Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
21. Wina dan Wira


__ADS_3

Haifa melipat mukenahnya, ia baru saja menyelesaikan sholat isya. Ternyata setelah mandi malam badan Haifa menjadi segar dan matanya tidak mengantuk lagi.


Haifa teringat dengan perkataan Dodi tentang Syaiful. Haifa menghela nafas.


Kenapa jadi begini, sih? Gerutu Haifa di dalam hati.


Haifa tidak pernah memberikan perhatian kepada Syaiful apalagi menaruh hati pada Syaiful. Haifa mengganggap Syaiful hanya seorang teman, tidak lebih dari itu. Haifa juga tidak memberikan harapan pada Syaiful, semua sesuai dengan porsinya, yaitu hanya sebagai teman.


Haifa mengambil ponselnya dan ia mengetik pesan kepada Syaiful.


Assalamualaikum A,


Sebelumnya Haifa meminta maaf jika Haifa selalu menghindar dari Aa Syaiful. Itu semua Haifa lakukan untuk menjaga perasaaan Mas Wisnu. Tadi siang Mas Wisnu beserta keluarganya datang untuk melamar Haifa dan Haifa menerima lamaran Mas Wisnu.


Haifa mohon Aa Syaiful jangan lagi menghubungi Haifa.Haifa tidak ingin Mas Wisnu terluka perasaannya. Jadi jauhi Haifa. Haifa tidak akan pulang ke Sumedang sampai Haifa menikah dengan Mas Wisnu. Semoga Aa Syaiful bertemu dengan wanita baik-baik yang bisa mengisi hari-hari Aa.


Haifa langsung mengklik tanda kirim. Dan pesanpun akhirnya terkirim. Dalam hitungan kelima setelah pesan itu dikirim terdengar suara dering di ponsel Haifa. Pada layar ponselnya tertulis Aa Syaiful.


Haifa menarik nafas panjang, kemudian Haifa menolak telepon Syaiful dan langsung memblokir nomor Syaiful.


“Maaf Aa, Haifa terpaksa harus melakukannya,” kata Haifa seolah berbicara kepada Syaiful.


Haifa menyalakan alarm ponselnya, karena ia harus bangun pagi sekali untuk menyiapkan sarapan. Haifa memejamkan matanya dan tertidur.


*****


Bunyi alarm di ponselnya membuat Haifa terbangun. Ia langsung bangun dan membereskan kamarnya. Setelah selesai membersihkan kamarnya Haifa langsung melaksanakan sholat subuh. Selesai solat subuh Haifa menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Di dapur sudah ada Bi Siti yang siap untuk memasak.


“Biar Haifa yang masak, Bi. Bi Siti kerjakan yang lain saja,”kata Haifa.


“Tapi nanti saya dimarahin Ibu,” kata Bi Siti.


“Nanti saya yang bilang ke Ibu,” kata Haifa.


Akhirnya Bi Siti pun menghentikan pekerjaannya dan menyerahkan semuanya kepada Haifa. Bi Siti keluar dari dapur untuk mengerjakan pekerjaan yang lain.


Haifa melanjutkan pekerjaan Bi Siti.


“Hmm, wangi,” kata Wisnu yang berdiri di pintu dapur.


Haifa menoleh ke Wisnu.


Wisnu menggunakan baju koko dan juga sarung, ia dan Pak Broto baru pulang sholat subuh di masjid. Ketika Wisnu masuk ke dalam rumah melalui pintu garasi ia mencium bau masakan.


“Saya jadi lapar,” kata Wisnu lalu duduk di kursi yang berada di dapur.


“Mas, ganti baju dulu. Nanti bajunya bau asap masakan. Lagi pula makananya belum matang,” kata Haifa sambil sibuk memasak.


“Baik, Neng Haifa.” Wisnu beranjak dari dapur menuju ke kamarnya.


Di ruang makan Wisnu bertemu dengan Ibu Deswita.


“Kamu habis ngapain di dapur?” Tanya Ibu Deswita.


“Lihar Haifa masak,” jawab Wisnu.


“Haifa masak? Harusnya Bi Siti yang menggantikan Bi Nani masak, bukannya Haifa,” seru Ibu Deswita.


Ibu Deswita pun ke dapur. Ia melihat Haifa sedang sibuk memasak untuk sarapan. Wisnu mengikuti Ibu Deswita ke dapur.


“Udah, Mah. Biarkan saja hari ini Haifa yang masak untuk Wisnu,” kata Wisnu yang berusaha mencegah Ibu Deswita.


“Apa kamu nggak kasihan sama Haifa? Nanti dia kecapean baru pulang malam dari Sumedang, pagi-paginya sudah harus masak di dapur,” kata Ibu Deswita.


Haifa menoleh ke samping, Ibu Deswita sedang marah-marah karena Haifa memasak di dapur.


“Haifa tidak apa-apa, kok Bu. Tadi Haifa yang menyuruh Bi Siti untuk mengerjakan pekerjaan yang lain, biar Haifa yang memasak,” kata Haifa.

__ADS_1


Ibu Deswita menghela nafas.


“Ya sudah kalau memang itu mau kamu.” Ibu Deswita pun kembali ke kamarnya.


Setelah Ibu Deswita tidak ada Wisnu tersenyum kepada Haifa.


“Masak yang enak ya, Neng Haifa. Mas Wisnu mau ganti baju dulu,” kata Wisnu.


Haifa menjawabnya dengan anggukan. Lalu Wisnu kembali ke kamarnya.


Sepuluh menit kemudian Wisnu kembali ke dapur, ia sudah berganti baju dengan baju rumah. Wisnu duduk di dapur menemani Haifa memasak. Tiba-tiba ponsel Wisnu pun berdering, Wisnu menjawab telepon itu.


“Beneran Mas Wisnu mau menikah?” Tanya Wina tanpa basa-basi.


“Eh….ucapkan salam dulu, dong. Jangan langsung ngomong,” kata Wisnu.


“Iya. Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh, Kakakku tersayang,” ucap Wina.


“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatu, Adikku yang cerewet,” jawab Wisnu.


“Kok cerewet, sih? Mestinya Adikku yang cantik,” protes Wina.


“Iya, Adikku yang cantik dan cerewet,” kata Wisnu.


“Iiihh masih bilang cerewet,” kata Wina dengan kesal.


“Iya, cantik,” jawab Wisnu.


“Nah gitu dong,” kata Wina.


“Mas Wisnu beneran mau nikah?” tanya Wina.


“Tau darimana?” Tanya Wisnu.


“Mamah, barusan nelepon,” jawab Wina.


“Iya bener. Mas mau menikah,” jawab Wisnu.


“Karena cantik orangnya,” jawab Wisnu.


“Mas Wira sudah tau?” Tanya Wina.


“Mas belum bicara ke Wira,” jawab Wisnu.


“Kita video call saja. Wina bangunin Mas Wira.” Lalu Wina mengubah menjadi video call dan menghubungi Wira.


Wira langsung menjawab video call, nampak wajah Wira yang sedang tidur.


“Assalamualikum, Mas Wira,” ucap Wina.


“Assalamulaikum, Wira,” ucap Wisnu.


“Waalaikumsalam,” jawab Wira sambil memejamkan mata.


“Sudah tau Mas Wisnu mau menikah?” Tanya Wina.


“Hm,” jawab Wira yang masih memejamkan matanya.


“Mas Wisnu, lihat dong calon istrinya. Siapa namanya?” kata Wina.


“Haifa,” jawab Wisnu.


“Iya, mau lihat Haifa seperti apa,” kata Wina.


Wisnu mengarah kan ponselnya ke Haifa .


“Mana, Mas? Nggak kelihatan,” protes Wina.

__ADS_1


Wisnu mendekati Haifa dan ponselnya masih diarahkan ke Haifa.


“Haifa,” panggil Wisnu.


Haifa langsung menoleh ke arah Wisnu.


“Hai, Haifa,” sapa Wina sambil melambaikan tangannya.


Dengan malu-malu Haifa melambaikan tangannya ke arah ponsel Wisnu.


“Aku Wina Adik Mas Wisnu. Dan itu yang lagi tidur Kakakku Wira,” kata Wina.


Wina yang melihat Wira yang masih memejamkan mata langsung berteriak.


“Woy! Mas Wira bangun sudah siang!”


“Tuh lihat calon istri Mas Wisnu cantik banget,” kata Wina.


Wira langsung membuka matanya.


“Nah kan, kalau bilang cantik langsung bangun deh,” kata Wina.


Wira memandangi ponselnya sambil memicingkan matanya.


“Masih SMA?” Tanya Wira dengan tidak percaya.


“Baru lulus SMA,” jawab Wisnu.


“Masih muda banget,” kata Wina.


Wisnu tidak lagi mengarahkan ponselnya ke Haifa. Ia duduk kembali ke kursi dan mengarahkan ponselnya ke hadapannya.


“Tuh Mas Wisnu udah dapatin calon istri yang masih muda dan cantik. Calon istri Mas Wira mana?” Tanya Wina.


“Belum mikir untuk menikah,” jawab Wira lalu tidur lagi.


“Belum mau menikah, tapi setiap hari ada saja perempuan yang nempel,” celetuk Wina.


“Nggak. Sekarang Mas lagi banyak pekerjaan. Tadi Mas baru pulang lembur,” jawab Wira.


“Oh…baru pulang lembur. Kirain baru pulang clubbing,” sahut Wina.


“Mas sibuk. Nggak punya waktu buat begituan,” jawab Wira.


“Hati-hati loh, Mas kalau dekat-dekat perempuan di sana, cantik-cantik tapi nggak taunya transgender,” kata Wina sambil bergidik ngeri.


“Iya tau,” jawab Wira.


“Lagipula di sini banyak orang Indonersia. Kencan sama mereka lebih aman,” kata Wira.


“Udah ah. Mo tidur lagi. Masih Ngantuk.” Wira mengakhiri perbincangannya.


“Yah, dimatiin,” ujar Wina.


“Mas Wisnu juga mau sarapan. Haifa sudah selesai masaknya,” kata Wisnu.


“Yah….kok pada bubar sih?” kata Wina dengan kecewa.


Wina sebenarnya rindu berkumpul  dengan kakak-kakaknya. Keinginannya untuk menuntut ilmu di negeri Paman Sam membuat Wina jauh dari keluarga.


“Nanti kalau Mas Wisnu menikah, kamu datang, ya!” kata Wisnu.


“Pasti dong Mas,” jawab Wina.


“Mas mau sarapan dulu. Assalamualaikum,” ucap Wisnu.


“Waalaikumsalam,” jawab Wina.

__ADS_1


Wisnu mengakhiri pembicaraannya.


Haifa membawa semua masakan yang sudah matang ke ruang makan. Wisnu pun mengikuti Haifa dari belakang.


__ADS_2