Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
82. Habil Wira Hutama.


__ADS_3

Sepulangnya dari rumah sakit Wira langsung menelepon Mamahnya.


“Assalamualaikum, Mah,” ucap Wira.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Deswita.


“Mah, Wira mau kasih tau kalau Haifa sedang hamil empat minggu,” kata Wira.


Inu Deswita diam tidak bersuara.


“Mah,” panggil Wira.


Ibu Deswita masih diam.


“Hallo, Mah,” panggil Wira.


Ibu Deswita masiih saja diam.


“Mah…..Mamah nggak apa-apa, kan?” tanya Wira khawatir.


Ibu Deswita menghela nafas.


“Mamah tidak apa-apa, yang Mamah khawatirkan istrimu dan anak-anakmu. Haifa memang masih muda, tapi bukan berarti kamu dengan seenaknya membuatnya hamil setiap tahun. Kasihan Haifa. Bagaimanapun juga rahimnya perlu beristirahat,” kata Ibu Deswita.


“Belum lagi anak-anakmu tidak bisa mendapatkan ASI eklusif. Mereka juga tidak bisa merasakan pelukan ibu mereka, karena ibu mereka tidak bisa menggendong mereka. Mereka jadi kehilangan hak mereka. Kamu tidak adil kepada anak-anakmu,” kata Ibu Deswita dengan kesal.


“Terus Wira harus bagaimana? Masa harus digugurin?” tanya Wira.


“ASTAGFIRULLAHALADZIM, WIRA!!!!!” seru Ibu Deswita dengan marah.


“Wira harus bagaimana?” tanya Wira bingung.


“Mamah minta kamu harus bertanggung jawab,” kata Ibu Deswita.


“Iya, makanya Wira menikahi Haifa karena Wira bertanggung jawab,” jawab Wira.


“Bukan itu Wira!!!!” seru Ibu Deswita dengan gemas.


“Nanti kalau bayi sudah lahir, kamu harus dikb! Bukan Haifa!” kata Ibu Deswita.


“Tapi, Mah….,” kata Wira.


“Nggak ada tapi-tapian! Pokoknya Kamu harus dikb!!! Jadi laki-laki harus tanggung jawab, jangan mau seenaknya aja! Pokoknya setelah bayi lahir, harus kosong sampai dua tahun! Setelah dua tahun baru boleh punya anak lagi,” kata Ibu Deswita.


“Iya, Mah,” jawab Wira.


“Sekarang kamu telepon mertuamu, dan katakan kalau Haifa hamil. Tapi harus kamu yang bicara, jangan Haifa. Pokoknya Mamah mau kamu bertanggung jawab!” kata Ibu Deswita.


“Iya, Mah,” jawab Wira.


“Ya sudah. Mamah mau kasih tau Papah dulu. Assalamualaikum,” ucap Ibu Deswita.


“Waalaikumsalam,” jawab Wira.


Wira mematikan teleponnya lalu menghela nafas.


“Kenapa, Mas?” tanya Haifa.


“Mamah marah setelah diberitahu kamu hamil,” kata Wira.


“Pastilah marah, cucunya gagal lagi dapat ASI eklusif,” jawab Haifa dengan santai.


“Kok kamu menyalahkan Mas juga?” tanya Wira dengan kesal.


“Bukan menyalahkan. Sebelumnya Haifa sudah memberitahu Mas Wira, tapi Mas Wira nggak mau dengar,” kata Haifa.


“Bagaimana tidak tergoda punya istri masih muda dan cantik. Bawaannya mode on terus,” jawab Wira.


Wira mendekati Haifa lalu mencium bi-birnya.


“Kita main, ya. Mas mau ngelongok bayi,” bisik Wira.


“Jangan main-main, deh Mas. Belum lewat trisemester pertama. Pokoknya Mas Wira harus dijatah. Sebulan cuma boleh tiga kali,” kata Haifa.


“Pelit amat sama suami. Biasanya juga boleh lebih dari itu,” Wira protes.


“Haifa mau tidur, ngantuk,” kata Haifa.


Haifa merebahkan diri di atas tempat tidur lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.


“Ya sudah kalau nggak boleh,” kata Wira.


Kemudian Wira menelepon Ibu Euis.


“Assalamualaikum,” ucap Wira.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Euis.


“Bagaimana keadaan kalian?” tanya Ibu Euis.


“Alhamdulliah semuanya sehat,” jawab Wira.


“Syukurlah kalau semuanya sehat,” kata Ibu Euis.

__ADS_1


“Mah, Wira mau kasih tau kalau Haifa sekarang sedang hamil empat minggu,” kata Wira.


Ibu Euis diam sejenak.


“Haifa hamil lagi?” tanya Ibu Euis.


“Iya, Mah,” jawab Wira.


“Sudah diperiksa ke dokter?” tanya Ibu Euis.


“Sudah, Mah. Kata dokter Haifa dan bayinya dalam keadaan sehat,” jawab Wira.


“Wira, Mamah tau secara ekonomi kamu mampu. Tapi yang namanya kesehatan tidak bisa dibeli dengan uang. Mamah harap nanti setelah bayi kalian lahir, jaga jangan sampai Haifa hamil. Biarkan rahimnya istirahat dulu, minimal kosong dua tahun. Kasihan Haifa kalau harus hamil terus menerus setiap tahun,” kata Ibu Euis.


“Iya, Mah,” jawab Wira.


“Mamah titip Haifa dan cucu-cucu Mamah. Jaga mereka baik-baik. Terutama Alifa, jangan sampai dia merasa terabaikan karena Mamahnya sedang hamil lagi,” kata Ibu Euis.


“Iya, Mah. Wira mengerti,” jawab Wira.


“Sudah malam, Mamah mau istirahat dulu. Assalamualaikum,” ucap Ibu Euis.


“Waalaikumsalam,” jawab Wira.


Wirapun mematikan teleponnya.


****


Delapan Bulan Kemudian.


“Assalamualaikum,” ucap Wira ketika masuk ke dalam rumah.


“Waalaicumcalam,” jawab Alifa sambil berlari menghampiri ayahnya.


Najril juga ikut menghampiri ayahnya. Kedua anak itu mencium tangan ayah mereka.


“Ayah, tadi Dede pipisin clayon Teteh,” kata Alifa.


“Kok, bisa?” tanya Wira kaget.


“Kan tadi Dedenya abis ee, belum pake popok jongkok di depan clayon Teteh. Eh…langsung cel, Dedenya pipis deh,” Jawab Alifa.


Wira langsung menoleh ke Najril. Najril langsung takut ketika ditatap oleh ayahnya.


“Dede, kata Ayah kalau pipis dimana?” tanya Wira.


“Ji kamal madi,” jawab Najril.


“Iya, Aya,” jawab Najril.


Lalu Wira beralih lagi ke Alifa.


“Nanti Teteh, Ayah belikan crayon baru,” kata Wira sambil mengusap kepala Alifa.


“Ngga ucah, Ayah. Clayonnya suda dicuci cama Mba Sli,” jawab Alifa.


“Nggak apa-apa, nanti beli yang baru lagi,” kata Wira.


“Aya, Dede uga au cayon kaya Tete,” sahut Najril.


“Iya. Nanti Dede, Ayah belikan juga,” jawab Wira.


“Mamah mana?” tanya Wira.


“Mamah di kamal. Kaki Mamah cakit,” jawab Alifa.


“Sakit kenapa?” tanya Wira.


“Ngga tau. Tadi Mba Sli mau telepon Ayah, tapi kata Mamah ngga usah belom waktunya,” jawab Alifa.


“Teteh jaga Dede, ya! Ayah ke kamar dulu,” kata Wira.


“Iya, Ayah,” jawab Alifa.


“Ayo, De. Kita main lagi,” kata Alifa.


Wira langsung menuju ke kamarnya. Ia melihat Haifa baru selesai sholat namun kesulitan untuk bangun.


“Assalamualaikum,” ucap Wira sambil masuk ke dalam kamar.


“Waalaikumsalam,” jawab Haifa.


Wira mendekati Haifa.


“Kamu kenapa?” tanya Wira.


“Kaki Haifa sakit. Mau bangun juga susah,” jawab Haifa.


“Mas bantu,” Wira memegang tubuh Haifa dam membantu Haifa berdiri.


“Kita ke rumah sakit, ya,” kata Wira sambil memapah Haifa menuju ke tempat tidur.


“Belum waktunya, Mas. Baru sembilan bulan,” jawab Haifa.

__ADS_1


“Tapi kamu waktu melahirkan Alifa, sembilam bulan kurang,” kata Wira.


“Waktu itu kan Haifa sedang berduka, Mas,” jawab Haifa.


Tiba-tiba Haifa merasa seperti ada yang keluar dari kewanitaannya.


“Kenapa?” tanya Wira cemas.


Ia melihat istrinya seperti merasakan sesuatu.


“Mas, seperti ada cairan yang keluar,” kata Haifa.


“Coba kamu lihat,” kata Wira.


Haifa membuka pa-kaian da-lam di depan suaminya. Ada darah di pa-kaian da-lamnya. Wira langsung kaget melihatnya.


“Ayo kita ke rumah sakit sekarang,” kata Wira dengan cemas.


Wira menyiapkan semua keperluan untuk dibawa ke rumah sakit. Setelah itu barulah Wira memapah Haifa menuju ke mobil.


“Mama, au ana?” tanya Najril melihat mamahnya dipapah oleh ayahnya.


“Mamahnya mau ke rumah sakit. Najril di rumah, ya sama Teteh dan Mbak Sri,” jawab Wira.


“Dede au icut,” rengek Najril.


“Dede di rumah aja sama Teteh. Kica gambal binatang,” hibur Alifa.


“Pake cayon?” tanya Najril.


“Iya, pakai clayon,” jawab Alifa.


“Dede au gambal jelapa aja. Ngga au icut Mama,” kata Najril.


“Alhamdullilah,” ucap Wira.


Wira cepat-cepat membawa Haifa ke mobil sebelum Najril merengek lagi.


Sesampainya di rumah sakit Wira memapah Haifa menuju ke ruang bersalin.


“Pakai kursi roda, ya?” tanya Wira ke Haifa.


“Jangan, Mas! Jalan saja biar cepat keluar. Kalau sama Mamah Euis dan Mamah Deswita, Haifa tidak boleh pakai kursi roda, harus tetap jalan walaupun sakit sekali,” jawab Haifa.


“Ya sudah, kita jalan. Tapi kalau sudah tidak kuat, bilang ya!” kata Wira.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


Akhirnya Haifa dan Wira berjalan menuju ke ruang bersalin. Walaupun sakit kakinya, Haifa terus saja berjalan sampai ruang bersalin. Begitu sampai di ruang bersalin, Wira langsung memanggil suster.


“Suster! Istri saya mau melahirkan,” seru Wira.


Suster yang bertugas langsung menghampiri mereka. Wira memapah Haifa menuju ke tempat tidur.


“Saya periksa dulu, Pak,” kata suster sambil menutup tempat tidur dengan hordeng.


Suster memeriksa jalan lahir Haifa.


“Sudah pembukaan sembilan. Saya panggilkan dokter,” kata suster.


Suster kembali ke ruang suster untuk memanggil dokter. Setelah tiga puluh menit menunggu, akhirnya dokter kandungan datang juga. Dokter langsung memeriksa jalan lahir Haifa.


“Sudah pembukaan sepuluh. Sudah lengkap pembukaannya,” kata dokter.


“Bapak masih ingat cara membantu istri melahirkan?” tanya dokter.


“Masih, Dok,” jawab Wira.


“Oke, sekarang kita,” kata dokter.


Lima menit kemudian terdengarlah suara tangisan bayi. Seorang bayi laki-laki yang diberi nama Habil Wira Hutama.


.


.


The End.


.


.


.


.


Terima kasih kepada semua pembaca Kisah Cinta Haifa yang sudah membaca dari awal bab hingga tamat.


Kenapa sudah tamat? Karena outline yang saya buat hanya sampai di sini.


Sampai ketemu di novel saya berikutnya.


Peluk cium untuk semuanya😘.

__ADS_1


__ADS_2