang yang terbaik untuk Mas Wisnu,” kata Wira sambil mengusap punggung Mamahnya.
“Kasihan Masmu, dia belum sempat melihat anaknya tapi malah pergi selama-lamanya. Nghnghngh….”
Ibu Deswita menangis lagi.
“Mau bagaimana lagi? Manusia boleh berencana, tetapi Alloh yang menentukan,” kata Wira.
“Kasihan Haifa, dia sangat terpukul dengan kepergian Masmu,” kata Ibu Deswita.
“Dia masih terlalu muda untuk ditinggalkan Masmu,” kata Ibu Deswita.
“Mamah istirahat dulu. Wira mau menemui Haifa,” kata Wira sambil mengusap punggung Mamahnya.
Ibu Deswita melepaskan pelukannya.
“Kamu sudah menemui teman-temanmu?” Tanya Pak Broto.
“Sudah, Pah,” jawab Wira.
“Mereka dari tadi menunggu kedatanganmu,” kata Pak Broto.
“Iya, Wira tahu. Wira temui Haifa dulu,” kata Wira.
Wira keluar dari kamar orang tuanya, lalu ia menuju ke kamar Haifa. Wira mengetok pintu. To…tok tok…..Ceklekkkkk suara pintu dibuka. Bi Nani membuka pntu kamar Haifa.
“Haifa ada, Bi?” Tanya Wira.
“Haifa sedang tidur. Dari tadi dia menangis terus menerus,” jawab Bi Nani.
“Ya, sudah. Biarkan Haifa istirahat dulu,” kata Wira.
“Den Wira sudah makan?” Tanya Bi Nani.
“Belum, Bi. Wira baru datang,” jawab Wira.
__ADS_1
“Kalau Den Wira mau makan, sekalian ajak teman-teman Den Wira. Mereka belum makan. Tadi sudah Bibi suruh makan. Tapi kata mereka mau menunggu Den Wira,” kata Bi Nani.
“Iya, Bi. Nanti Wira ajak mereka makan,” jawab Wira.
Lalu Wira meninggalkan kamar Haifa menuju ke teras rumah, dimana-mana teman-temannya sedang menunggunya.
“Kata Bi Nani kalian belum makan,” ujar Wira kepada teman-temannya.
“Iya, kita kan nungguin lu datang,” jawab Bagas.
“Ayo kita makan sekarang! Gue udah lapar nich,” ajak Wira.
“Kita ngerepotin nggak, kalau makan di sini?” Tanya Romi.
“Nggak ngerepotin. Cateringnya dari cafe gue. Tadi gue suruh Ekky yang mengurus semuanya,” jawab Wira.
“Wah, kalau dari cafe lu berarti enak dong,” kata Bagas dengan wajah berseri.
“Ayo kita makan!” kata Wira.
Teman-teman Wira pun langsung pada berdiri dan mengikuti Wira masuk ke dalam rumah. Namun baru saja Wira hendak masuk, tiba-tiba ada yang mengucapkan salam.
“Assalamualaikum.”
Wira menoleh ke belakang, rupanya ada Pak Yayat beserta rombongan baru datang dari Sumedang.
“Waalaikumsalam,” jawab Wira.
Wira langsung menghampiri Pak Yayat lalu menyalami Pak Yayat, Ibu Euis, Bi Ros dan Mang Tedi. Dodi , Arif dan Alit mencium tangan Wira.
“Kalian pada bolos?” Tanya Wira kepada Dodi, Arif dan Alit.
“Terpaksa, soalnya tidak ada yang nemani di rumah,” jawab Arif.
Wira tersenyum lalu mengacak-acak rambut Arif.
Pak Yayat dan Ibu Euis beserta rombongan masuk ke dalam rumah. Mereka di sambut oleh Pak Broto dan Bi Nani.
Sedangkan Wira dan kawan-kawannya juga masuk ke dalam untuk mengambil makanan.
“Elu masih lama di Bangkoknya, Wir?” tanya Tora setelah mereka selesai makan.
“Nggak. Sebulan lagi kontrak kerja gue selesai,” jawab Wira.
“Mau lu perpanjang lagi?” Tanya Tora.
“Kayaknya nggak, deh. Gue mau balik aja ke Indonesia. Bantuin bokap gue,” jawab Wira.
“Kata lu passion lu bukan di situ,” ujar Romi.
“Mau bagaimana lagi, Mas Wisnu sudah tidak ada. Wina belum selesai kuliahnya. Tinggal gue satu-satunya harapan bokap gue,” jawab Wira.
“Jadi Wira mau kembali ke Indonesia?” Tanya Susan yang mendengar percakapan Wira dengan Tora.
“Wah…ini sih gawat. Elu nggak bakalan bisa kerja, diganggu terus sama mereka-mereka,” kata Romi sambil menunjuk ke arah Susan, Cindy, Alea dan Seila.
“Nggak apa-apa. Kan masih bisa ma-ke lo-ve di kantor,” kata Susan dengan gaya sedikit menggoda.
“Iiiuuhh….,” seru Tora, Romi dan Bagas dengan jijik.
“Berani lu ngajak Wira begituan di kantornya? Bisa-bisa lu diusir bokapnya Wira,” ujar Bagas.
“Belum tentu. Mungkin saja langsung disuruh nikah,” kata Susan.
“Mana mau bokapnya Wira punya menantu kayak lu. Kelakuan lu kayak cacing kepanasan. Kagak boleh lihat laki ganteng dan tajir dikit, langsung deh diajak bobo bareng,” kata Romi.
__ADS_1
“Sudah, jangan ngomongin yang begituan! Malu ada besan bokap gue,” kata Wira.
Wira beralih ke Ekky.
“Ekky, semuanya jadi berapa?” Tanya Wira ke Ekky.
“Sepuluh juta rupiah, Bos,” jawab Ekky.
“Eh…Wir, lu bayar juga pesan makanan di café lu?” Tanya Tora.
“Iyalah, kalau nggak nanti café gue bisa bangkrut,” jawab Wira.
“Sebentar gue ambil dulu uangnya.” Wira langsung menuju ke dalam rumah.
Di dalam Wira bertemu dengan Dodi, Arif dan Alit yang sedang makan. Wira menghampiri mereka.
“Bagaimana, enak nggak makanannya?” Tanya Wira.
“Enak, Mas,” jawab Dodi.
“Makanannya pesan dari café Mas Wira,” kata Wira sambil menepuk dadanya dengan gaya yang sombong.
“Mas Wira punya café?” Tanya Alit.
“Punya, dong. Kapan-kapan Mas Wira ajak ke sana,” jawab Wira.
“Mau dong, Mas,” ujar Dodi, Alit dan Arif dengan kegirangan.
“Iya, nanti kapan-kapan kita ke sana,” kata Wira.
“Sekarang Mas mau ke kamar dulu. Mau ambil sesuatu,” kata Wira.
Wirapun pergi menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas. Ketika melewati kamar Haifa, Wira mendengar suara orang yang berbicara. Wira berdiri di depan kamar Haifa dan hendak mengetuk pintunya, namun Wira ragu untuk mengetuknya. Akhirnya memutuskan Wira pergi ke kamarnya.
*****
Wira memberikan amplop coklat berisi uang kepada Ekky.
“Terima kasih, ya. Sudah ngebantuin gue,” ucap Wira.
“Sama-sama, Bos,” jawab Ekky.
“Bos, kapan mau datang ke café? Perasaan Bos bulak-balik ke Jakarta tapi nggak datang ke café?” Tanya Ekky.
“Nantilah, Ky. Gue masih sibuk. Banyak yang harus gue urus,” jawab Wira.
“Bos sibuk ngurusi apa, sih?” Tanya Ekky.
“Mau tau aja, lu,” kata Wira.
“Bos mau kawin, ya?” Tanya Ekky.
“Kawin? Lu kira gue kucing,” protes Wira.
“Wira udah sering kawin. Cuma nikah aja, dia belum pernah,” kata Bagas.
“Berarti Bos mau nikah, ya?” Tanya Ekky yang penasaran.
“Udeh sana, lu! Kebanyakan nanya.” Wira mengusir Ekky.
“Yah, Bos. Saya kan cuma nanya,” kata Ekky sedih.
“Saya balik ke café aja, deh,” kata Ekky sambil berdiri.
“Iya. Jagain café gue, jangan sampe ada yang ngangkut,” kata Wira.
__ADS_1
“Assalamualaikum,” ucap Ekky lalu pergi meninggalkan rumah Wira.
“Waalaikumsalam,” jawab Wira.