Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
54. Mengajak Makan Malam.


__ADS_3

Wira mengetuk pintu kamar Haifa.


Tok….


Tok….


Tok….


Pintu kamar dibuka oleh Sri ( babby sitter Alifa ).


“Ibu ada?” tanya Wira.


“Ada, Pak. Sedang memakaikan baju Alifa,” jawab Sri.


“Tolong panggilkan! Saya mau bicara sama Ibu,” kata Wira.


“Iya, Pak.”


Sri masuk ke dalam kamar Haifa. Tak lama kemudian Haifa menghampiri Wira.


“Ada apa, Mas?’ tanya Haifa.


“Nanti malam aku mau mengajak kamu makan dan nonton. Tapi Alifa jangan dibawa. Kasihan kalau dibawa, ac di bioskop terlalu dingin, Alifa pasti nggak akan kuat,” kata Wira.


“Alifa di rumah sama Sri, tapi dipantau sama Mamah,” kata Wira lagi.


“Sekali-sekali kamu refresing, setelah seharian mengurus Alifa,” ujar Wira.


“Bagaimana?” tanya Wira.


Haifa berpikir sejenak.


“Mas Wira mau nonton film apa?” tanya Haifa.


“Aku terserah kamu,” jawab Wira.


“Aku kan cuma mau ngajak kamu refresing,” kata Wira.


“Mau nggak?” tanya Wira.


“Iya Haifa mau,” jawab Haifa.


“Kita berangkat setelah sholat magrib, ya,” kata Wira.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


“Oke, sampai ketemu nanti sore. Assalamualaikum,” ucap Wira lalu pergi meninggalkan kamar Haifa.


“Waalaikumsalam,” jawab Haifa.


Haifa masuk kembali ke kamarnya.


Malam harinya setelah sholat magrib Haifa siap-siap untuk pergi bersama Wira. Setelah selesai berdandan Haifa keluar dari kamarnya. Di ruang keluarga Wira sudah menunggunya sambil menggendong Alifa.


Wira memandangi Haifa yang turun dari tangga. Malam ini Haifa terlihat cantik sekali, membuat Wira tidak berkedip.


“Mamahnya sudah siap, sini Alifa di gendong sama Uti.”

__ADS_1


Ibu Deswita mengambil Alifa dari gendongan Wira. Haifa mendekati Alifa.


“Mamah pergi dulu, ya. Alifa di rumah sama Uti dan Mbak Sri,” kata Haifa lalu mencium pipi Haifa.


“Mah, Haifa pergi dulu. Titip Alifa, ya,” kata Haifa lalu mencium tangan Ibu Deswita.


“Iya. Kamu tenang saja,” kata Ibu Deswita.


Kemudian Haifa menghampiri Pak Broto yang sedang menonton televisi.


“Pah, Haifa pergi dulu,” pamit Haifa.


Haifa mencium tangan Pak Broto.


“Assalamualaikum,” ucap Haifa.


“Waalaikumsalam,” jawab semua orang.


Haifa pun berjalan menuju ke luar rumah. Dengan sigap Wira membukakan pintu mobil untuk Haifa. Setelah Haifa masuk ke dalam mobil Wira pun langsung masuk ke dalam mobil. Mobil Wira pun meluncur keluar dari perkarangan rumah keluarga Broto.


Malam itu jalanan cukup ramai, mungkin karena besok hari sabtu sehingga banyak orang yang keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan. Haifa memandangi suasana Jakarta di malam hari. Semenjak Wisnu meninggal dunia Haifa tidak pernah lagi keluar malam, kecuali pergi ke dokter.


Akhirnya sampailah mereka di depan  sebuah hotel berbintang, Wira membelokkan mobilnya ke hotel tersebut. Haifa menoleh ke Wira.


“Kok ke sini, Mas?” tanya Haifa.


“Kita makam malamnya di sini. Nggak apa-apa kan?” jawab Wira.


“Iya, nggak apa-apa,” kata Haifa.


Wira menghentikan mobilnya di depan lobby hotel. Seorang petugas hotel membukakan pintu Haifa, lalu Haifa turun dari mobil. Wira turun dari mobil dan memberikan kunci mobilnya kepada petugas valet. Kemudian mereka masuk ke dalam hotel. Wira membawa Haifa ke sebuah restaurant yang berada di hotel tersebut.


“Selamat malam, Pak,” sapa pegawai restaurant yang berjaga di depan.


“Malam,” jawab Wira.


“Apakah bapak sudah reservasi?” tanya pegawai itu.


“Sudah. Atas nama Wira,” jawab Wira.


Pegawai itu mencek di buku tamu.


“Mari saya antar, Pak,”


Pegawai itu mengantar Wira dan Haifa ke tempat yang sudah Wira reservasi. Pegawai itu membawa mereka ke luar ruangan. Rupanya Wira memesan tempat di bagian rooftop.


Pegawai menarikkan kursi untuk Haifa dan Wira.


“Silahkan, Pak Bu.”


Pegawai itu mempersilakhan Wira dan Haifa untuk duduk. Tak lama datanglah pelayan yang membawakan buku menu.


“Mau pesan apa?” tanya Wira.


“Terserah Mas Wira saja. Yang enak menurut Mas Wira,” jawab Haifa.


“Kita pesan steak aja, ya,” kata Wira.

__ADS_1


“iya, Mas,” jawab Haifa.


“Mbak,” Wira memanggil pelayan restaurant.


“Pesan tenderloin steak dua dan minumnya fruits punch non alkohol dua,” kata Wira kepada pelayan itu.


“Baik, Pak.”


Kemudian pelayan itu pergi.


“Mas, kenapa memilih tempatnya di sini?” tanya Haifa.


“Supaya kamu bisa menikmati suasana kota Jakarta di malam hari,” jawab Wira.


Sambil menunggu pesanannya datang Haifa membuka ponselnya. Haifa tersenyum ketika membaca hat masuk. Sri mengirim foto Alifa yang sedang tidur.


“Kenapa?” tanya Wira melihat Haifa tersenyum sendiri.


“Sri mengirim ini.”


Haifa memberikan ponselnya kepada Wira. Wira tersenyum melihat foto keponakannya yang sedang tidur lelap.


“Dia lucu sekali,” kata Wira sambil memberikan ponselnya ke Haifa.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Merekapun makan dengan tenang.


“Bagaimana rasanya? Enak, nggak?” tanya Wira ketika melihat Haifa sedang menikmati makanannya.


“Enak, Mas. Dagingnya empuk,” jawab Haifa.


“Mas Wira sering ke sini, ya?” tanya Haifa.


“Nggak sering. Kadang-kadang sama teman,” jawab Wira.


“Waktu di Bangkok aku lebih suka ke Pub yang berada di rooftop. Lebih nyaman saja kalau di bagian rooftop. Bisa melihat pemandangan kota Bangkok,” kata Wira.


“Mas Wira sering ke Pub?” tanya Haifa kaget.


“Iya. Cari hiburan setelah seharian cape bekerja,” jawab Wira.


“Tapi sekarang sudah tidak pernah ke Pub lagi. Kan sekarang ada Alifa. Rasa stress dan rasa lelah langsung hilang setelah melihat Alifa,” kata Wira.


“Bahkan tangisan Alifa bagaikan nyanyian merdu. Mungkin itu yang dirasakan oleh seorang ayah yang memiliki anak kecil,” kata Wira lagi.


Haifa diam mendengarkannya.


Mungkin jika Mas Wisnu masih hidup, ia akan merasakan hal yang sama seperti Mas Wira, kata Haifa di dalam hati.


“Loh, kok bengong. Ayo dimakan nanti nggak enak kalau sudah dingin,” kata Wira ketika melihat Haifa diam saja tidak melanjutkan makannya.


“Iya, Mas,” jawab Haifa dan langsung melanjutkan makannya.


.


.


Hari ini Deche riweuh teu puguh. Ditambah selama bulan puasa Deche nggak bisa konsentrasi. Sehingga outline nya sulit dikembangkan. Jadi up nya seadanya aja, ya.

__ADS_1


__ADS_2