Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
11. Menemani Ke Pengajian.


__ADS_3

Haifa berdiri di depan cermin untuk memakai kerudung. Tiba-tiba…tok…tok…tok….terdengar suara pintu kamar Haifa diketuk.


“Haifa….sudah ditunggu Den Wisnu, tuh.” Terdengar suara Bi Nani memanggil Haifa.


“Iya Bi, sebentar,” jawab Haifa.


“Jangan lama-lama! Kasihan Den Wisnu sudah menunggu,” kata Bi Nani.


“Iya, Bi.”


Haifa cepat-cepat menggunakan kerudungnya.


Terdengar suara Wisnu di lantai bawah, “Bi, sudah jangan dipanggil-panggil lagi! Mungkin Haifa belum siap. Saya  tunggu, tidak usah terburu-buru.”


Haifa kaget ketika mendengar suara Wisnu di lantai dasar. Berarti Wisnu sudah siap dan sedang menunggunya.


Haifa merapihkan penampilan sekali lagi, setelah merasa sudah rapih Haifa keluar dari kamarnya sambil membawa tas kesayangannya.


Wisnu sedang berdiri di dekat pintu dapur. Pandangannya matanya tertuju pada kamar Haifa yang terletak di lantai atas di antara deretan kamar para asisten rumah tangga.. Ketika pintu kamar Haifa terbuka, Wisnu melihat Haifa keluar dari kamarnya dengan terburu-beru.


“Jangan terburu-buru! Nanti jatuh,” seru Wisnu.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


Haifa jalan menuju tangga dan turun menuju lantar dasar. Wisnu memperhatikan penampilan Haifa. Haifa nampak manis menggunakan baju muslim berwarna putih serta kerudung berwarna putih. Serasi dengan baju koko yang dipakai oleh Wisnu yaitu warna putih.


“Ayo, kita berangkat sekarang,” ajak Wisnu.


“Haifa pamit dulu ke Bi Nani,” kata Haifa.


“Iya.”


Haifa berjalan menuju dapur sedangkan Wisnu duluan menuju ke mobilnya. Kebetulan Ibu Deswita sedang berada di dapur.


“Ibu, saya pamit dulu. Mau menemani Den Wisnu,” kata Haifa.


“Iya. Titip Wisnu ya, Fa. Hati-hati di jalan,” kata Ibu Deswita.


“Iya, Bu.” Haifa mencium tangan Ibu Deswita.


Kemudian Haifa beralih ke Bibinya.


“Bi, Haifa pergi dulu.” Haifa mencium tangan Bibinya.


“Hati-hati di jalan!” pesan Bi Nani.


“Ya, Bi. Assalamualaikum,” ucap Haifa.


“Waalaikumsalam,” balas Bi Nani.


Haifa menyusul Wisnu yang sudah menunggunya di mobil.


Bi Nani memperhatikan Haifa dari belakang.


“Bagaimana, Bi?” tanya Ibu Deswita yang juga memperhatikan Haifa yang berjalan menuju ke mobil.


“Nggak tau, Bu. Saya juga bingung. Mereka sebenarnya sebatas teman atau lebih dari itu atau seperti saudara?” jawab Bi Nani.


Ibu Deswita menghela nafas.


“Sepertinya mereka harus lebih sering bersama,” kata Ibu Deswita.


“Biarkan saja mengalir seperti air. Kalau sudah waktunya, mereka pasti akan bicara terus terang,” kata Bi Nani.


“Benar juga, ya Bi,” kata Ibu Deswita.


Bi Nani melanjutkan memasaknya dan Ibu Deswita masuk ke dalam rumah.


.

__ADS_1


.


Mobil yang dikendarai oleh Wisnu berhenti di sebuah perumahan. Di depan rumah tersebut banyak mobil-mobil yang parkir di pinggir jalan, sepertinya para tamu sudah datang. Haifa keluar dari mobil terlebih dahullu dan menunggu Wisnu keluar dari mobil. Setelah Wisnu keluar dari mobil Haifa mengikuti Wisnu menuju ke rumah Reza.


“Assalamualaikum,” ucap Wisnu ketika masuk ke dalam halaman rumah Reza.


“Waalaikumsalam,” ucap semua orang yang sedang duduk di halaman rumah Reza.


“Eh….Pak Direktur datang,” ujar Bobby.


Wisnu tersenyum dan menghampiri Bobby lalu menyalaminya.


“Apa kabar, Bob?” sapa Wisnu.


“Baik, Pak Direktur,” jawab Bobby.


Teman-teman Wisnu yang lain menghampiri Wisnu dan menyalaminya.


“Wisnu, ini siapa?” Bobby menununjuk ke Haifa yang berada di belakang Wisnu.


Wisnu menoleh ke belakang.


“Oh…dia adik gue,” jawab Wisnu.


“Adik? Adik darmana? Bukannya adik loe cuma Wira dan Wina?” tanya Bobby bingung.


Wisnu menghampiri Haifa lalu tangannya menyentuh punggung Haifa.


“Haifa, kenalkan ini teman-teman Mas Wisnu,” kata Wisnu.


Haifa menyalami teman-teman Wisnu dengan salam ala orang sunda tapi tidak sampai menyentuhkan tangan orang yang disalaminya.


“Ah….ini sih bukan adiknya Wisnu. Cara salamannya aja beda,” kata Prima.


“Wisnu, elu bawa anak tetangga, ya?” celetuk Prima.


“Bukan anak tetangga. Sepertinya sugar baby Wisnu,” sahut Dito.


“Eh…Wisnu, kapan datang?” sapa Reza ketika melihat Wisnu yang sedang tersenyum mendengar celotehan teman-temannya.


Reza menghampiri Wisnu dan menyalaminya.


“Selamat, ya Rez atas kelahiran anaknya. Semoga menjadi anak yang sholeh,” ucap Wisnu.


“Aamiin. Terima kasih, Wisnu.”


Reza melihat Haifa yang menempel di belakang Wisnu.


“Eh…ini siapa, Wis?’ tanya Reza menunjuk ke arah Haifa.


“Ini adik gue,” jawab Wisnu.


“Adik loe yang mana?” tanya Reza bingung.


Setahu Reza adik Reza hanya ada dua yaitu Wira dan Wina. Wira kerja di Thailand sedangkan Wina kuliah di Amerika.


“Sugar baby nya Wisnu, tuh Rez,” sahut Dito.


“Mana ada sugar baby pakai jilbab?” tanya Prima.


“Kan mau ke pengajian jadi pakai jilbab. Nanti di rumah pakai lingerie,” jawab Dito dengan seenaknya.


Langsung disambut dengan tawa teman-teman Wisnu.


“Ada apa sih? Kok berisik sekali?”


Tiba-tiba Rina keluar dari dalam rumah.


“Biasa lagi pada ngegangguin Wisnu,” jawab Reza.

__ADS_1


Wisnu menghampiri Rina.


“Rin, selamat atas kelahiran anaknya. Semoga menjadi anak yang sholeh,” ucap Wisnu.


“Aamiin yarobilalamin. Terima kasih, Wisnu,” ucap Rina.


Wisnu menoleh ke belakang.


“Haifa, mana kadonya? Kasihkan ke Mbak Rina!” kata Wisnu.


Haifa maju dan mendekati Rina lalu memberikan kadonya kepada Rina.


“Selamat, ya Mbak. Atas kelahiran dede bayinya,” ucap Haifa.


“Terima kasih,” ucap Rina.


“Rin, kata Haifa mau lihat adik bayi,” kata Wisnu kepada Rina.


“Oh….mau lihat adik bayi? Ayo sini masuk, " kata Rina.


Rina mengajak Haifa masuk ke dalam rumah.


“Sebentar lagi pengajian dimulai. Duduknya di dalam saja ikut pengajian sama ibu-ibu. Biar Wisnu di luar sama bapak-bapak,” kata Rina.


“Iya, Mbak,” jawab Haifa.


Rina membawa Haifa ke sebuah kamar dan membuka pintu kamar pelan-pelan. Haifa mengikuti Rina masuk ke dalam kamar itu.


“Lagi bobo bayinya,” bisik Rina.


Rina mendekati tempat tidur bayi yang berada di dalam kamar tersebut lalu di buka kelambunya agar Haifa bisa melihat bayi.


“Iiihhh lucu sekali,” kata Haifa pelan-pelan.


“Siapa namanya, Mbak?” tanya Haifa.


“Namanya Nouval,” jawab Rina.


“Namanya bagus sekali. Cocok dengan wajahnya yang tampan,” puji Haifa.


“Mau nggak punya adik bayi?” tanya Rina.


Haifa hanya menanggapinya dengan tersenyum.


“Kalau mau adik bayi, minta sama Wisnu. Kalau perlu minta sambil merengek, pasti dikasih,” kata Rina sambil tersenyum.


“Sudah lama kenal dengan Wisnu?” tanya Rina.


“Belum, baru kenal beberapa hari,” jawab Haifa.


“Kenalan dimana?” tanya Rina lagi.


“Di rumah Mas Wisnu,” jawab Haifa.


“Di rumah Wisnu? Kamu anak teman Tante Deswita, ya?” tanya Rina dengan penuh rasa ingin tahu.


“Bukan, saya keponakan Bi Nani,” jawab Haifa.


“Bi Nani yang suka masak di rumah Wisnu?” tanya Rina.


“Kok Mbak tau?” tanya Haifa kaget.


“Taulah. Dulu waktu jaman masih kuliah sering ke rumah Wisnu sama teman-teman. Biasalah numpang makan,” jawab Rina.


“Masakan Bi Nani itu enak sekali,” puji Rina.


Tiba-tiba terdengar suara pembukaan dari wakil ibu-ibu pengajian, pertanda pengajian akan dimulai.


“Kita keluar, yuk. Pengajiannya sudah akan dimulai,” kata Rina.

__ADS_1


Haifa menjawab dengan anggukan. Rina dan Haifa pun keluar dari kamar tersebut untuk mengikuti pengajian.


__ADS_2