Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
29.Bukan Pacar Wira.


__ADS_3

Wira menghampiri Susan yang sedang duduk di teras.


“Wira.”


Susan langsung bangkit dari tempat duduk dan hendak memeluk Wira. Namun Wira langsung menghindar agar Susan tidak dapat memeluknya.


“jaga sikapmu, Susan! Di sini banyak anak-anak,” seru Wira sambil melirik ke arah Dodi beserta para sepupunya yang sedang bermain di halaman depan.


Susan langsung mengerucutkan bibirnya.


“Ada perlu apa kamu ke sini?” Tanya Wira.


“Kita jalan-jalan, yuk. Makan siang, nonton dan shoping,” kata Susan.


“Nggak ah, aku lagi malas ke luar. Di rumah sedang banyak tamu,” jawab Wira.


“Ayolah Wira, sekarangkan hari terakhirmu berada di Jakarta. Besok kamu kembali ke Thailand,” rayu Susan sambil terus menempelkan tubuhnya ke tubuh Wira.


“Aku bilang, jaga sikapmu! Di sini banyak adik-adikku yang masih kecil-kecil,” seru Wira.


Susan menoleh ke Dodi dan sepupu-sepupu Dodi yang sedang memperhatikan Susan dan Wira.


“Sejak kapan mereka menjadi adikmu? Merekakan cuma orang kampung. Hanya karena kakak mereka menikah dengan Mas Wisnu, bukan berarti mereka menjadi adik-adikmu,” ejek Susan.


“Jaga mulutmu, Susan! Tidak pantas kamu berbicara seperti itu. Bagaimanapun mereka sudah menjadi bagian dari keluarga ini,” seru Wira.


Susan kembali mengerucutkan bibirnya.


Namun tiba-tiba Susan tersenyum.


“Bagaimana kalau kita SAL? ( **** after lunch ). Sudah lama kita tidak pernah main,” bisik Susan dengan jari jemarinya bermain di dada Wira.


“Nggak ah, aku sedang tidak mood,” jawab Wira.

__ADS_1


“Udah, deh. Mendingan sekarang kamu pulang aja. Daripada mengganggu aku terus.”


Wira menuntun Susan menuju ke pintu pagar lalu menyuruh Susan keluar dari halaman rumahnya.


“Bye, Susan. Sampai ketemu lagi tahun depan,” kata Wira.


Dengan cepat-cepat Wira menutup pintu pagar.


“Wira! Teganya kamu sama aku,” kata Susan.


“Pak, jaga jangan sampai dia masuk!”


“Kalau sampai dia masuk, Bapak saya pecat!” seru Wira.


“Baik, Den,” jawab Pak Udin.


“Wira!” Susan memanggil Wira. Namun Wira tidak memperdulikannya.


“Kenapa kamu tertawa?” Tanya Wira kepada Arif dengan curiga.


“Pacar Mas Wira yahud,” ujar Arif sambil mengacungkan jempolnya dan menahan tawanya.


“Masih bocil sudah tau pacar dan kata yahud,” seru Wira.


“Lagi pula, dia bukan pacar saya,” kata Wira.


“Kalau bukan pacar terus apa dong, Mas?” Tanya Dodi penasaran.


“Kalian masih kecil! Kalau saya kasih tau, tidak akan mengerti,” jawab Wira.


Wira berjalan masuk ke dalam rumah namun langkah Wira kembali berhenti.


“Hei, kalian mau masuk ke dalam, nggak? Kalau tidak mau, Mas Wira habiskan kue dan makanannya,” seru Wira.

__ADS_1


“Jangan, Mas! Kita belum kebagian,” kata Arif.


Cepat-cepat anak-anak itu masuk ke dalam rumah, karena takut kehabisan kue dan makanan.


Wira tersenyum melihat tingkah mereka dan mengikuti mereka dari belakang. Sesampainya di dalam Dodi dan sepupunya langsung menyerbu kue-kue yang dihidangkan.


“Sudah pada lapar, ya?” Tanya Ibu Deswita ketika melihat adik dan sepupu Haifa memakan kuenya seperti orang yang sedang kelaparan.


“Mana makanannya? Sudah siap, belum?” Tanya Pak Broto.


“Sebentar, sedang disiapkan oleh Haifa dan Bi Siti,” jawab Ibu Deswita.


“Haifa itu anaknya rajin sekali. Setiap hari selesai sholat subuh dia selalu membantu di dapur. Padahal tidak ada yang menyuruhnya untuk membantu di dapur,” puji Pak Broto.


“Alhamdullilah, kalau Haifa rajin,” ucap Ibu Euis.


“Sepertinya menantu saya yang rajin cuma Haifa,” kata Pak Broto.


“Pacar-pacarnya Wira, gayanya seperti selebgram, sosialita dan selebritis. Mereka mana mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga,” kata Pak Broto.


“Belum tentu Wira mau menikah sama mereka, Pah,” sahut Ibu Deswita.


“Siapa tau Wira juga mendapatkan wanita yang soleha, yang rajin dan juga setia,” kata Ibu Deswita.


“Aamiin ya robilalamin,” ucap Pak Broto.


Haifa datang menghampiri Ibu Deswita.


“Mah, makan siangnya sudah siap,” kata Haifa.


“Ayo kita makan dulu, kasihan anak-anak sudah pada kelaparan,” kata Pak Broto.


Pak Broto mengajak para tamunya menuju ke ruang makan untuk menikmati hidangan yang sudah di sediakan. Merekapun makan siang bersama dengan suasana penuh kekeluargaan.

__ADS_1


__ADS_2