Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
33. Ibu Deswita Yang Tidak Sabar.


__ADS_3

Bi Nani mengetuk pintu kamar Haifa. Namun tidak terdengar suara dari dalam kamar Haifa.


“Bagaimana, Bi?” Tanya Ibu Deswita yang berdiri di samping pintu.


“Sepertinya Haifa tidur, Bu,” jawab Bi Nani.


“Masa sih? Tadi sewaktu saya keluar dari kamarnya dia tidak kelihatan mengantuk,’ kata Ibu Deswita.


“Coba Bibi ketuk lagi!” kata Ibu Deswita yang penasaran.


Bi Nani kembali mengetuk kamar Haifa. Namun tidak terdengar sahutan apapun dari kamar Haifa.


“Sudah, langsung masuk saja,” kata Ibu Deswita.


Bi Nani membuka pintu kamar Haifa, pelan-pelan Bi Nani mengintip ke dalam kamar Haifa. Haifa sedang tidur di atas tempat tidur dengan posisi memeluk guling.


“Haifa sedang tidur, Bu,” bisik Bi Nani.


“Cepat sekali tidurnya. Padahal tadi dia segar bugar tidak terlihat mengantuk,” kata Ibu Deswita.


“Nanti saja testnya. Tunggu Haifa bangun,” kata Bi Nani.


“Tapi saya sudar tidak sabar ingin tahu hasilnya,” ujar Ibu Deswita yang tidak sabaran.


“Kasihan kalau dibangunkan sekarang. Nanti kepalanya jadi pusing,” kata Bi Nani yang berusaha memberi pengertian kepada Ibu Deswita.


“Ya sudah, deh. Nanti saja testnya.” Akhirnya Ibu Deswita mau mengalah.


“Tapi kalau waktunya makan siang Haifa belum bangun juga, kita bangunkan saja,” kata Ibu Deswita.


“Iya, Bu,” jawab Bi Nani.

__ADS_1


Akhirnya Bi Nani kembali ke dapur untuk meneruskan memasaknya yang tertunda dan Ibu Deswita kembali ke kamarnya.


Pukul dua belas siang waktu untuk makan siang bertepatan dengan suara adzan dzuhur berkumandang. Ibu Deswita keluar dari kamarnya lalu menghampiri Bi Nani yang sedang berada di ruang belakang bersama dengan ART lainnya.


“Bi Nani! Sudah ke kamar Haifa lagi, belum?” Tanya Ibu Deswita.


“Belum, Bu,” jawab Bi Nani.


“Ayo kita lihat Haifa lagi,” ajak Ibu Deswita.


“Sebentar, Bu. Sekalian saya bawa makan siang untuk Haifa,” kata Bi Nani.


Bi Nani mengambil makan siang untuk Haifa, setelah itu barulah mereka ke kamar Haifa.


Pelan-pelan Ibu Deswita membuka kamar Haifa. Ternyata Haifa masih tidur. Ibu Deswita dan Bi Nani masuk ke dalam kamar Haifa. Bi Nani menyimpan makan siang untuk Haifa di meja sofa. Sedangkan Ibu Deswita mendekati Haifa yang sedang tidur pulas.


“Haifa…bangun, Fa. Sudah siang.” Ibu Deswita menepuk bahu Haifa.


Sekali lagi Ibu Deswita membangunkan Haifa.


“Haifa….bangun, sayang. Sudah waktunya sholat.” Ibu Deswita menepuk-nepuk bahu Haifa.


Merasa ada yang menepuk-nepuk bahunya Haifa pun bangun dan menoleh ke Ibu Deswita.


“Mamah,” kata Haifa.


“Bangun! Sudah waktunya sholat dan makan siang,” kata Ibu Deswita sekali lagi.


Haifa berusaha untuk bangun.


“Pelan-pelan bangunnya! Jangan dipaksa nanti pusing,” kata Ibu Deswita.

__ADS_1


Haifa duduk di tempat tidur sambil menyender pada headboard tempat tidur.


Haifa mengambil gelas yang berisi air minum , yang disimpan di atas nakas. Haifa pun meminum airnya. Kemudian Haifa bangun dari tempat tidurnya.


“Eh…kamu mau kemana?” Tanya Ibu Deswita.


“Mau ke kamar mandi, Mah,” kata Haifa.


Mendengar Haifa mau ke kamar mandi mata Ibu Deswita langsung berbinar.


“Mana yang tadi Bibi beli?” Tanya Ibu Deswita kepada Bi Nani.


Sengaja Ibu Deswita tidak menyebut nama benda itu agar Haifa tidak kaget.


Bi Nani memberikan test pack kepada Ibu Deswita.


“Nanti di kamar mandi kamu tampung sedikit urinenya, terus kamu celupkan ini ke urine yang sudah kamu tampung. Biarkan dulu beberapa menit, terus  kamu berikan lagi ke Mamah,” kata Ibu Deswita.


“Ini apa, Mah?” Tanya Haifa sambil membulak-balik bungkus test pack.


“Pokoknya sekarang kamu lakukan yang Mamah suruh!” Ibu Deswita mendorong Haifa dengan pelan-pelan agar masuk ke dalam kamar mandi. Akhirnya Haifa pun masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Haifa ke luar dari kamar mandi. Lalu memberikan bungkus test pack kepada Ibu Deswita.


“Bismillahirohmanirohim,” ucap Ibu Deswita.


Dengan perasaan yang campur aduk Ibu Deswita membuka bungkus test pack dan mengambil isinya.


“Bi Nani!” panggil Ibu Deswita.


“Kenapa, Bu?” Bi Nani mendekati Ibu Deswita.

__ADS_1


__ADS_2