
Wira berjalan keluar dari kantornya. Di lobby kantor ia bertemu dengan Susan.
“Susan, kamu mau ngapain ke sini?” tanya Wira.
“Mau ketemu kamu,” jawab Susan.
“Aku mau pergi ke rumah sakit,” kata Wira.
“Mau ngapain ke rumah sakit?” tanya Susan.
“Mau mengantar keponakan check up ke dokter,” jawab Wira.
“Kok mesti kamu yang mengantar? Suruh ibunya saja yang bawa ke dokter,” kata Susan dengan ketus.
“Suka-suka gue, dong. Lagi pula siapa elo berani ngelarang gue?” kata Wira.
Kemudian Wira menghampiri Ira di meja resepsonis.
“Ira, perhatikan ya! Kalau ada perempuan model seperti itu datang ke kantor mencari saya, langsung usir saja!” kata Wira sambil menunjuk ke arah Susan.
Ira langsung berdiri dan melihat ke Susan.
“Baik, Pak,” jawab Ira.
“Kalau tidak kamu usir, kamu yang akan saya pecat!” ancam Wira.
“Jangan, Pak,” kata Ira.
Ganteng-ganteng galak, kata Ira di dalam hati.
“Inget kata-kata saya!” seru Wira.
“Baik, Pak,”jawab Ira.
Setelah itu Wira pergi begitu saja dan meninggalkan Susan.
“Wira! Wira kamu mau kemana?” panggil Susan.
Namun Wira acuh dan terus berjalan menuju ke tempat parkir.
****
Wira berjalan di koridor rumah sakit menuju ke poli anak. Ia melihat Haifa sedang duduk di ruang tunggu sambil menggendong Alifa.
“Belum dipanggil?” tanya Wira ketika duduk di sebelah Haifa.
Haifa menoleh ke samping.
“Loh, Mas Wira kapan datang?” tanya Haifa kaget.
“Barusan,” jawab Wira.
“Ngapain Mas Wira ke sini? Mas Wira nggak kerja?” tanya Haifa.
“Mau nemenin kamu dan Alifa,” jawab Wira dengan santai.
Tiba-tiba seorang suster memanggil nama Alifa.
__ADS_1
“Alifa Wisnu Hutama.”
“Ya, Sus,” jawab Wira yang langsung berdiri.
Haifa menyelempangkan tasnya, namun tali tasnya dipegang oleh Wira.
“Tasnya biar aku yang bawa,” kata Wira.
Haifa memberikan tasnya ke Wira lalu Haifa berjalan menuju ke kamar periksa. Wira mengikuti Haifa dari belakang.
“Selamat siang,” sapa dokter.
“Siang dokter,” jawab Haifa.
Haifa dan Wira duduk di kursi yang sudah disediakan.
“Papahnya ikut mengantar, ya,” kata dokter.
Haifa hendak protes, namun Wira memberi tanda agar Haifa tidak protes.
“Kita lihat perkembangan Alifa.”
Dokter membaca kartu kasus Alifa.
“Perkembangannya bagus. Timbangannya sudah naik. Sekarang kita periksa dulu, ya,” kata dokter.
Haifa menaruh Alifa di atas tempat tidur, kemudian Dokter memeriksa Alifa.
“Bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Dokter.
“Sekalian diimunisasi, ya,” kata Dokter lagi.
“Imunisasi apa, Dok?” tanya Wira.
“Imunisasi BCG,” jawab Dokter.
“Itu imunisasi yang wajib kan, Dok?” tanya Wira.
“Iya, Pak,” jawab Dokter.
Wira menoleh ke Haifa lalu mengangguk tanda sutuju.
“Bagaimana Pak Bu?” tanya Dokter.
“Iya, Dokter. Sekalian diimunisasi,” jawab Wira.
Kemudian Dokter menyiapkan imunisasinya dan disuntikkan pada bagian lengan atas Alifa. Begitu disuntik Alifa menangis.
“Eekkkk.”
Haifa langsung menggendongnya.
“Saya kasih resep untuk obat penurun panasnya dan vitaminnya.”
Dokter memberikan resep obat kepada Wira.
“Terima kasih, Dokter,” ucap Wira.
__ADS_1
“Sama-sama,” jawab Dokter.
“Sehat selalu ya, Alifa,” kata Dokter kepada Alifa yang masih menangis.
Wira dan Haifa keluar dari ruang periksa.
“Kamu susui dulu Alifa di sini,” kata Wira ketika mereka berada di ruang tunggu poli anak.
“Nanti saja di apotik. Haifa bawa susu dalam dot,” kata Haifa.
Wira mengerutkan keningnya.
“Susu apa itu?” tanya Wira tajam.
“ASI, Mas. Cuma Haifa masukkan ke dalam dot, agar Haifa tidak repot menyusuinya kalau sedang di luar,” jawab Haifa.
“Kalau begitu kasihkan sekarang saja, biar Alifanya berhenti menangis,” kata Wira.
Haifa duduk di kursi untuk memasang kain gendongan pada Alifa dan memastikan jika gendongannya aman.
“Mas tolong ambilkan dot di dalam tas,” kata Haifa.
Wira mengambil dot di dalam tas milik Alifa, lalu diberikan kepada Haifa. Haifa memberikan dot kepada Alifa dan tangisan Alifa pun berhenti. Kemudian mereka berjalan menuju apotik.
Sesampainya mereka di apotik, Wira langsung memberikan resep kepada pegawai apotik.
“Nanti ada baby sitter yang akan membantumu,” kata Wira ketika mereka sedang menunggu obat.
“Untuk apa, Mas?” tanya Haifa
“Haifa bisa mengurus Alifa sendiri,” kata Haifa.
“Biar kamu bisa tidak terlalu cape mengurus Alifa,” jawab Wira.
“Kalau kamu pergi-pergi ada yang menemani, tidak hanya berdua dengan Alifa,” kata Wira.
“Gaji baby sitter mahal, Mas,” kata Haifa.
“Tidak apa-apa. Itu urusan aku. Kamu tenang saja,” jawab Wira.
Haifa menghela nafas. Adik iparnya paling tidak bisa dibantah. Haifa harus mengikuti apa katanya.
“Alifa,” panggil pegawai apotik.
Wira langsung berdiri dan mengambil obat untuk Alifa. Kemudian Wira kembali ke tempat duduknya lalu memasukkan obat ke dalam tas Alifa.
“Ayo, kita pulang,” ajak Wira.
Wira dan Haifa keluar dari rumah sakit. Mereka berdiri di depan lobby menunggu Pak Tono datang. Tak lama kemudian mobil yang dikemudikan Pak Tono berhenti di depan lobby rumah sakit. Wira membukakan pintu mobil,
Haifa langsung masuk ke dalam mobil.
“Terima kasih ya, Mas. Sudah menemani Haifa,” ucap Haifa.
“Sama-sama, Haifa,” jawab Wira.
“Pak, hati-hati menyetirnya,” kata Wira kepada Pak Tono.
__ADS_1
“Ya, Den,” jawab Pak Tono.
Kemudian Wira menutup pintu mobil. Mobilpun melaju meninggalkan rumah sakit.