Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
68. Perempuan-Perempuan Simpanan Wira.


__ADS_3

Setelah Haifa menyetujui tempat mereka menikah, mulailah undangan pernikahan Wira dan Haifa dicetak dan disebarkan keseluruh keluarga, kerabat, teman-teman dan rekan bisnis. Walaupun perempuan-perempuan yang pernah dekat dengan Wira tidak diundang, namun akhirnya mereka tau siapa yang akan menjadi pendamping Wira.


Hari ini seperti biasanya Haifa ke kantor mengantarkan makanan untuk Pak Broto dan Wira. Namun di lobby ia dihadang oleh perempuan-perempuan yang pernah dekat dengan Wira.


“Hei, pembantu! Kalau sudah jadi janda jadi janda saja, nggak usah pakai rayu-rayu Wira. Kemarin Wisnu yang kau rayu. Sekarang setelah Wisnu meninggal kau rayu Wira. Dasar pembantu tidak tau diri!!!” seru Susan sambil mendorong Haifa. Hampir saja Haifa terjatuh, kalau tidak ada Pak Broto yang menahannya dari belakang mungkin Haifa dan Alifa akan terjatuh. Alifa menangis karena kaget.


“Ada apa, ini?” tanya Pak Broto dengan marah.


Susan, Sheila, Cindy dan Alea kaget, mereka tidak mengira ada Pak Broto. Haifa berangkat dari rumah bersama dengan Pak Broto, hanya saja ketika turun dari mobil Pak Broto sempat berbicara dulu dengan salah satu karyawannya.


“Mana Wira?” tanya Pak Broto kepada Ira.


“Pak Wira ada di ruangannya, Pak,” jawab Ira dengan ketakutan.


Pak Broto mengambil ponsel dari sakunya dan menelepon Wira.


“Assalamualaikum,” ucap Wira.


“Waalaikumsalam. Ke sini kamu Wira! Jangan jadi pengecut! Perempuan-perempuan simpanan kamu sedang membully Haifa,” seru Pak Broto dengan marah.


“Papah dimana?” tanya Wira kaget.


“Di lobby kantor,” jawab Pak Broto.


Pak Broto menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


“Jangan macam-macam dengan menantu saya! Saya akan membuat perhitungan kalau kalian berani menyentuh menantu saya!” seru Pak Broto.


“Yang mesti kalian lawan adalah Wira, bukan Haifa,” kata Pak Broto.


Tak butuh waktu Wira turun menuju ke lobby kantor. Wira melihat Haifa sedang menangis sambil memeluk Alifa yang sedang menangis kencang. Sedangkan Pak Broto sedang memandangi teman-teman perempuan Wira dengan marah. Susan dan kawan-kawan menunduk ketakutan.


Wira mendekati Haifa.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Wira kepada Haifa.


Haifa menjawab dengan menggeleng kepalanya.


“Ada apa ini, Pah?” tanya Wira dengan kebingungan.

__ADS_1


“Tanyakan saja pada perempuan-perempuan simpananmu,” jawab Pak Broto.


“Kalian apakan Haifa? Berani sekali kalian menyentuh calon istri saya,” kata Wira dengan marah.


“Wira, kenapa kamu lebih memilih pembantu itu untuk menjadi istrimu?” tanya Susan.


“DIA BUKAN PEMBANTU!!!! DIA CALON ISTRI WIRA HUTAMA,” bentak Wira.


“Tapi dia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kami,” kata Cindy.


“Dia lebih mulia daripada kalian,” jawab Wira.


Wira menoleh ke belakang namun Haifa sudah tidak ada. Wira menoleh ke arah pintu keluar, ia melihat Papahnya membawa Haifa menuju ke tempat parkir mobil.


“Awas kalian! Saya akan buat perhitungan dengan kalian!” seru Wira.


Kemudian Wira menyusul Haifa menuju ke tempat parkir. Wira melihat Haifa masuk ke dalam mobil milik Pak Broto. Ketika mobil itu mundur Wira langsung menghadangnya dan Wira ikut masuk ke dalam mobil. Wira memandangi Haifa yang masih berurai air mata sambil memeluk Alifa yang masih saja menangis. Haifa mengambil dot dari dalam tasnya lalu diberikan kepada Alifa. Bayi itu masih saja terus menangis dan tidak mau meminum dotnya. Wira benar-benar sedih melihat keadaan ibu dan anak itu. Wira tidak tau harus berbuat apa karena Haifa terus saja mengacuhkannya. Namun pelan-pelan Alifa mau meminum dotnya dan bayi itu kembali tenang.


Sepanjang perjalanan menuju rumah tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut Haifa dan Wira. Wira terus saja memandangi Haifa, sedangkan Haifa memalingkan wajahnya. Ia benar-benar tidak ingin melihat wajah


Wira. Sampai akhirnya mobil yang dikemudikan Mang Diman berhenti di halaman rumah Pak Broto. Haifa keluar dari mobil sambil menggendong Alifa. Wira mengikuti Haifa dari belakang.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Deswita.


Haifa mencium tangan Ibu Deswita lalu langsung naik ke atas. Wira juga mencium tangan Mamahnya dan mengikuti Haifa naik ke atas. Ibu Deswita bengong melihat Haifa dan Wira.


“Mereka kenapa, Bi?” tanya Ibu Deswita kepada Bi Nani yang sedang menata makanan di meja makan.


“Nggak tau, Bu. Mungkin sedang salah paham,” jawab Bi Nani.


Haifa masuk ke dalam kamarnya dan Wira juga ikut masuk ke dalam kamar Haifa. Sri yang sedang membereskan baju Alifa langsung keluar dari kamar Haifa ketika melihat Haifa masuk ke dalam kamar diikuti oleh Wira. Haifa meletakkan Alifa di atas tempat tidurnya, sedangkan Wira duduk di sebelahnya.


“Mas,…”


Belum Haifa menyelesaikan kata-katanya Wira langsung memeluk Haifa dan mencium bibirnya. Dengan susah payah Haifa berusaha untuk melepaskan ciuman Wira, namun Wira menahan tungkuknya dan mempererat  pelukannya. Wira mencium bibir Haifa dengan begitu dalam. Hingga akhirnya ciuman Wira berubah menjadi lembut dan Haifa tidak kuasa untuk menolaknya. Akhirnya Wira mengakhiri ciumannya.


“Jangan pernah tinggalkan aku, aku bisa mati jika kamu tinggalkan aku,” bisik Wira.


“Siapa yang akan meninggalkan Mas Wira?” tanya Haifa.

__ADS_1


“Kamu. Tadi aku takut kamu tinggalkan aku lagi,” jawab Wira dengan lembut.


“Haifa pulang karena Alifa menangis,” kata Haifa.


“Lagipula Haifa kesal dengan Mas Wira, kenapa sih jadi laki-laki tidak tegas,” kata Haifa lagi.


“Maksud kamu apa?” tanya Wira.


“Susan dan teman-temannya selalu datang mencari Mas Wira karena Mas Wira tidak pernah memberi ketegasan,” jawab Haifa.


“Untuk apa diberikan ketegasan? Dari dulu hubungan kami tidak ada apa-apa, hanya sekedar teman,” kata Wira.


“Teman tapi mesra,” ujar Haifa.


“Itu kan dulu. Sekarang sudah nggak,” kata Wira.


“Tapi mereka merasa Mas Wira adalah kekasih mereka. Dan mereka anggap Haifa perebut pacar mereka,” kata Haifa.


“Coba Mas Wira beri ketegasan kalau hubungan Mas Wira dengan mereka sudah berakhir,” kata Haifa lagi.


“Oke, kalau kamu mau aku memberikan ketegasan kepada mereka. Akan aku buktikan ketegasanku, mereka masuk buih karena telah menghinamu,” kata Wira.


Wirapun berdiri dan keluar dari kamar Haifa.


“Mas….Mas….,” panggil Haifa.


Namun Wira terus saja berjalan keluar dari kamar Haifa. Haifa menyusul Wira. Namun tiba-tiba di depan pintu kamarnya Wira muncul dari balik tembok.


“Apa manggil-manggil? Mau dicium lagi?” tanya Wira sambil tersenyum jahil.


Cepat-cepat Haifa masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan dibanting. Wira tersenyum melihat kelakuan Haifa.


Wira mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana lalu ia menelepon seseorang.


“Rita, hari ini saya ijin tidak masuk kerja. Dokumen yang harus saya tanda tangani tolong kirim ke rumah. Nanti saya akan suruh Pak Tono mengambil dokumen,” kata Wira.


“Sekalian hubungi pengacara dan buatkan janji dengan pengacara,” kata Wira.


Wira mematikan ponselnya.

__ADS_1


“Tidak akan aku maafkan orang-orang yang sudah mengganggu Haifa,” kata Wira pada dirinya sendiri.


__ADS_2