
Rumah kediaman keluarga Broto nampak ramai oleh para tamu. Hari ini adalah hari aqiqah Alifa, cucu pertama Pak Broto. Ibu Deswita mengundang keluarga besarnya untuk hadir di acara ini. Hadir pula di acara ini teman-teman almarhum Wisnu. Sengaja Haifa mengundang mereka agar hubungan silahturahmi dengan teman-teman suaminya tetap terjalin dengan baik. Namun Wira juga tidak ingin ketinggalan, ia mengundang teman-temannya hadir diacara ini. Ia ingin memamerkan keponakannya yang cantik kepada teman-temannya.
“Cantik sekali anaknya Wisnu,” puji Rina ketika melihat Alifa yang sedang digendong oleh Haifa.
“Iya, cantik seperti Mamahnya,” kata Dewi.
“Jadi pengen diambil jadi menantu, deh,” kata Rina.
“Anak jaman sekarang mana mau dijodohin,” ujar Dewi.
“Kalau dijodohin sama yang cantik pasti mau,” kata Rina.
“Iya Haifa, ya. Kita besanan, ya,” ujar Rina.
Haifa menanggapinya hanya dengan tersenyum.
Sementara itu Wira sedang berkumpul dengan teman-temannya sambil merokok.
“Cantik juga istrinya Wisnu,” puji Bagas sambil menghisap rokoknya.
“Janda kembang. Biar sudah melahirkan masih tetap cantik dan segar,” kata Romi.
“Kayaknya nggak bakalan lama menjanda, deh,” kata Tora.
“Hhhh masa, sih?” tanya Romi.
“Tuh lihat aja,” Tora menunjuk Wira dengan dagunya.
Semuanya menoleh ke Wira. Wira sedang asyik merokok, matanya terus memandangi Haifa yang sedang berbicara dengan Dewi dan Rina.
“Kayaknya bener. Tidak akan lama menjanda,” kata Bagas.
__ADS_1
“Tadi aja waktu menyambut tamu udah seperti suami istri. Bajunya kompakan,” kata Bagas lagi.
“Cewek-cewek simpanan Wira mau dikemanain?” tanya Romi.
“Dibuanglah. Dari awal juga tidak ada komitmen. Cuma have fun,” kata Bagas.
“Lagipula tuh cewek-cewek nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang ini,” kata Tora.
“Ya nggak, Wir?” tanya Tora ke Wira.
Namun Wira tidak mendengar, ia masih saja asyik memandangi Haifa.
“Tuh lihat, kita omongin juga dia nggak denger. Terlalu fokus pada si Dia,” celetuk Tora.
Romi menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan mata Wira.
“Apa,, sih?” Wira menepiskan tangan Romi.
“Lu lagi liatin apa sih sampai fokus begitu?” tanya Romi.
“Liatin anaknya atau liatin emaknya?” tanya Bagas.
“Liatin dua-duanya,” jawab Wira.
Wira langsung bangun dari tempat duduknya dan menghampir Haifa.
“Haifa, amplop untuk ibu-ibu untuk pengajian sudah disiapkan belum?” tanya Wira.
“Sudah, Mas. Haifa simpan di kamar,” jawab Haifa.
“Ambil dulu. Kelihatannya sebentar lagi mereka akan pulang,” kata Wira.
__ADS_1
“Sini Alifanya biar sama aku saja,” kata Wira.
Haifa memberikan Alifa kepada Wira. Wira membawa Alifa ke tempat teman-temannya duduk.
“Matiin rokoknya! Wira bawa keponakannya ke sini,” sahut Bagas.
Cepat-cepat teman-teman Wira mematikan rokoknya.
“Kita duduk di sini, sama om-om,” kata Wira ke Alifa.
“Tuh liat, cantik kan keponakan gue,” puji Wira.
“Iya, cantik kayak emaknya,” jawab Tora.
Wira mencium Alifa.
“Wira cium keponakannya berasa seperti cium emak keponakannya. Penuh perasaan,” bisik Romi.
Wira mencium Alifa kembali.
“Wir, udah jangan diciumin terus keponakan lu! Ntar cantiknya luntur,” kata Bagas.
“Wanginya enak,” jawab Wira.
Wira melihat Haifa yang sudah bersiap-siap untuk membagikan amlpop dan bingkisan kepada ibu-ibu pengajian sebagai tanda terima kasih.
“Gue ke sana dulu, ya.”
Wira langsung berdiri dan menghampiri Haifa. Wira berdiri di samping Haifa dan mengucapkan terima kasih kepada ibu-ibu pengajian yang akan pulang.
“Kelihatannya Wira sudah menemukan pelabuhan hatinya,” kata Bagas sambil memperhatikan interaksi Wira dengan Haifa.
__ADS_1
“Mereka kelihatan seperti pasangan serasi. Apa mungkin mereka berjodoh?” tanya Romi sambil memperhatikan Wira dan Haifa.
“Semoga saja mereka berjodoh,” jawab Tora yang juga sedang memperhatikan Wira dan Haifa.