Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
8. Percakapan Ketika Jalan Macet.


__ADS_3

Haifa membereskan dokumen-dokumen yang berserakan di meja sofa. Haifa sudah mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Wisnu. Sekarang sudah jam empat, namun Haifa belum sholat ashar.


“Mas,” panggil Haifa.


“Hmm,” jawab Wisnu namun matanya tetap fokus ke layar laptop.


“Sudah jam empat, Haifa sholat dulu, ya," kata Haifa.


Wisnu menoleh ke arah Haifa.


“Sholat di sini saja,” kata Wisnu.


“Kamu wudhu duluan.”


“Iya, Mas.” Haifa pun berjalan menuju pintu.


Ketika Haifa hendak menyentuh handel pintu tiba-tiba…


“Hei…mau kemana?” tegur Wisnu.


Haifa mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.


“Mau ke kamar mandi mau wudhu,” jawab Haifa.


“Tidak usah keluar, itu kan ada kamar mandi. Wudhu di situ saja.” Wisnu menunjuk ke kamar mandi di ruangannya.


“Nggak ah, di kamar mandi luar saja,” kata Haifa lalu membuka pintu dan keluar dari ruangan Wisnu.


Melihat Haifa keluar dari ruangannya Wisnu menghela nafas. Gadis itu benar-benar menempatkan diri sebagai ART.


Wisnu meninggalkan pekerjaannya lalu pergi ke kamar mandi untuk wudhu. Setelah selesai wudhu Wisnu menggelar dua buah sajadah untuk dirinya dan untuk Haifa. Tak lama kemudia Haifa masuk ke dalam ruangan Wisnu.


“Saya sholat duluan,” kata Wisnu yang sudah bersiap-siap untuk sholat dan memulai sholatnya.


Haifa menggunakan mukenahnya lalu berdiri di atas sajadah yang sudah di siapkan oleh Wisnu. Haifah pun sholat ashar.


Setelah selesai sholat mereka pun bersiap-siap untuk pulang.


Wisnu dan Haifa berdiri di depan pintu liff menunggu liff yang akan turun ke bawah. Ketika pintu liff terbuka ternyata ada Pak Broto di dalam liff. Wisnu dan Haifa masuk ke dalam liff. Seperti biasa Wisnu berdiri di sebelah ayahnya dan Haifa berdiri di pojok belakang.


“Haifa, kenapa kamu belum pulang?” tanya Pak Broto hanya dengan melirik ke balakang.

__ADS_1


Haifa kaget ditanya oleh Pak Broto, karena Pak Broto belum pernah mengajaknya berbicara. Haifa juga takut dimarahi oleh Pak Broto karena masih berada di kantor Wisnu.


“Sa…saya disuruh menemani Den Wisnu membeli hadiah untuk anak temannya Den Wisnu,” jawab Haifa dengan gemetaran.


“Hadiah untuk anaknya siapa?” tanya Pak Broto ke Wisnu.


“Untuk anaknya Reza dan Rina. Semiggu yang lalu Rina melahirkan tapi Wisnu belum sempat menengok bayinya. Tadi pagi Reza datang ke kantor mengundang aqiqah anak mereka,” jawab Wisnu.


“Reza sudah punya anak, terus kapan Papah dikasih cucu?” tanya Pak Broto.


“Wisnu belum punya calon istri yang cocok, Pah. Wira dan Wina mungkin sudah punya calon,” jawab Wisnu.


“Papah maunya kamu duluan yang menikah dan memberikan Papah cucu,” kata Pak Broto.


Ting…terdengar bunyi tanda liff sudah sampai di lantai dasar.


“Papah tunggu kamu membawa calon istrimu ke rumah, hm,” kata Pak Broto sambil menepuk bahu Wisnu dua kali lalu keluar duluan dari liff.


Tinggal Wisnu dan Haifa yang belum turun. Wisnu diam setelah mendengar perkataan Pak Broto. Sedangkan Haifa tidak keluar dari Liff karena Wisnu masih di dalam liff. Ketika pintu liff hendak tertutup kembali Haifa cepat-cepat memencet tombol buka kalau tidak mereka akan kembali ke lantai atas.


“Mas…ayo kita keluar,” ajak Haifa.


Wisnu langsung tersadar dari lamunannya. Lalu keluar dari liff. Haifa mengikuti Wisnu dari belakang. Wisnu menghampiri Ira di meja resepsionis.


“Baik, Pak.”


Ira mengambil kunci mobil dari meja resepsionis lalu diberikan kepada Wisnu.


“Terima kasih,” ucap Wisnu.


“Ayo, Fa.”


Wisnu berjalan menuju ke tempat parkir mobil. Haifa mengikuti Wisnu dari belakang.


Ketika sampai di tempat parkir Wisnu membuka kunci mobilnya dengan menggunakan remote.


“Ayo masuk.”


Wisnu membuka pintu mobil. Haifa bingung dia harus duduk dimana? Di depan atau di belakang.


Wisnu yang sudah masuk ke dalam mobil langsung ke luar lagi dari mobilnya.

__ADS_1


“Ayo masuk! Kamu ngapai bengong di situ?" kata Wisnu.


“Sa…saya bingung harus duduk dimana? Dimana di depan atau di belakang?” tanya Haifa dengan ragu.


“Ya di depan, saya bukan supir kamu!” kata Wisnu.


“Baik, Mas.”


Haifa membuka pintu mobil bagian depan lalu masuk ke dalam mobil.


“Pasang seat beltnya!” kata Wisnu sambil menyalakan mesin mobil.


Haifa menarik seatbelt yang berada di sebelahnya lalu memakai seat belt. Wisnu mulai mengemudikan mobilnya. Ketika melewati security Wisnu mengangkat tangan dan dibalas anggukan oleh satpam. Kemudian mobilpun meluncur di jalan raya.


Jalanan sore itu sudah mulai terasa macet karena jam pulang kantor. Pandangan Wisnu fokus ke jalan raya. Sedangkan Haifa melihat suasana di luar mobil dari kaca jendela.


“Saya kalau menyetir mobil harus ada yang menemani tidak boleh menyetir sendiri,” kata Wisnu sambil fokus ke depan.


Haifa menoleh ke arah Wisnu.


“Biasanya Mas Wisnu ditemani siapa?” tanya Haifa.


“Biasanya disupiri Pak Tono. Kadang-kadang suka kasihan pada Pak Tono, kalau weak end saya ada acara Pak Tono tidak bisa libur kerja,” jawab Wisnu sambil menoleh ke Haifa sebentar.


“Apa Mas Wisnu tidak mempunyai teman yang bisa menemani Mas Wisnu?” tanya Haifa.


“Teman saya sudah berkeluarga semua. Mereka lebih sering menghabiskan waktunya bersama keluarga,” jawab Wisnu sambil menoleh ke arah Haifa.


“Maksud Haifa teman perempuan. Mas Wisnu pasti punya teman perempuan yang bisa menemani Mas Wisnu,” kata Haifa.


“Malas dekat-dekat teman perempuan, saya takut mereka salah sangka terhadap saya. Maksud saya hanya berteman biasa tapi mereka mengartikannya lain,” jawab Wisnu.


“Berarti Mas Wisnu harus menikah dan memiliki istri. Jadi Mas Wisnu ada yang menemani kemanapun Mas Wisnu pergi,” kata Haifa.


Wisnu diam sejenak mendengar perkataan Haifa.


“Begitu, ya?” tanya Wisnu.


“Iya Mas,” jawab Haifa.


“Kalau kamu menjadi istri saya, kamu mau nggak?” tanya Wisnu sambil fokus ke depan Mobil yang dikendarainya sebentar-bentar harus berhenti karena macet.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Wisnu muka Haifa langsung berubah menjadi malu. Wisnu menoleh ke Haifa sebentar lalu tersenyum melihat perubahan wajah Haifa.


“Saya cuma bercanda, jangan dimasukkan ke dalam hati,” kata Wisnu sambil memajukan mobilnya karena kendaraan yang di depan sudah melaju dengan kecepatan sedang.


__ADS_2