
Wira membawa Haifa ke sebuah ruangan. Di depan pintu ruangan itu tertulis OWNER. Setelah masuk ke ruangan itu Wira langsung mengunci pintunya.
“Mas, kenapa pintunya dikunci?” tanya Haifa dengan was-was.
“Biar nggak ada yang ganggu,” jawab Wira.
“Tapi Mas, perempuan dan laki-laki yang bukan mahram tidak boleh berdua berada di dalam ruangan tertutup,” kata Haifa.
“Iya, aku tau. Kamu tenang saja, aku tidak akan apa-apain kamu,” jawab Wira.
“Kamu duduk dulu,” kata Wira.
Haifa duduk di sofa yang berada di ruangan itu. Wira duduk di sebelah Haifa.
“Aku ingin memastikan sekali lagi jawabanmu,” kata Wira.
“Apa benar kamu mau menerima cintaku?” tanya Wira.
“Iya, Mas,” jawab Haifa.
“Kalau begitu, besok kita ke Sumedang. Aku akan melamarmu,” kata Wira.
Haifa kaget mendengarnya.
“Mengapa cepat-cepat, Mas?” tanya Haifa.
“Aku takut keduluan dengan yang lain,” jawab Wira.
“Bulan depan Wina kembali ke Indonesia, ia telah menyelesaikan studynya. Berarti temannya yang bernama Fahri juga akan kembali ke Indonesia. Dia pasti akan kembali mendekatimu,” kata Wira.
Haifa tersenyum mendengarkan perkataan Wira.
__ADS_1
“Mas, Haifa tidak ada perasaan apa-apa pada Fahri. Jadi Mas tidak usah khawatir jika Fahri kembali ke Indonesia,” kata Haifa.
“Pokoknya, aku ingin segera melamarmu. Setelah Wina pulang ke Indonesia kita menikah,” ujar Wira.
“Terserah Mas Wira, Haifa ikut apa yang Mas Wira katakan,” kata Haifa.
“Hanya saja Haifa ingin bertanya, apa Mas Wira mau melupakan teman-teman perempuan Mas Wira?” tanya Haifa.
“Haifa tidak mau berbagi cinta dengan perempuan lain,” kata Haifa.
“Semenjak Mas Wisnu menitipkanmu dan Alifa kepadaku, saat itu juga aku meninggalkan kehidupanku yang dulu. Aku tidak ada waktu lagi untuk main-main dengan banyak perempuan. Karena ada seorang wanita dan seorang anak yang harus aku jaga,” jawab Wira.
“Jadi Mas Wira berubah karena Haifa dan Alifa?” tanya Haifa dengan tidak percaya.
Wira mengangguk. Lalu ia bernyanyi, “Ku lakukan semua untukmu.”
“Mas Wira senang banget ngegombal,” ujar Haifa.
“Aku tidak sedang ngegombal, aku serius,” kata Wira.
“Bagaimana, besok jadikan kita ke Sumedang?” tanya Wira sekali lagi.
“Terserah Mas Wira, kan Mas Wira yang mau melamar,” jawab Haifa.
“Oke, besok kita ke Sumedang,” kata Wira.
“Sekarang kita makan, ya. Aku sudah lapar,” kata Wira.
Wira dan Haifa keluar dari ruang kerja Wira dan menyusul Sri yang sedang makan sambil menjaga Alifa.
“Alifa rewel, nggak?” tanya Haifa.
__ADS_1
“Nggak, Bu. Alifa anteng dari tadi main sendiri,” jawab Sri.
Wira mengambil Alifa dari stoller lalu menggendongnya.
“Anak Ayah, Ayah kangen sama Alifa,” kata Wira sambil mencium-cium Alifa.
Alifa tertawa kegelian. Haifa diam ketika Wira menyebut dirinya ayah kepada Alifa. Haifa terharu mendengarnya. Selama ini Alifa hanya mendengar kata Aki, Akung dan Om. Alifa mendengar kata Papah ketika dibawa ke makam Wisnu. Itu pun Alifa tidak bisa melihat seperti apa Papahnya.
“Kamu kenapa?” tanya Wira.
“Tidak apa-apa, Mas,” jawab Haifa sambil mengelap air mata yang mengalir di pipinya.
“Bener, tidak apa-apa?” tanya Wira dengan tidak yakin.
“Bener, Mas,” jawab Haifa.
“Kalau begitu, sekarang kamu pesankan makanan. Makananku samakan dengan makananmu. Minumnya juga samakan saja dengan minumanmu,” kata Wira yang masih asyik mengajak main Haifa.
“Iya, Mas.” Haifa mulai memilih menu makanan dan minuman.
.
.
Udah ya, Deche mau masak untuk buka puasa. Dan mau ngepack baju karena besok mau mudik ke rumah Abah di Pamulang Tangerang Selatan.
Besok Deche masih up.
Sekali takbir, taklik telah berkumandang memecah keheningan malam yang memberikan isyarat Idul Fitri telah tiba. Penulis mohon maaf pada semua pembaca. Karena dalam setiap kebersamaan merangkai rangkaian kata-kata kadang pikiran salah mengira, hati salah menduga dan pena salah mengucap.
Pada kesempatan ini Deche ucapkan
__ADS_1
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1443 H.