
Hari ini adalah hari keenam Alifa lahir. Besok hari sabtu Haifa akan mengadakan aqiqah Alifa. Seperti biasa Pak Tono ditugaskan untuk menjemput Pak Yayat dan Bi Ros sekeluarga.
“Ua, Mas Wira mana?” tanya Arif ketika baru datang.
Bi Nani menoleh ke Arif.
“Kamu datang-datang bukannya bilang asssalamualaikum dan salam sama Ua, tapi malah cari Den Wira,” kata Bi Nani.
“Ayo salam dulu.”
Bi Nani mengulurkan tangan ke Arif. Arif langsung mencium tangan Bi Nani.
“Sekarang Mas Wiranya mana?” tanya Arif.
“Belum pulang dari kantor,” jawab Bi Nani.
“Yah,” kata Arif dengan kecewa.
Tiba-tiba terdengar suara mobil masuk ke dalam garasi dan terdengar juga suara Alit yang bersorak-sorak.
“Aa….Mas Wira sudah datang,” kata Alit yang menghampiri Arif ke dapur.
“Mana?”
Arif langsung berlari ke garasi. Wira baru saja keluar dari mobil.
“Mas Wira,” panggil Arif.
“Assalamualaikum,” ucap Wira.
“Waalaikumsalam,” jawab Alit, Arif dan Dodi.
Alit, Arif dan Dodi bergantian mencium tangan Wira.
“Mas Wira, kapan kita ke café Mas Wira?” tanya Alit.
“Nanti, ya. Mas Wira masih cape baru pulang dari kantor,” jawab Wira.
Wira masuk ke dalam rumah sambil diikuti oleh Alit, Arif dan Dodi.
“Assalamualaikum,” ucap Wira ketika masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam,” jawab Haifa yang baru turun dari lantai atas sambil menggendong Alifa.
“Alifa sudah mandi, belum?” tanya Wira melihat keponakannya sedang melirik ke sana kemari.
“Sudah mandi, Om,” jawab Haifa.
“Mau ikut nggak jalan-jalan sama Tante Alit, Om Arif dan Om Dodi?” tanya Wira.
“Mau jalan-jalan kemana, Mas?” Haifa balik bertanya.
“Ke café,” jawab Wira.
“Aku pernah menjanjikan ke mereka untuk ngajak ke café,” kata Wira.
Haifa melotot ke Alit, Arif dan Dodi.
“Kalian bagaimana sih? Mas Wira baru pulang sudah diajak jalan-jalan,” kata Haifa.
“Nggak apa-apa. Nanti kita berangkatnya setelah sholat magrib,” kata Wira sambil mengusap kepala Alit.
“Hore…..,” sorak Arif dan Alit.
“Kamu ikut, ya! Biar nggak kesal di rumah terus,” kata Wira.
“Tapi Alifa masih kecil, Mas,” ujar Haifa.
“Pakaikan baju yang tebal dan selimut yang tebal,” kata Wira
“Haifa tanya dulu sama Mamah,” kata Haifa.
Haifa mendatangi Mamah dan Bapaknya yang sedang berbicara dengan Ibu Deswita dan Pak Broto di ruang tamu.
__ADS_1
“Mah, Alifa boleh dibawa keluar nggak?” tanya Haifa kepada Ibu Euis.
“Boleh. Memangnya mau dibawa kemana?” tanya Ibu Euis.
“Ke café milik Mas Wira. Dodi dan csnya menagih janji ke Mas Wira ,” kata Haifa.
“Nagih janji apa?” tanya Ibu Deswita.
“Janji mau diajak ke cafenya Mas Wira,” jawab Haifa.
“Kamu mau ikut?” tanya Ibu Deswita.
“Wira yang mengajak Haifa. Kasihan kalau Haifa di rumah terus,” jawab Wira yang tiba-tiba sudah berada di sebelah Haifa.
“Boleh, tapi jauhin dari polusi udara!” kata Ibu Deswita.
“Kamu duduknya di belakang. Biar Alifanya nggak kena ac,” kata Ibu Euis.
“Iya, Mah,” jawab Haifa.
“Tuh, bolehkan,” bisik Wira.
“Iya,” ujar Haifa.
Pukul setengah tujuh setelah sholat magrib Haifa bersiap-siap untuk pergi. Ia tidak lupa membawa peralatan untuk Alifa.
“Sudah siap?” tanya Wira ketika mereka bertemu di depan kamar.
“Sudah. Nih,” Haifa menunjukkan tas selempang bayi yang berisikan keperluan Alifa.
“Biar aku yang bawa,” kata Wra.
“Nggak usah, Mas. Tasnya ringan, kok,” kata Haifa.
“Kamu fokus menggendong Alifa. Tas aku yang bawa,” kata Wira yang hendak mengambil tas bayi yang tersampir di bahu Haifa.
Mau tidak mau Haifa memberikan tas itu kepada Wira.
“Berat juga,” kata Wira.
“Stollernya mana?” tanya Wira.
“Ada di bawah,” jawab Haifa.
Wira menuruni tangga terlebih dahulu. Namun ia turun perlahan sambil menjaga Haifa dari depan.
“Hati-hati turunnya,” kata Wira.
Haifa pelan-pelan menuruni tangga. Akhirnya sampai di lantai dasar. Di ruang makan para orang tua sedang makan malam.
“Tuh, Mas Wira dan Teteh Haifanya sudah turun,’ kata Pak Broto kepada Alit yang sudah tidak sabar menunggu Wira dan Haifa.
“Ini Alit sudah tidak sabar pengen cepat-cepat pergi,” kata Pak Broto.
Alit mendekati Haifa.
“Haifa pergi dulu, ya. Assalamualaikum,” ucap Haifa.
“Waalaikumsalam,” jawab semuanya.
Alit mengikuti Haifa menuju ke garasi mobil.
“Mau pakai mobil yang mana?” tanya Wira kepada Dodi, Arif dan Alit.
“Mau pakai yang ini atau yang itu?”
Wira menunjuk ke mobil milik Haifa dan mobil milik Wisnu.
“Memangnya Mas Wira nggak punya mobil? Kok nunjuknya ke mobil Teteh Haifa dan Mas Wisnu, sih,” celetu Arif.
Wira tertawa.
“Mas Wira belum sempat membeli mobil. Jadi pinjam mobil Teteh dulu,” jawab Wira.
__ADS_1
“Oh….begitu,” kata Arif dan Alit berbarengan.
“Naik mobil Mas Wisnu saja,” jawab Dodi.
“Oke.”
Wira membuka kunci pintu.
“Dodi, kamu duduk di depan sama Mas Wira,” kata Wira.
“Iya, Mas.”
Dodipun duduk di sebelah supir. Haifa duduk di belakang bersama Alit dan Arif. Wira memasukkan stoler ke dalam bagasi mobil.
“Udah siap?” tanya Wira ketika masuk ke dalam mobil.
“Udah,” jawab semuanya.
Wira menengok ke arah Haifa yang duduk di belakang Dodi.
“Alifa kena ac, nggak?” tanya Wira.
“Nggak, Mas,” jawab Haifa.
“Oke, kalau begitu kita jalan,” kata Wira.
Wirapun mengendarai mobilnya meninggalkan rumah keluarga Broto. Sepanjang jalan Alifa nampak tenang di dalam pelukan Mamahnya. Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit akhirnya mereka sampai di café Selera Kita.
Mereka pun turun dari mobil. Wira mengambil stoller dari bagasi mobil. Ketika mereka masuk ke dalam café mereka disambut oleh pegawai café.
“Selamat malam, Pak Wira,” ucap para pegawai ketika mereka melihat siapa yang datang.
“Untuk berapa orang, Pak?” tanya pegawai café.
“Untuk lima orang. Dii no smoking area,” jawab Wira.
“Baik, Pak.”
Dodi, Arif dan Alit berjalan paling depan sedangkan Haifa dan Wira mengikuti dari belakang. Wira berrjalan sambil mendorong stoller.
Malam itu café nampak penuh oleh pengunjung. Namun ruang no smoking area nampak kosong. Pegawai itu membukakan pintu.
“Silahkan, Pak.”
Merekapun masuk ke dalam ruangan itu. Setelah mereka duduk, pelayan memberikan buku menu.
“Tidurin aja Alifa di stoller,” kata Wira.ketika melihat Haifa membuka buku menu sambil menggendong Alifa.
Perlahan Haifa membuka kain gedongannya dan menidurkan Alifa di stoller. Alifa tidak terbangun ketika ditaruh di atas stoller. Barulah mereka memesan makanan.Tak harus menunggu lama pesanan merekapun datang. Ketika asyik makan dada Haifa terasa sakit. Haifa meringis kesakitan.
“Kenapa?” tanya Wira dengan cemas.
“ASInya penuh,” jawab Haifa.
“Kamu bawa pompanya, nggak?” tanya Wira.
“Nggak, Mas,” jawab Haifa sambil meringis kesakitan.
Untung Alifa langsung terbangun. Bayi itu memasukkan tangannya ke mulut, sepertinya ia kelaparan.
“Eekkk,” terdengar suara rengekan Alifa.
“Alhamdullihah. Akhirnya bangun juga,,” ucap Haifa.
Haifa mengangkat Alifa dari stoller. Namun ia bingung mencari tempat untuk menyusui Alifa, karena ia malu dilihat oleh Wira.
“Mas, bisa menghadap ke sana, nggak?” kata Haifa menyuruh Wira duduk memunggunginya.
“Hhh?” tanya Wira bingung tidak mengerti maksud Haifa.
“Saya mau menyusui Alifa. Mas Wira menghadap ke sana.”
Haifa menunjuk ke meja yang lain.
__ADS_1
“Oke.”
Wira memutarkan badannya memunggungi Haifa. Haifa duduk menghadap ke tembok. Barulah ia bisa menyusui Alifa dengan tenang.