
Wisnu membelokkan mobilnya ke sebuah mall yang berada di daerah Jakarta Selatan dan dekat dengan perumahan mewah. Haifa memandangi mall dari kaca mobil dengan takjub.
“Wah…mallnya mewah ya, Mas,” puji Haifa sambil memandangi bangunan mall tanpa berkedip.
Wisnu tersenyum melihat Haifa yang takjub melihat mall tersebut.
“Mas kita mau ke sini atau ke sana?” tanya Haifa menunjuk ke arah mal sebelah kanan dan sebelah kiri yang saling berseberangan.
“Kita ke mall sebelah sini dulu, ya. Baru ke mall yang seberangnya,” jawab Wisnu sambil membelokkan mobilnya masuk ke mall yang berada di sebelah kiri.
Wisnu memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Mereka mudah mencari tempat parkir karena tempat parkirnya tidak terlalu penuh.
“Kita turun, yuk,” ajak Wisnu setelah melepaskan seat beltnya.
Ketika Wisnu hendak membuka pintu tiba-tiba Haifa memanggilnya.
“Mas."
“Kenapa?” tanya Wisnu.
“Apa tidak apa-apa saya ke mall dengan pakaian seperti ini?” tanya Haifa dengan ragu.
Wisnu memandangi Haifa.
“Tidak apa-apa. Kamu begitu saja sudah cantik,” jawab Wisnu.
“Ayo, kita turun,” ajak Wisnu sekali lagi.
Haifa akhirnya turun sambil membawa tasnya. Haifa mengikuti Wisnu dari belakang. Mereka memasuki lobby mall. Haifa terkagum-kagum melihat interior dan toko-toko yang berada di dalam mall. Maklum saja pusat perbelanjaan di Sumedang tidak sebagus mall ini.
Wisnu berhenti berjalan dan menoleh ke belakang, ia melihat Haifa sedang asyik berjalan sambil menoleh ke kanan dan ke kirinya. Wisnu menghampiri Haifa lalu memegang tangan Haifa dan menggandengnya. Haifa kaget
sewaktu Wisnu memegang tangannya.
“Mas, kenapa dipegang tangan Haifa?” tanya Haifa.
“Kamu jalannya lama. Saya takut kamu hilang kalau tidak dipegang,” kata Wisnu yang masih memegang pergelangan tangan Haifa.
Akhirnya Haifa berjalan sambil dipegang tangannya oleh Wisnu. Haifa masih saja berjalan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri melihat barang-barang yang dipajang di estalase toko. Haifa mirip seperti anak kecil yang sedang berjalan sambil dituntun oleh kakaknya.
Wisnu berhenti di sebuah tenant bazar baju muslim yang berada di lantai dasar mall tersebut.
“Haifa, kamu pilih yang mana yang kamu suka,” kata Wisnu.
__ADS_1
Haifa memperhatikan baju-baju muslim yang dipajang tenant tersebut.
“Mas kelihatannya mahal-mahal deh,” bisik Haifa.
“Tidak apa-apa. Kamu pilih saja yang kamu suka! Boleh beli beberapa baju,” jawab Wisnu.
Dengan ragu Haifa mendekati baju-baju yang dipajang.oleh tenant tersebut.Haifa melihat-lihat baju muslim itu satu persatu.
“Cari model apa, Mbak? Biar saya bantu carikan,” kata Pelayan tenant tersebut.
“Tidak usah dicarikan, Mbak! Biar adik saya yang memilih sendiri,” kata Wisnu yang sedang memperhatikan Haifa memilih baju.
“Baik, Pak.” Palayan tenant mundur dan memberikan ruang kepada Haifa untuk memilih baju.
Haifa melihat baju satu persatu, namun ketika melihat harga yang menempel di label baju ia langsung kaget.
“Mas Wisnu sini!” panggil Haifa dan memberi tanda supaya Wisnu mendekatinya.
Wisnu mendekati Haifa.
“Kenapa?” tanya Wisnu.
“Harganya mahal semua. Yang paling murah lima ratus ribu,” bisik Haifa.
Haifa meneruskan memilih bajunya. Akhirnya Haifa memilih satu setel baju.
“Ini, Mas.” Haifa memperlihatkan baju yang dipilih olehnya.
“Kok cuma satu? Tambah beberapa setel lagi atau tuh blus atasan sekalian kerudungnya. Kamu kan sering datang ke kantor jadi perlu baju banyak,” kata Wisnu menunjuk ke bagian tunik dan kerudung.
Haifa menghela nafas panjang. Majikannya benar-benar boros, membelikan baju untuk asisten rumah tangga dalam jumlah banyak.
“Iya, Mas.” Haifa melanjutkan memilih bajunya.
Akhirnya Haifa mengambil dua stel baju muslim serta satu tunik, dua kemeja dan beberapa kerudung yang senada dengan bajunya. Haifa memperlihatkan barang yang dibelinya kepada Wisnu.
“Mukenahnya, belum?” tanya Wisnu.
“Mukenahnya tidak usah, Mas. Baju saja sudah cukup,” jawab Haifa.
Namun Wisnu tidak mengindahkan jawaban Haifa. Wisnu memanggil pelayan tenant itu.
“Mbak, tolong carikan mukenah yang pantas untuk adik saya,” kata Wisnu.
__ADS_1
“Baik, Pak, " jawab pelayan itu
Lalu pelayan itu mencarikan mukenah untuk Haifa. Setelah dapat diperlihatkan kepada Wisnu.
“Ini, Pak.”
Pelayan itu memberikan mukenah berwarna putih yang ada border bunga yang cantik. Mukenah itu cocok untuk anak-anak remaja seusia Haifa.
Wisnu memperhatikan mukenah yang diberikan oleh pelayan.
“Iya, boleh,” jawab Wisnu.
“Haifa, berikan baju yang tadi kamu pilih ke Mbaknya,” kata Wisnu.
“Iya, Mas.”
Haifa memberikan semua baju yang telah dipilihnya kepada pelayan tenant baju muslim. Pelayan itu menghitung satu persatu sambil dimasukkan ke dalam godybag.
“Semuanya XXXXXXX rupiah,” kata Pelayan tenant.
“Bisa dibayar dengan kartu debit, kan?” tanya Wisnu.
“Bisa, Pak,” jawab Pelayan.
Wisnu memberikan kartu debet kepada Pelyan itu. Setelah selesai membayar semua baju Haifa, merekapun meninggalkan tempat itu menuju ke Dept Store yang berada di mall tersebut. Mereka menuju ke perlengkapan bayi.
Ketika sampai di perlengkapan bayi, Haifa sangat senang melihat baju-baju bayi.
“Iiihhh lucu sekali,” puji Haifa sambil memegang baju-baju bayi yang lucu-lucu.
Wisnu tersenyum melihat kelakuan Haifa yang gemas melihat baju-baju bayi.
“Kamu pilihkan baju untuk anaknya Reza dan Rina! Anaknya laki-laki,” kata Wisnu.
“Sini belanjaannya saya pegang.” Wisnu mengambil gody bag dari tangan Haifa.
Setelah Wisnu mengambil alih belanjaan di tangan Haifa, Haifa bisa dengan leluasa memilih baju untuk anak teman Wisnu.
Haifa memilih beberapa kaos beserta celana dan topinya. Setelah itu Wisnu membayar semuanya di kasir. Selesai belanja baju bayi, Wisnu mengajak Haifa menuju ke mushola yang berada di dalam mall tersebut untuk sholat magrib.
“Kamu dulu atau saya dulu sholatnya?” tanya Wisnu ketika berada di depan mushola.
“Mas duluan saja. Saya yang nunggui belanjaannya,” jawab Haifa.
__ADS_1
“Oke.” Wisnu pun masuk ke tempat wudhu.