
Rona bahagia terpancar di wajah Wisnu ketika pulang dari dokter kandungan. Dokter menyatakan Haifa sedang hamil tujuh minggu. Hasil USG baru memperlihatkan sebuah titik kecil di dalam rahim Haifa, namun bagi Wisnu itu adalah anugerah yang terindah yang ia dapat sepanjang hidupnya. Sepanjang perjalanan Wisnu menyetir mobil sambil mencium tangan istrinya atau mengusap kerudung istrinya. Sedangkan Haifa selalu saja ingin menempel pada suaminya hanya untuk sekedar bermanja-manja.
“Kamu ingin makan sesuatu?” Tanya Wisnu ketika mobil yang dikendarainya sedang berhenti di stopan lampu merah.
“Nggak ah, Mas. Haifa maunya pulang saja, Haifa sudah ngantuk,” jawab Haifa.
“Bobo saja, nanti Mas bangunkan kalau sudah sampai,” kata Wisnu.
Haifa merebahkan kepalanya di bahu Wisnu. Haifa inginnya hanya bermanja-manja pada suaminya. Wisnu membiarkan istrinya tidur di bahunya.
Ketika sampai di rumah Haifa masih saja tidur sulit untuk di bangunkan.
“Haifa….bangun sayang, sudah sampai,” kata Wisnu sambil menepuk lengan Haifa.
“Ngngng Haifa masih ngantuk, Mas,” kata Haifa tanpa mau pindah posisi.
“Tidurnya nanti dilanjutkan di kamar. Sekarang bangun dulu,” kata Wisnu dengan sabar.
“Ngantuk, Mas.” Haifa sama sekali tidak mau bangun.
Ibu Deswita dan Pak Broto yang dari tadi menunggu kedatangan Wisnu dan Haifa langsung ke luar dari rumah dan menghampiri mobil Wisnu.
“Haifa kenapa?” Tanya Ibu Deswita dengan cemas.
“Haifa ngantuk, nggak mau bangun,” jawab Wisnu.
“Haifa……bangun sayang! Kita pindah ke kamar, ya,” kata Wisnu sambil mengusap-usap pipi Haifa.
Merasa ada yang mengusap-usap pipinya Haifa langsung bangun.
__ADS_1
Wisnu tersenyum ketika melihat Haifa bangun sambil menerjab-nerjabkan matanya.
“Kita pindah ke kamar, ya!” kata Wisnu sambil mengusap-usap kerudung Haifa.
Haifa mengangguk sambil menguap.
“Mas buka dulu pintunya,” kata Wisnu lalu keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Haifa.
Haifa keluar dari mobil sambil memegang tangan Wisnu. Tubuh Haifa terasa lemas, mungkin karena Haifa ngantuk berat.
Wisnu merangkul bahu Haifa agar Haifa tidak jatuh dan membawanya masuk ke dalam rumah. Ibu Deswita dan Pak Broto mengikuti Wisnu dari belakang. Wisnu membawa Haifa ke kamar mereka lalu merebahkan Haifa di atas tempat tidur dan menutup tubuh Haifa dengan selimut. Tak lupa memberi kecupan di kening Haifa.
“Bagaimana hasil pemeriksaannya?” Tanya Ibu Deswita yang masuk ke dalam kamar Wisnu.
“Alhamdullilah Haifa sedang hamil tujuh minggu. Janin dan ibunya sehat,” jawab Wisnu.
“Mana hasil USG nya? Mamah mau lihat,” kata Ibu Deswita yang tidak sabaran.
Wisnu mengambil tas Haifa dan mengeluarkan hasil USG dari dalam tas.
“Ini.” Wisnu memberikan hasil USG kepada Mamahnya.
“Yang mana bayinya?” Tanya Pak Broto ketika melihat foto USG.
“Ini.” Wisnu menununjukkan titik putih yang berada di dalam rahim Haifa.
“Kecil sekali,” kata Ibu Deswita yang memperhatikan foto USG.
“Kata dokter, janinnya masih kecil. Baru sebesar kacang,” ujar Wisnu.
__ADS_1
“Oh, begitu. Berarti Haifa harus banyak makan agar cucu Mamah cepat besar,” kata Ibu Deswita.
Wisnu menghela nafas. Ada-ada saja yang ada dipikiran Mamahnya.
“Mah, Haifa tidak harus banyak. Asalkan porsinya pas dan asupan gizinya terpenuhi. Kalau kebanyakan makan nanti bisa jadi over weight, bahaya untuk ibu dan janinya,” kata Wisnu.
“Tuh dengerin kata anaknya! Jangan sembarangan kasih makan Haifa,” sahut Pak Broto.
“Iya, Pah. Mamah juga sudah dengar,” kata Ibu Deswita.
“Ayo kita ke kamar! Kasihan Wisnu sudah cape mau istirahat,” ajak Pak Broto.
“Mamah juga mau telepon Wina dan Wira mau memberi tahu kalau Haifa hamil. Sekalian mau nelepon besan juga,” kata Ibu Deswita.
“Besok lagi nelepon besannya! Kasihan mereka pasti sudah tidur, nanti terganggu,” kata Pak Broto.
“Iya, Pah,” jawab Ibu Deswita.
“Ayo ah, Pah. Mamah sudah tidak sabar mau telepon Wina dan Wira,” kata Ibu Deswita sambil menarik tangan Pak Broto.
“Iya, tapi balikin dulu foto USG nya! Nanti Haifa nyariin.” Pak Broto mengambil foto USG dari tangan Ibu Deswita lalu dikembalikan ke Wisnu.
“Papah! Mamahkan mau kasih lihat ke Wina,” protes Ibu Deswita.
“Wina tidak akan mengerti hasil USG. Ayo sekarang kita ke kamar.” Pak Broto merangkul bahu Ibu Deswita dan membawanya keluar dari kamar Wisnu.
Wisnu menghampiri Haifa yang sedang tidur dengan lelap.
“Terima kasih. Kamu sudah mau mengandung anakku,” ucap Wisnu lalu mengecup pipi Haifa.
__ADS_1