
Setelah kejadian penyerangan yang dilakukan oleh Susan dan kawan-kawan terhadap Haifa, Wira masih saja menyuruh Haifa datang ke kantor untuk mengantar makan siang. Seperti biasa Haifa ke kantor Wira diantar oleh Pak Tono. Haifa turun dari mobil di depan lobby. Ketika Haifa masuk ke dalam lobby kantor Haifa melihat Susan dan kawan-kawan sedang duduk di ruang tunggu. Mereka ditemani oleh beberapa orang laki-laki berpakaian rapih seperti seorang pengacara. Haifa tidak menghampiri mereka, namun ia langsung menuju meja resepsionis.
“Selamat siang, Ira,” sapa Haifa.
“Selamat siang, Bu Haifa,” jawab Ira.
“Itu tamu Pak Wira, ya?” tanya Haifa.
“Iya, Bu,” jawab Ira.
“Pak Wira kemana? Kok tidak menemui tamunya?” tanya Haifa.
“Pak Wira sedang rapat, Bu,” jawab Ira.
“Oh……Ya sudah, saya ke atas dulu,” kata Haifa.
“Silahkan, Bu,” jawab Ira.
Haifa langsung menuju ke liff. Ketika ia sedang menunggu liff tiba-tiba ada seseorang memanggilnya.
“Bu Haifa.”
Haifa menoleh ke belakang. Seseorang pria menghampirinya.
“Ada apa?” tanya Haifa.
“Bisa kita bicara sebentar, Bu,” kata pria tersebut.
“Mau bicara apa?” tanya Haifa.
“Perkenalkan nama saya Chairul, saya pengacara Ibu Susan.”
Pria itu mengulurkan tangannya, namun Haifa tidak menyambut uluran tangan Chairul.
“Ada apa, Pak Chairul?” tanya Haifa.
“Bisa kita duduk dulu di sebelah sana?” Chairul menunjuk ke sofa tempat Susan duduk.
“Di sini saja. Pak Chairul mau bicara apa?” tanya Haifa.
“Mengenai tuntutan Pak Wira atas pencemaran nama baik,” kata Chairul.
“Maaf, kalau soal itu silahkan Pak Chairul bicarakan langsung dengan Pak Wira,” jawab Haifa.
“Tapi ini mengenai pencemaran nama baik Ibu Haifa,” kata Chairul dengan memaksa.
“Maaf, saya sudah ditunggu Pak Broto dan Pak Wira,” kata Haifa.
Haifa menekan tombol liff dan pintu liff pun terbuka. Haifa langsung masuk ke dalam liff dan pintu liff pun tertutup.
Chairul langsung menghela nafas. Susan mendekati Chairul.
“Sudahlah dia itu cuma pembantu, mana ngerti soal hukum,” kata Susan dengan sombong.
“Sekarang Wira sedang bucin sama tuh pembantu. Tapi nanti kalau ketemu mainan baru, paling tuh pembantu dipulangkan ke kampungnya,” kata Susan dengan sok tahu.
“Hati-hati Bu Susan. Jika ada yang mendengar, Ibu akan sulit memenangkan kasus ini,” kata Chairul.
“Saya tidak heran mengapa Pak Wira lebih memilih Ibu Haifa untuk menjadi istrinya daripada Bu Susan,” kata Chairul lagi lalu kembali ke tempat duduk.
Mendengar perkataan Chairul, Susan menjadi kesal.
Sementara itu di lantai enam. Haifa keluar dari liff lalu menghampiri meja Rita.
“Selamat siang, Mbak Rita. Pak Wira ada?” sapa Haifa.
“Siang, Ibu Haifa. Ada di ruangannya, Bu,” jawab Rita.
Haifa mengerut keningnya.
__ADS_1
“Bukannya Pak Wira sedang rapat?” tanya Haifa.
“Oh, pasti Ibu tau dari Ira. Memang sengaja dibilang sedang rapat, Pak Wira tidak ingin bertemu dengan Ibu Susan dan pengacaranya,” jawab Rita.
Haifa menghela nafas.
“Ya sudah, saya ke ruangan Pak Wira dulu,” kata Haifa.
“Silahkan, Bu.”
Haifa masuk ke ruangan Wira.
“Assalamualaikum,” ucap Haifa.
“Waalaikumsalam,” jawab Wira.
“Lama sekali datangnya,” Wira protes.
Haifa menaruh rantang di atas meja.
“Tadi dicegat Pak Chairul pengacara Mbak Susan,” jawab Haifa.
Wira kaget mendengarnya.
“Mereka masih ada di bawah?” tanya Wira.
“Iya. Mereka sedang menunggu Mas Wira yang sedang rapat,” jawab Haifa.
Wira menghela nafas.
“Mau ngapain sih, mereka ke sini?” tanya Wira.
“Iya mau ketemu Mas Wira. Masa mau main karambol,” jawab Haifa.
“Kan semuanya sudah aku serahkan ke pengacara,” kata Wira.
“Nggak ah, nanti jadi kebiasaan mereka mengganggumu terus. Biar mereka kapok tidur di hotel prodeo,” kata Wira.
“Apapun keputusan Mas Wira, Mas Wira tetap harus menemui mereka. Jangan menghindar terus. Kalau tidak mereka akan terus menerus datang ke sini atau mungkin datang ke rumah,” kata Haifa.
“Tapi kamu temani, ya,” kata Wira.
“Temui saja sendiri. Alifa pengen ne-nen,” kata Haifa.
“Oh….Alifa nggak tidur?” tanya Wira.
“Nggak, Mas. Ini mulutnya nempel terus ke dada lagi cari ne-nen,” jawab Haifa.
Wira mendekati Haifa.
“Hei lagi apa?” tanya Wira ke Alifa.
“Ayah kirain kamu sedang tidur,” kata Wira.
Alifa tertawa ketika melihat Wira.
“Pakai dot aja miminya,” kata Wira.
“Bawa dot, kan?” tanya Wira.
“Bawa, Mas,” jawab Haifa.
Haifa mengambil dot dari tas Alifa lalu diberikan kepada Alifa.
“Miminya pakai dot dulu, ya,” kata Haifa.
Alifa langsung menge-nyot dotnya.
“Ayah kamu nyebelin, masa begitu saja harus ditemani,” kata Haifa.
__ADS_1
“Hei! Nggak boleh ngejelek-jelekin Ayah di depan anaknya!" seru Wira.
Haifa mencibir.
“Memang Ayahnya Alifa nyebelin. Masa sama perempuan saja takut,” kata Haifa.
“Bukannya takut, biar nggak jadi fitnah ketemu perempuan lain,” ralat Wira.
“Terserah Mas Wira saja,” kata Haifa.
Wira dan Haifa pun keluar dari ruangan Wira menuju ke liff. Ketika sampai di lantai dasar mereka keluar dari liff dan menghampiri Susan dan pengacaranya. Chairul langsung berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Wira.
“Ada apa?” tanya Wira tanpa membalas uluran tangan Chairul.
“Bisakah Pak Wira duduk dulu. Kita bicara baik-baik,” kata Chairul.
“Katakan saja kalian mau apa?” tanya Wira.
“Mengenai kasus Ibu Susan…” Chairul belum selesai berbicara Wira langsung menyela.
“Saya sudah serahkan semuanya kepada pengacara saya,’ kata Wira.
“Apa tidak bisa dibicarakan secara kekeluargaan?” tanya Chairul.
“Tidak bisa. Saya ingin mereka merasakan hotel prodeo. Agar mereka berhenti mengganggu dan menghina calon istri saya,” jawab Wira.
“Wira!” seru Susan.
Chairul mengangkat telapak tangannya agar Susan diam.
“Apakah tidak bisa diganti dengan tuntutan ganti rugi misalnya?” tanya Chairul.
“Apa, ganti rugi? Memangnya mereka mau bayar pakai apa? Selama mereka dekat dengan saya mereka minta apa-apa dari saya,” jawab Wira.
Haifa kaget mendengarnya. Jadi selama ini Wira membanting tulang hanya untuk memenuhi kebutuhan teman-teman perempuannya.
“Sudahlah. Pokok saya tidak mau berdamai. Sampai bertemu di pengadilan,” kata Wira.
Wira merangkul punggung Haifa dan membawa Haifa menuju ke liff. Di dalam liff Wira hanya diam, pandangannya lurus ke depan. Haifa menoleh ke Wira.
“Sekarang kamu tau kan kenapa aku tidak mau menemui mereka,” kata Wira kepada Haifa dengan pandangan yang masih lurus ke depan.
“Mas marah sama Haifa?” tanya Haifa.
Wira menoleh ke Haifa.
“Aku terlalu sayang dan cinta sama kamu. Aku tidak bisa marah sama kamu,” jawab Wira.
“Maafkan Haifa. Kalau Haifa sudah membuat Mas Wira marah,” ucap Haifa.
“Sudah aku maafkan,” jawab Wira sambil tersenyum.
“Alifa sudah tidur?” tanya Wira sambil menoleh ke Alifa.
Mulut bayi itu sedang mencari ne-nen.
“Belum, dotnya sudah kosong.”
Haifa menunjuk dot Alifa yang telah kosong.
“Auww,” teriak Haifa kesakitan.
“Kenapa?” tanya Wira kaget.
“Digigit,” jawab Haifa sambil meringis kesakitan.
“Kasihan. Alifa lapar, ya? Sabar sebentar lagi sampai,” kata Wira sambil mengusap kepala Alifa.
Akhirnya liff pun berhenti di lantai enam dan pintunya terbuka. Wira dan Haifa keluar dari liff dan berjalan menuju ke ruangan Wira.
__ADS_1