
Setelah selesai sarapan Wisnu dan Haifa pamit kepada Ibu Deswita dan Pak Broto.
“Bu, saya pamit pulang dulu. Nanti kalau Ibu saya sudah sembuh, saya akan kembali lagi ke sini,” kata Haifa.
“Iya, tidak apa-apa. Jaga ibumu baik-baik!” jawab Ibu Deswita.
Ibu Deswita mengeluarkan amplop putih, Ibu Deswita memegang tangan kanan Haifa lalu ditaruhnya amplop putih itu di atas telapak tangan Haifa.
“Ibu tidak bisa memberikan oleh-oleh untuk keluargamu. Tapi Ibu titip ini untuk Ibumu,” kata Ibu Deswita.
“Tidak usah, Bu, " tolak Haifa.
Haifa berusaha menarik tangannya.
“Ini untuk Ibumu. Untuk membeli obat-obatan Ibumu,” kata Ibu Deswita.
“Tapi Ibu saya sudah berobat ke puskesmas,” kata Haifa.
“Haifa,” panggil Wisnu.
Haifa menoleh ke Wisnu.
“Terima saja,” kata Wisnu.
“Tapi, Mas,” ujar Haifa.
“Sudah terima saja,” kata Wisnu sekali lagi.
Dengan berat Haifa menerima amplop pemberian Ibu Deswita. Sebenarnya Haifa tidak ingin menjadi beban keluarga Ibu Deswita.
“Terima kasih, Bu,” ucap Haifa dengan terharu.
“Saya pamit dulu, Bu.” Haifa mencium tangan Ibu Deswita.
Lalu Haifa beralih ke Pak Broto.
“Saya pamit pulang dulu, Pak.” Haifa mencium tangan Pak Broto.
“Sampaikan salam saya kepada kedua orang tuamu,” kata Pak Broto.
“Baik, Pak,” jawab Haifa.
Sekarang giliran Wisnu pamit kepada kedua orang tuanya.
“Mah, Wisnu berangkat dulu,” pamit Wisnu.
“Hati-hati di jalan, ya!” pesan Ibu Deswita.
“Ya, Mah.”
Wisnu mencium tangan Ibu Deswita.
Kemudian Wisnu beralih ke Pak Broto.
“Pah, Wisnu berangkat dulu,” pamit Wisnu.
“Iya, hati-hati di jalan. Kalau cape lebih baik kalian menginap saja dulu, jangan langsung pulang ke Jakarta,” pesan Pak Broto.
“Iya, Pah,” jawab Wisnu.
Kemudian Wisnu mencium tangan Pak Broto.
__ADS_1
“Assalamualaikum,” ucap Wisnu dan Haifa bersamaan.
“Waalaikumsalam,” balas Pak Broto dan Ibu Deswita.
Haifa dan Wisnu keluar dari rumah menuju ke mobil Wisnu yang sudah terparkir di depan rumah. Pak Tono sudah menunggu di samping mobil.
Sebelum masuk ke dalam mobil Haifa pamit terlebih dahulu kepada Bi Nani yang berdiri besama dengan Mang Diman di depan garasi.
“Bi, Haifa pulang dulu.” Haifa mencium tangan Bi Nani.
“Salam sama Mamahmu. Maaf Bibi belum bisa nengok,” kata Bi Nani.
“Iya, Bi," jawab Haifa.
“Mang, Haifa pulang dulu.” Haifa mencium tangan Mang Diman.
“Iya,” kata Mang Diman sambil menepuk-nepuk bahu Haifa.
Giliran Wisnu pamit kepada Mang Diman dan Bi Nani.
“Mang Diman, Bi Nani saya pergi dulu,” kata Wisnu.
“Titip Haifa, ya Den,” kata Bi Nani.
“Ya, Bi,” jawab Wisnu.
“Assalamuaikum,” ucap Haifa dan Wisnu.
“Waalaikumsalam,” balas Bi Nani dan Mang Diman.
Wisnu dan Haifa masuk ke dalam mobil, mereka berdua duduk di bangku penumpang. Sedangkan Pak Tono yang menyetir mobilnya.
Jalanan di dalam kota pagi itu masih belum macet, karena mereka berangkatnya masih pagi yaitu pukul setengah tujuh, namun ketika mobil masuk ke tol lingkar luar jalanan mulai padat. Hari ini adalah hari kerja sehingga banyak orang yang berangkat kerja dengan menggunakan tol lingkar luar. Mobilpun berjalan dengan merayap. Ketika keluar dari tol Cikunir kemacetan mulai terpecah dan mobil dapat berjalan lancar. Setelah melewati Kerawang jalanan mulai kosong, karena mereka sudah melewati kawasan industri.
“Pak, kita mau lewat mana? Purbalenyi atau Kadipaten?” tanya Pak Tono.
Wisnu menoleh ke Haifa.
“Kita lewat mana?” tanya Wisnu ke Haifa.
“Kemarin Mang Diman lewat Kadipaten,” jawab Haifa.
“Pak, lewat Kadipaten,” kata Wisnu.
“Baik, Pak.” Pak Tono mengambil jalur sebelah kanan agar tidak terhalang oleh kendaraan yang akan belok kiri yang akan menuju ke Purbaleunyi.
(Author pilih lewat Kadipaten karena author belum pernah lewat terowongan Cadas Pangeran. Terakhir author ke Sumedang terowongan Cadas Pangerang masih dibuat.)
Jalan tol menuju ke Kadipaten cukup sepi sehingga Pak Tono mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sampai akhirnya mereka keluar di pintu tol Kadipaten. Jalan dari Kadipaten menuju Sumedang cukup lengang, hanya ketika mereka memasuki Nyalindung mereka bertemu dengan banyak truk pengangkut pasir dan truk pengangkut batu kali. Haifa menutup matanya karena Pak Tono harus mendahului truk dalam keadaan menanjak dengan jalan yang berkelok-kelok. Untung Pak Tono yang menyetir mobil, kalau Wisnu yang menyetir mobil mungkin Haifa sudah stress karena Wisnu harus menghadapi medan yang berat.
Setelah melalui rintangan yang cukup memicu adrenalin akhirnya mereka sampai di Cimalaka. Jalanan di Cimalaka sudah agak datar tapi padat merayap. Sampai akhirnya mereka masuk kabupaten Sumedang jalanan mulai lancar.
Pak Tono mengarahkan mobil ke tengah kota Sumedang. Sebelum apotik Pajaji , Pak Tono membelokkan mobilnya ke kiri. (Hayo orang Sumedang siapa yang ingat apotik Pajaji? Apotik legendaris di Sumedang) Tiga ratus meter kemudian akhirnya mereka sampai di rumah Haifa.
“Pak, parkir di sini saja.” Haifa menunjuk ke tanah kosong yang terselang dua rumah dari rumahnya.
“Kalau begitu Pak Wisnu dan Non Haifa turun dulu, baru saya parkirkan mobilnya,” kata Pak Tono.
Haifa dan Wisnu turun dari mobil sekalian mengambil tas travel milik Haifa yang berada di bagasi. Lalu Wisnu dan Haifa berjalan menuju ke rumah Haifa.
“Assalamualaikum,” ucap Haifa sambil mengetuk pintu rumahnya.
__ADS_1
“Waalaikumsalam.” Terdengar suara seseorang dari dalam rumah.
Pintu rumahpun terbuka, nampak Ibu Euis membukakan pintu.
“Haifa,” ucap Ibu Euis yang kaget melihat Haifa berdiri di depan pintu rumahnya.
Haifa langsung mencium tangan Ibu Euis.
“Sama siapa kamu ke sini?” tanya Ibu Euis.
Ibu Euis melihat Wisnu yang berdiri di belakang Haifa sambil tersenyum ke arah Ibu Euis.
“Itu siapa Haifa?” tanya Ibu Euis.
Haifa menoleh ke belakang.
“Mah, kenalkan ini Mas Wisnu. Anak majikan Bi Nani,” kata Haifa.
Wisnu menyalami Ibu Euis.
“Masyallah meni kasep kieu,” ucap Ibu Euis ketika melihat ketampanan Wisnu.
(Masyaallah ganteng sekali)
Wisnu hanya tersenyum mendengar pujian dari Ibu Euis.
“Silahkan masuk Den Wisnu,” ucap Ibu Euis.
Haifa dan Wisnu masuk ke dalam rumah.
“Maaf rumahnya Haifa kecil dan berantakan,” kata Ibu Euis sambil membereskan meja ruang tamu yang berantakan dengan buku-buku milik Dodi.
Sedangkan Haifa langsung menuju kamarnya menaruh tas travelnya.
“Dodi kebiasaan kalau mau berangkat sekolah, buku-buku yang tidak terpakai suka ditaruh begitu saja di meja,” kata Ibu Euis.
“Silahkan duduk, Den Wisnu,” ucap Ibu Euis.
“Itu siapa?” tanya Ibu Euis yang melihat Pak Tono sedang duduk di depan teras.
“Itu supir saya,” jawab Wisnu.
Ibu Euis langsung menuju ke luar.
“Pak, duduknya di dalam,” kata Ibu Euis kepada Pak Tono.
“Iya, Bu. Saya mau ikut ke kamar mandi,” kata Pak Tono.
“Silahkan, Pak.” Ibu Euis mengantar Pak Tono menuju ke kamar mandi.
Kemudian Ibu Euis kembali lagi ke ruang tamu menemani Wisnu. Sedangkan Haifa setelah dari kamarnya langsung membuatkan air minum untuk Wisnu dan Pak Tono. Haifa membawa dua buah cangkir teh ke depan yang satu ia berikan kepada Wisnu dan satu lagi untuk Pak Tono.
Tiba-tiba datang Bi Ros adik Bi Nani sambil membawa piring dengan kedua tangannya.
“Assamualaikum,” ucap Bi Ros ketika masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam,” balas Ibu Euis.
“Apa tuh, Ros?” tanya Ibu Euis melihat piring di kedua tangannya.
“Ini untuk Den Wisnu, saya di suruh masak sama Ceu Nani,” jawab Bi Ros.
__ADS_1