
Hari ini Wina pulang dari Amerika, ia sudah selesai menyelesaikan pendidikan strata dua. Semua orang berada di rumah sedang menunggu kedatangan Wina. Wina dijemput Mang Diman di bandara Soekarno Hatta.
“Assalamualaikum,” ucap Wina ketika masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang.
“Mamah,” kata Wina.
Wina langsung memeluk Mamahnya dan cium pipi kiri pipi kanan Mamahnya.
“Apa kabarnya Wina?” sapa Ibu Deswita.
“Baik, Mamah,” jawab Wina.
Kemudian Wina mencium tangan Pak Broto.
“Sudah siap bertempur dengan Papah dan Mas Wira?” tanya Pak Broto kepada Wina.
“Nanti dulu lah, Pah. Wina mau istirahat dulu. Masa baru selesai kuliah sudah disuruh kerja,” jawab Wina.
“Kamu kalau kerjanya mau senang-senang, mendingan menikah saja. Biar ada yang membiayai hidup kamu,” kata Wira.
Wina membalas Wira dengan cibiran.
“Kasihan Fahri, tuh. Gara-gara Mas Wira, Fahri jadi patah hati,” kata Wina.
“Memangnya Mas Wira salah apa?” tanya Wira dengan bingung.
“Mas Wira sudah merebut calon istri dan calon anaknya Fahri,” jawab Wina.
“Maksud kamu Haifa?” tanya Wira.
“Iya, siapa lagi?” jawab Wina.
“Siapa yang merebut? Mas Wira sudah diamanatkan oleh Mas Wisnu untuk menjaga Haifa dan Alifa,” kata Wira.
“Kan disuruh menjaga, bukan disuruh dinikahi,” Wina protes.
“Kamu kayaknya nggak suka Mas nikah sama Haifa,” kata Wira dengan kesal.
“Mas Wira kan Don Juan, perayu wanita. Beda sama Fahri yang alim, baik dan setia,” jawab Wina.
“Kamu saja yang nikah sama Fahri! Jangan menyuruh Haifa nikah sama Fahri!” seru Wira dengan kesal.
“Nggak ah, bukan tipenya Wina,” jawab Wina.
“Kamu aja nggak mau sama Fahri. Apalagi Haifa,” kata Wira.
“Sudah…sudah…..kenapa jadi berantem,” kata Ibu Deswita meleraikan Wira dengan Wina.
“Wina nyebelin, tuh,” kata Wira.
“Haifa, ada oleh-oleh untuk kamu dan Alifa dari Fahri. Katanya untuk calon istri dan calon anak yang tidak jadi,” kata Wina kepada Haifa.
“Tapi hadiahnya ada di dalam koper,” kata Wina.
“Bilang sama Mas Fahri, nggak usah repot-repot,” kata Haifa.
“jangan diterima pemberiannya,” ujar Wira dengan kesal.
“Nggak boleh begitu, Mas. Haifa belum jadi istri Mas Wira, jadi dia berhak menerima hadiah dari siapapun,” sahut Wina.
Haifa menghela nafas. Sampai kapanpun perang mulut antara Wira dan Wina tidak akan berhenti jika tidak ia tengahi.
“Bilang ke Mas Fahri, terima kasih atas hadiahnya. Tapi mohon maaf, Haifa tidak bisa menerima pemberian Mas Fahri. Bagaimanapun juga Haifa harus menjaga perasaan Mas Wira,” kata Haifa.
“Dengerin tuh, kata Haifa,” sahut Wira.
__ADS_1
“Yah, terus hadiahnya dikemanakan dong?” tanya Wina.
“Pulangin lagi ke Fahri. Bilangin Haifa tidak mau menerima, karena harus menjaga perasaan calon suaminya,” jawab Wira.
“Ya sudah, nanti Wina kembalikan ke Fahri,” kata Wina.
“Kamu kapan nikahnya?” tanya Wina.
“Minggu depan, Mbak,” jawab Haifa.
“Hah? Minggu depan? Nggak salah? Cepat amat?” tanya Wina dengan kaget.
“Mau ngapai nunggu lama-lama. Niat baik harus disegerakan,” kata Wira.
“Kamu nggak dipingit?” tanya Wina.
Haifa bukannya menjawab malah menoleh ke Wira.
“Nggak ada acara pingitan. Ntar ada yang datang mendekati Haifa,” jawab Wira.
“Curigaan amat sih, Mas,” kata Wina.
“Harus curiga, kalau nggak nanti lengbet,” jawab Wira.
“Apa tuh, Mas?” tanya Wina bingung.
“Meleng dikit ada yang nyabet,” jawab Wira.
“Mas Wira yang nyabetnya. Nggak tahan jauh-jauh dari Haifa,” kata Wina.
“Tau aja kamu,” kata Wira sambil ketawa cengengesan.
“Non Wina-Den Wira makan siangnya sudah siap,” kata Bi Siti.
“Ayo kita makan siang dulu,” kata Pak Broto.
“Haifa, kok Wina nggak lihat Alifa?” tanya Wina ketika duduk di meja makan.
“Sedang bobo, Mbak,” jawab Haifa.
“Yah, padahal Wina pengen gendong Alifa,” kata Wina.
“Sebentar lagi juga bangun,” kata Haifa.
“Sudah makan dulu. Jangan ngobrol terus,” kata Ibu Deswita.
Merekapun makan dengan tenang.
****
Hari minus dua, Pak Broto sekeluarga berangkat ke Bandung.
“Haifa, kamu di mobil sini dong. Wina mau dekat sama Alifa,” kata Wina mengajak Haifa ikut di mobil MPV premium milik Pak Broto.
“Jangan! Haifa harus di mobil Mas Wira,” cegah Wira.
“Kalian sudah seperti suami istri saja. Kemana-mana harus selalu berdua,” protes Wina.
“Iya, dong. Memang harus begitu,” jawab Wira.
“Hem,” Wina mencibir.
“Sudah, jangan ribut terus. Ayo kita berangkat, nanti keburu macet,” kata Pak Broto.
Akhirnya mereka semuapun berangkat. Mereka mengunakan tiga mobil. Mobil MPV Premium milik Pak Broto, mobil Wira dan mobil sejuta umat milik Pak Broto yang dikendarai Mang Diman. Rombongan Pak Broto sampai di Bandung jam setengah sebelas siang. Mereka janjian bertemu dengan keluarga Haifa di rumah makan Sunda di jl. Patuha untuk makan siang bersama.
Ketika mini bis yang mengangkut keluarga Haifa sampai, Pak Broto dan keluarganya datang menyambut. Mereka saling bersalaman satu dengan yang lain.
__ADS_1
“Cucu Enin, apa kabarnya?” sapa Ibu Euis ketika melihat Alifa di gendong Haifa.
“Alhamdullilah, baik Enin,” jawab Haifa.
Ibu Euis mengambil Alifa dari tangan Haifa.
“Enin kangen sama Alifa,” kata Ibu Euis sambil menciumi Alifa.
“Ayo, Nin kita masuk. Kasihan yang lain pasti sudah pada lapar,” kata Ibu Deswita.
“Iya.”
Ibu Deswita dan Ibu Euis masuk ke dalam rumah makan Sunda disusul oleh yang lainnya. Mereka makan siang sambil bercengkraman.
“Wira, kamu puas-puasin deh menandang Haifa. Karena setelah ini Haifa akan dipingit,” kata Ibu Deswita.
Wira menoleh ke Mamahnya.
“Bukannya tidak ada acara pingi memingit?” tanya Wira.
“Tetap harus ada, Wira. Nanti setelah masuk hotel, Wira tidak bisa bertemu Haifa sampai hari H,” jawab Ibu Euis.
“Berarti Haifa tidak ikut acara makan malam bersama?” tanya Wira.
“Iya. Haifa makannya di kamar. Pesan layanan kamar,” kata Ibu Deswita.
“Yah…..,” kata Wira dengan putus asa.
“Mas Wira pura-pura jadi pelayan hotel saja,” celetuk Arif.
“Ide bagus tuh, Rif,” kata Wira.
“Awas kalau berani coba-coba menemui Haifa!” ancam Ibu Deswita.
“Nggak boleh nelepon dan nggak boleh video call!” ancam Ibu Deswita sekali lagi.
“Kalau chat boleh, nggaK?” tanya Wira.
“Boleh. Tapi nggak boleh minta dikirimi foto,” jawab Ibu Deswita.
“Yah, Mamah. Tega sekali sama anaknya,” kata Wira dengan putus asa.
“Sabar, Wira. Kan lusa sudah bisa lihat Haifa lagi,” hibur Ibu Euis.
“Tapi Tante, sehari tidak memandang wajah Haifa hidup ini terasa hampa,” kata Wira dengan kecewa.
“Alah. Biasanya juga jadi buaya darat, kenapa sekarang jadi bucin?” ejek Wina.
“Belum pernah rasakan jatuh cinta, sih. Jadi nggak bisa merasakan hampa jika tidak berada didekat pujaan hati,” kata Wira.
“Mas Wira, itu namanya modus,” sahut Alit.
“Eh, kecil-kecil sudah tau modus,” seru Wira.
“Syukurin. Anak kecil aja tau kalau Mas Wira lagi modus,” ejek Wina.
“Sudah-sudah,” kata Ibu Deswita menengahi.
“Wira, pokoknya kamu tidak boleh ketemu Haifa sampai hari pernikahan kalian. Titik,” kata Ibu Deswita dengan tegas.
“Bagaimana kalau sampai Fahri atau Syaiful mendatangi Haifa?” tanya Wira.
“Fahri memang sudah ada di Bandung. Mau datang ke acara pernikahan Haifa,” kata Wina dengan tenang.
“APA???? Siapa yang mengundang?” tanya Wira kaget.
“Wina,” jawab Wina tenang.
__ADS_1
Mendengar perkataan Wina, Wira menjadi tidak tenang. Ia takut Fahri mendatangi Haifa ketika ia sedang lengah.