
Keesokan harinya Haifa menelepon Wira di kantor minta dibelikan lomie.
“Assalamualaikum,” ucap Haifa.
“Mas, Haifa mau makan lomie yang enak,” kata Haifa langsung to the point.
“Waalaikumsalam,” jawab Wira.
“Iya, nanti Mas belikan,’ jawab Wira.
“Yang enak ya, Mas,” kata Haifa.
“Iya,” jawab Wira.
“Beli tiga bungkus,” kata Haifa.
“Banyak sekali, untuk apa?” tanya Wira.
“Haifa mau makan lomie yang banyak,” jawab Haifa.
Wira menghela nafas.
“Iya, nanti Mas belikan lomie tiga bungkus,” kata Wira.
“Jangan lupa sambalnya,” ujar Haifa
“Haifa, kamu sedang menyusui. Jangan banyak makan sambal,” kata Wira dengan sabar.
“Nggak enak, Mas kalau nggak pake sambel,” jawab Haifa.
“Ya sudah, nanti Mas belikan lomie tiga bungkus. Tapi sambelnya satu aja, ya,” kata Wira.
“Kok sambelnya satu? Tiga dong, Mas,” Haifa protes.
“Iya, sambelnya tiga,” jawab Wira.
“Ada lagi yang mau dipesan?” tanya Wira.
“Nggak itu saja. Terima kasih ya, Mas. Assalamualaikum,” ucap Haifa.
“Waalaikumsalam,” jawab Wira.
Wira menutup teleponnya.
Terus terang saja Wira tidak tau harus membeli lomie dimana?
Tanya saja ke Maya, mungkin dia tau dimana penjual lomie yang enak, kata Wira di dalam hati.
Wira pun keluar dari ruangannya untuk bertanya kepada Maya sekretarisnya.
*****
Sore harinya Wira pulang dari kantor sambil membawakan lomie untuk Haifa.
“Assalamualaikum,” ucap Wira ketika masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam,” jawab Haifa.
Haifa sedang meninton televisi sambil menyus-ui Najril. Sedangkan Alifa sedang anteng memaikan mainannya.
“Mana lomienya? Ada nggak?” tanya Haifa.
“Ada, nih,” Wira mengangkat plastik bening yang berisi lomie.
__ADS_1
“Simpan dulu di meja makan. Haifa ne-nenin Najril dulu,” kata Haifa.
Wira menyimpan plastik yang berisi lomie di atas meja makan. Lalu Wira menuju ke kamarnya untuk mandi. Ketika Wira keluar dari kamar mandi, Haifa sedang menidurkan Najril di box bayi. Wira mendekati Haifa.
“Sudah tidur?” tanya Wira.
“Sudah,” jawab Haifa.
“Sekarang makan lomienya, nanti keburu tidak enak,” kata Wira.
“Iya, Mas,” Haifa keluar dari kamarnya dan diikuti oleh Wira.
Haifa duduk di meja makan sambil memindahkan lomienya ke piring.
“Mama, Tete au,” kata Alifa yang berdiri di samping meja.
Haifa menoleh ke Wira.
“Mas, boleh nggak Alifa makan lomie?” tanya Haifa.
Wira menoleh ke Alifa. Anak itu sedang berdiri sambil berjinjit, kedua tangannya memegang meja. Namun sulit untuk melihat ke atas meja. Wira mengusap kepala Alifa
“Teteh boleh makan lomie, tapi sedikit saja. Anak kecil nggak boleh makan mie terlalu banyak,” kata Wira.
“Iya,” jawab Alifa dengan muka berseri.
Haifa mengambil mangkok plastik lalu memasukkan lomie ke dalam mangkok plastik.
“Ini, Teh. Teteh mau makan dimana?” tanya Haifa.
“Di citu,” Alifa menunjuk ke ruang tv.
Haifa membawakan lomie menuju ke ruang tv.
“Iya,” jawab Alifa sambil mengangguk.
Haifa menaruh mangkok plastik di lantai karpet dekat mainan Alifa.
“Berdoa dulu,” kata Alifa.
“Aluhumabaliklana fima lojaktana wakina ajabanal,” ucap Alifa.
“Pinter anak Mamah,” puji Haifa sambil mengusap rambut Alifa.
“Hati-hati makannya,” kata Haifa.
Alifa menjawab dengan mengangguk sambil memakan lomienya. Kemudian Haifa kembali ke meja makan.
“Mas mau lomie?” tanya Haifa.
“Nggak ah. Mas mau makan nasi aja,’ jawab Wira.
“Kalau begitu Haifa suruh Bi Iroh sediakan makanan untuk Mas,” Haifa berdiri menuju ke dapur.
“Bi Iroh, tolong sediakan makanan untuk Pak Wira,” kata Haifa.
“Baik, Bu,” jawab Bi Iroh.
Haifa kembali lagi ke meja makan lalu memakan lomienya. Haifa menghabiskan tiga bungkus lomie sekaligus. Wira geleng-geleng melihat istrinya memakan lomie sebanyak itu.
Wiira mengira istrinya lapar karena harus mene-nenin Najril. Namun setelah Wira pikir lagi ia langsung kaget. Haifa belum pernah libur sholat setelah selesai masa nifas.
Wira menghela nafas.
__ADS_1
Mau bagaimana lagi, kalau kebobolan harus diterima, kata Wira di dalam hati.
Namun setahu Wira, Haifa sudah pasang kb.
Harus buat janji sama dokternya, kata Wira.
*****
Keesokan malamnya Wira mengajak Haifa ke dokter kandungan.
“Mas mau apa kita ke dokter kandungan?” tanya Haifa.
“Periksa kb. Siapa tau letaknya berubah. Soalnya kerasa waktu lagi main,” jawab Wira berbohong.
“Ya sudah, kita periksa ke dokter,” kata Haifa.
“Kamu sudah pompa ASI nya?” tanya Wira.
“Sudah, Mas,” jawab Haifa.
“Ayo kita pergi sekarang. Tadi siang Mas sudah daftarkan,” kata Wira.
Haifa dan Wira pun bersiap-siap untuk berangkat ke dokter. Sesampainya di tempat praktek dokter sudah banyak pasiennya. Untung Haifa mendapat nomor 5 sehingga tidak harus lama menunggu.
“Ada keluhan apa, Bu?” tanya dokter.
Haifa hendak menjawab namun cepat-cepat Wira menjawab pertanyaan dokter.
“Begini, Dok. Semenjak masa nifasnya selesai istri saya belum pernah haid lagi,” jawab Wira.
Haifa menoleh ke Wira.
Kok, Mas Wira bicara begitu ke dokter? Katanya mau periksa kb, kata Haifa di dalam hati.
“Kapan selesai masa nifasnya?” tanya dokter.
“Kira-kira satu setengah bulan yang lalu,” jawab Wira.
Dokter membaca kartu kasus Haifa.
“Ibu pasang kb, ya?” tanya dokter.
“Iya, dok,” jawab Haifa.
“Kalau begitu kita periksa kb nya,” kata dokter.
Haifa beranjak menuju ke tempat periksa. Dokterpun melakukan USG untuk memeriksa kb Haifa.
“Sepertinya Ibu Haifa hamil,” kata dokter.
“Hamil, Dok? Saya kan dikb,” tanya Haifa kaget.
“Dikb bukan berarti jaminan untuk tidak hamil. Kegagalannya pasti ada walaukpun tidak banyak,” jawab dokter.
“Dok, apakah alat kbnya tidak akan melukai janin?” tanya Wira khawatir.
“Mudah-mudahan tidak,” jawab dokter.
.
.
.
__ADS_1
besok terusin lagi. Deche lagi sibuk.