
Bi Ros tidak menoleh ke Wisnu dan Haifa karena duduk di kursi yang membelakangi kaca jendela., Ia langsung masuk ke dalam rumah.
“Ceu, ini saya simpan di meja makan, ya,” sahut Bi Ros dari ruang makan.
“Iya, simpan di situ saja,” jawab Ibu Euis.
Haifa langsung menghampiri Bi Ros ke ruang makan.
“Bi Ros,” panggil Haifa.
“Eh…geuning aya Haifa. Kapan datangnya?” tanya Bi Ros dengan kaget.
Haifa langsung mencium tangan Bi Ros
“Sudah dari tadi. Bibi saja yang nggak melihat,” jawab Haifa.
“Bibi kirain kamu tamunya Mamah,” kata Bi Ros.
“Kamu pulang sama siapa?” tanya Bi Ros.
“Haifa diantar sama Mas Wisnu,” jawab Haifa.
“Mana Den Wisnunya?” tanya Bi Ros sambil berjalan menuju ruang tamu.
“Mas Wisnu, ini kenalin Bi Ros, Bibinya Haifa,” sahut Haifa.
Bi Ros menghampiri Wisnu dan bersalaman ala orang sunda.
“Saya kirain tamu yang lagi menjenguk Ceu Euis,” kata Bi Ros.
“Cuma sakit darah rendah harus dijenguk segala,’ ujar Ibu Euis.
“Ceu Euis, saya ke rumah dulu, ya. Masih banyak makanan yang harus dibawa ke sini,” kata Bi Ros.
“Bi, perlu bantuan, nggak?” tanya Haifa.
“Hayu kalau mau membantu membawakan makanan,” jawab Bi Ros.
“Mas, Haifa tinggal dulu, ya,” kata Haifa.
“Iya,” jawab Wisnu.
Haifa pun pergi bersama Bi Ros menuju ke rumah Bi Ros. Rumah Bi Ros tidak terlalu jauh dari rumah Haifa kira-kira seratus meter jaraknya, mereka tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke sana. Setelah mengambil makanan merekapun kembali ke rumah Haifa. Namun karena makanan yang di masak oleh Bi Ros, mereka terpaksa harus bolak-balik sampai tiga kali. Akhirnya semua makanan sudah diangkut ke rumah Haifa.
“Ceu Euis, saya pulang, ya,” pamit Bi Ros.
“Mau kemana? Di sini saja dulu kita makan siang bareng-bareng,” kata Ibu Euis.
“Mau mencuci piring dan beresin dapur bekas masak,” jawab Bi Ros.
“Terima kasih, Bi. Sudah memasak untuk Mas Wisnu. Haifa jadi ngerepotin Bi Ros,” ucap Haifa.
“Ah, nggak ngerepotin,” kata Bi Ros.
“Ajak makan tuh, Den Wisnu nya. Kasihan pasti udah lapar,” kata Bi Ros.
“Bi Ros pulang, ya. Assalamualaikum,” ucap Bi Ros.
“Waalaikumsalam,” jawab semua yang ada di ruangan itu.
“Mas, ayo makan dulu,” kata Haifa.
“Saya jadi merepotkan keluarga kamu,” kata Wisnu dengan tidak enak.
“Nggak merepotkan kok, Mas. Ayo kita makan dulu.”
Akhirnya Wisnu pun bangun dari tempat duduknya. Sebelum ke ruang makan Haifa mengajak Pak Tono untuk makan. Wisnu dan Pak Tono mengikuti Haifa menuju ke ruang makan. Di atas meja makan tersedia banyak makanan. Ada sayur asem, pepes ikan mas, pepes tahu, sambal terasi, boros kunci dan temannya sambel oncom serta orek tempe. Bi Ros mencari menu yang aman dikonsumsi oleh Wisnu.
“Maaf, ya Mas, menunya terlalu sederhana. Maklumi saja namanya juga orang kampung,” kata Haifa.
“Nggak apa-apa, ini juga sudah enak,” jawab Wisnu.
Setelah mengambil makanannya, Wisnu makan dengan tenang. Haifa membawakan dua gelas air putih untuk Pak Tono dan Wisnu.
“Kamu nggak makan?” tanya Wisnu ketika Haifa membawakannya segelas air putih.
“Iya, ini baru mau ambil,” jawab Haifa.
__ADS_1
Haifapun ke dalam rumah dan mengajak Mamahnya untuk makan.
Setelah selesai makan Wisnu dan Pak Tono ke Mesjid untuk sholat dzuhur. Sedangkan Haifa mencuci piring bekas makan.
Selesai sholat dzuhur Wisnu dan Pak Tono pamit pulang ke Jakarta.
“Kok buru-buru sekali? Baru datang sudah mau pulang lagi,” kata Ibu Euis.
“Mumpung masih siang. Kasihan Pak Tono kalau harus menyetir malam-malam,” jawab Wisnu.
“Mas Wisnu besok harus kerja, Mah,” kata Haifa.
“Ya sudah kalau memang mau pulang. Hati-hati di jalan,” kata Ibu Euis.
Ibu Euis melihat ketmus dan kacang rebus belum dimakan oleh Wisnu.
“Tunggu sebentar Den Wisnu.”
Ibu Euis masuk ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu. Tak lama kemudian Ibu Euis membawa dua lembar kantong platik yang masih baru. Lalu memasukkan ketimus dan kacang rebus ke dalam kantong plastik yang berbeda.Kemudian di berikan kepada Wisnu.
“Lumayan buat camilan di jalan biar nggak kesal,” kata Ibu Euis.
“Terima kasih, Bu. Nggak usah repot-repot,” ucap Wisnu dengan sungkan.
“Sini Haifa bawakan, Mah,” kata Haifa.
Haifa mengambil kantong plastik dari tangan Ibu Euis.
“Saya pamit dulu, Bu. Assalamualaikum,” ucap Wisnu.
“Waalaikumsalam,” balas Ibu Euis.
Wisnu berjalan menuju ke mobil ditemani oleh Haifa. Ketika sampai di tempat parkir mobil, Haifa langsung memasukkan plastik yang berisi ketimus dan kacang ke dalam mobil.
Wisnu menyuruh Pak Tono untuk membuka bagasi mobil, Wisnu mengambil sesuatu dari dalam tas travelingnya yang berada di dalam bagasi mobil.
Wisnu mendekati Haifa.
“Haifa ini untuk peganganmu selama di sini.” Wisnu memberikan sebuah amplop coklat yang tebalnya sekitar dua setengah centimeter.
Haifa yang sudah bisa menebak isi amplop itu langsung menolak. Haifa langsung menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung.
“Itu kan uang untuk Ibu. Kalau ini untuk keperluan kamu selama di sini,” kata Wisnu.
Wisnu mendekati Haifa lalu tangan Wisnu memegang tangan Haifa yang berada di belakang punggung. Wisnu membawa tangan Haifa ke depan lalu ditaruhnya amplop coklat itu di atas telapak tangan Haifa.
“Terima, ya! Untuk jajan baso,” kata Wisnu sambil tersenyum.
“Kebanyakan, Ini sih bisa beli tiga gerobak baso,” sahut Haifa.
“Nggak apa-apa. Asalkan kamu sanggup menghabiskannya,” kata Wisnu dengan tersenyum.
“Nggak ma. Ntar sakit perut,” jawab Haifa sambil merengut.
Wisnu tertawa sambil mengacak-acak kerudung Haifa dengan gemas.
“Jaga diri baik-baik, ya!” pesan Wisnu.
“Iya, Mas,” jawab Haifa.
“Kalau ada apa-apa telepon saya,” kata Wisnu.
“Iya, Mas,” jawab Haifa.
“Saya pulang ya. Assalamualaikum,” ucap Wisnu.
“Waalaikumsalam,” balas Haifa.
Wisnu masuk ke dalam mobil. Kemudian mobilpun mundur keluar dari tanah kosong. Haifa melambaikan tangannya ke Wisnu dan mobilpun meluncur meninggalkan lingkungan rumah Haifa. Haifa terus memandangi mobil Wisnu hingga tidak terlihat lagi.
“DOR!!!” Tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkannya dari belakang.
Haifa menoleh ke belakang ternyata Dodi adiknya yang mengagetkannya.
“Dodi!”
Dengan reflex Haifa memukul tangan Dodi. Dodi langsung menghindar.
__ADS_1
“Salah sendiri kenapa melamun di tengah jalan,” kata Dodi.
Dodi melihat tangan Haifa memegang sesuatu.
“Apa itu, Teh?” tanya Dody.
“Bukan apa-apa,” jawab Haifa sambil menyembunyikan amplop coklat pemberian Wisnu.
“Teteh punya banyak uang, ya? Bagi dong buat jajan,” kata Dodi.
“Ini bukan untuk jajan. Tapi ini untuk makan kita sehari-hari,” jawab Haifa.
“Bagi sedikit aja untuk jajan masa nggak boleh,” kata Dodi sambil merengut.
“Nggak boleh!!!” seru Haifa.
Kemudian Haifa kembali ke rumahnya. Dodi mengikuti Haifa sambil cemberut.
“Assalamualaikum,” ucap Dodi dengan suara kencang.
“Waalaikumsalam,” balas Ibu Euis dari dalam rumah.
Dodi menghampiri Mamahnya.
“Mah, Teteh banyak uang tapi pelit tuh.” Dodi mengadu kepada Mamahnya.
Mendengar kata uang, Haifa jadi ingat dengan titipan Ibu Deswita. Haifa ke kamarnya untuk mengambil tas, Haifa membawa tasnya ke luar lalu duduk di sebelah Ibu Euis.
“Mah, ada titipan dari Ibu Deswita,” kata Haifa sambil merogoh-rogoh tasnya mencari amplop yang ia simpan.
“Tas Teteh baru, ya?” tanya Dodi melihat Haifa menggunakan tas yang dibelikan oleh Wisnu.
“Iya. Dikasih Mas Wisnu,” jawab Haifa.
“Baju Teteh juga baru, ya?” tanya Dodi lagi.
“Iya. Dikasih juga sama Mas Wisnu,” jawab Haifa.
“Mamah…Teteh punya banyak barang baru, Dodi juga mau,” rengek Dodi.
“Nanti Teteh belikan kalau Teteh sudah gajian,” jawab Haifa.
“Teteh kan sudah gajian. Tadi Teteh pegang amplop tebal,” celetuk Dodi.
Ibu Euis memandang Haifa dengan penuh sidik.
“Uang darimana, Haifa?” tanya Ibu Euis dengan curiga.
“Dari Mas Wisnu, Mah. Katanya untuk keperluan Haifa selama di sini,” jawab Haifa.
Ibu Euis menghela nafas panjang.
“Akhirnya ketemu,” kata Haifa sambil mengeluarkan amplop putih dari tasnya.
Haifa memberikan amplop pemberian Ibu Deswita kepada Mamahnya.
“Untuk Mamah dari Ibu Deswita,” kata Haifa.
Ibu Euis menerimanya dengan terharu.
“Alhamdulliah hirobilalamin. Jazakallahu khairan,” ucap Ibu Euis sambil memegang erat amplop pemberian Ibu Deswita.
Melihat Mamahnya diberi amplop berisi uang, Dodi mulai merengek lagi.
“Mamah, Dodi minta uangnya untuk jajan,” kata Dodi.
“Nggak boleh! Itu untuk membeli obat Mamah,” seru Haifa.
“Ah, pelit!” seru Dodi sambil merengut.
“Mamah mau menggantikan uang Bi Ros yang sudah dipakai untuk memasak makanan untuk Den Wisnu,” kata Ibu Euis.
“Tidak usah, Mah! Biar Haifa yang menggantikan uang Bi Ros,” kata Haifa.
“Nanti sore Haifa ke rumah Bi Ros.”
Haifa mengeluarkan uang sebesar lima puluh ribu dari dalam amplop coklat lalu diberikan kepada Dodi.
__ADS_1
“Ini buat jajan. Tapi jangan langsung dihabiskan!” kata Haifa.
“Asyik. Terima kasih Teteh,” ucap Dodi lalu mencium uang yang diberikan oleh Haifa.