
Merekapun berjalan menuju ke tempat parkir mobil.
“Mau makan siang dimana?” tanya Fahri ketika di dalam mobil.
Semua orang di dalam mobil berpikir.
“Haifa, kamu mau makan apa?” tanya Fahri.
“Terserah yang lain,” jawab Haifa.
“Nggak kepengen jajan apa, gitu?” tanya Fahri.
“Nggak,” jawab Haifa.
“Bagaimana kalau kita makan di Café Selera Kita?” tanya Wina.
“Makanannya macem-macem. Makanan Chinese, makanan Indonesia dan makanan western juga ada,” kata Wina.
“Bagaimana?” tanya Wina sekali lagi.
“Boleh,” jawab Fahri dan Fikri.
“Haifa mau, nggak?” tanya Fahri.
“Mau,” jawab Haifa.
“Oke kita berangkat.”
Fahri menjalankan mobilnya.
“Win, kasih tau tempatnya,” kata Fahri sambil menyetir mobil.
“Siap,” jawab Wina.
Akhir mereka sampai di tempat tujuan.
“Ayo Haifa, kita turun,” kata Wina.
Haifa turun dari mobil sambil memperhatikan bangunan di depannya.
“Ini café milik Mas Wira,” kata Wina.
Haifa menoleh ke Wina.
“ini?” tanya Haifa dengan tidak percaya.
“Iya,” jawab Wina.
“Ayo kita masuk,” ajak Wina.
Wina merangkul punggung Haifa. Mereka berjalan bersama masuk ke dalam café. Fahri dan Fikri mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
Suasana di dalam café masih sepi karena baru jam sebelas siang. Wina mencari tempat yang nyaman untuk tempat duduk mereka.
Haifa memperhatikan suasana di sekitarnya. Ia teringat perkataan Wira.
“Aku juga memiliki café, yang hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan kalian setiap bulan.”
Seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan daftar menu. Haifa memperhatikan menu satu persatu.
“Mau pesan apa?” tanya Wina kepada Haifa.
“Bingung. Semua kelihatan enak,” kata Haifa.
“Di sini soto mienya enak,” kata Wina sambil mengacungkan jempol.
“Yah, Win. Soto mie di pinggir jalan juga banyak. Nggak usah mlke café,” kata Fahri.
“Atau nasi uduknya juga enak. Pake ayam goreng. Sambelnya rasanya begini (Wina mengacungkan jempol ke Haifa),” kata Wina.
“Mau deh, Mbak,” kata Haifa.
“Oke,” kata Wina lalu mencatat pesanan.
“Saya sama dengan Haifa,” kata Fahri.
“Fikri kamu mau apa?” tanya Wina.
“Sate maranggi,” jawab Fikri.
Kemudian Wina mencatat semua pesanan lalu diberikan kepada pelayan. Sambil menunggu pesanan Haifa membuka ponselnya. Ada sebuah pesan dari Wira.
Wira:
Haifa:
Untuk apa, Mas?
Wira:
Aku mau kirim uang untukmu dan baby.
Haifa:
Tidak usah, Mas. Haifa masih punya uang.
Wira:
Kamu simpan saja untuk jaga-jaga.
Haifa menghela nafas.
Haifa:
__ADS_1
Nanti, ya Mas. Sekarang Haifa sedang ada di luar sama Mbak Wina.
Wira:
Lagi apa?
Haifa:
Makan siang di café Selera Kita.
Tiba-tiba ponsel Haifa berdering. Di layar nampak nama Mas Wira.
“Telepon dari siapa?” tanya Wina.
“Dari Mas Wira,” jawab Haifa.
“Jawab saja,” kata Wina.
Haifa menjawab telepon Wira.
“Assalamualaikum,” ucap Haifa.
“Waalaikumsalam,” jawab Wira.
“Bener kamu sedang di café Selera Kita?” tanya Wira.
“Iya, Mas,” jawab Haifa.
“Ya sudah, nanti aku suruh Ekky serahkan uangnya ke kamu,” kata Wira.
“Terima kasih, Mas,” ucap Haifa.
“Sama-sama, Haifa. Udah dulu, ya. Assalamualaikum,” ucap Wira.
“Waalaikumsalam,” balas Haifa.
Wira mematikan sambungan telepon.
“Ngapain Mas Wira nelepon?” tanya Wina.
“Minta no rekening,” jawab Haifa.
“Untuk apa?” tanya Wina.
“Untuk Baby,” jawab Haifa.
“Oh…”
Tak lama kemudian pelayan membawa pesanan mereka. Haifa mencicipi nasi uduknya.
“Enak, Mbak,” puji Haifa.
__ADS_1
“Enak, kan? Kamu pasti ketagihan,” kata Wina.
Merekapun memakan makanan yang dihidangkan.