Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
77. Ekky Datang Melamar


__ADS_3

Wira keluar dari mobilnya, lalu masuk ke dalam rumah melalui garasi.


“Assalamualaikum,” ucap Wira ketika masuk ke dalam rumah.


“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Deswita dengan wajah seperti orang marah.


Tangan kirinya memegang sapu lidi. Wira mencium tangan Ibu Deswita.


“Mamah kenapa?” tanya Wira yang bingung melihat wajah Mamahnya tidak seperti biasanya.


“Dasar anak nakal!” tiba-tiba Ibu Deswita memukul kaki Wira dengan sapu lidi.


“Alifa masih bayi, tapi sudah kamu kasih adik!” seru Ibu Deswita sambil terus saja memukul kaki dan bagian belakang Wira.


“Ampun, Mah. Aduh….sakit, Mah,” kata Wira sambil mengaduh kesakitan.


“Kenapa Alifa kamu kasih adik?” tanya Ibu Deswita sambil terus saja memukul Wira.


“Ampun, Mah. Namanya juga pengantin baru,” jawab Wira yang kesakitan.


Para asisten rumah tangga mengintip dari dapur sambil menahan ketawa. Sedangkan Wina tertawa cekikkikan melihat kakaknya dipukuli pakai sapu lidi.


“Pengantin baru, sih pengantin baru. Tapi kan bisa dikb dulu jangan sampai Haifa hamil,” kata Ibu Deswita sambil terus saja memukul Wira.


“Kasihan kalau Haifa harus kb. Kalau tidak cocok pasti dia akan sakit,” jawab Wira.


“Udah, Mah. Sakit dipukuli terus,” Wira menahan tangan Mamahnya supaya tidak memukul lagi.


Ibu Deswita berhenti memukuli Wira.


“Mengapa kamu tidak kb sarung?” tanya Ibu Deswita dengan kesal.


“Nggak enak, Mah. Nggak skin to skin,” jawab Wira.


Ibu Deswita memukul Wira lagi.


“Ampun, Mah. Ampun,” ujar Wira.


“Kan bisa dikeluarkan diluar,” kata Ibu Deswita dengan wajah yang masih kesal.


“Kalau dikeluarkan diluar nggak enak, Mah. Nggak nikmat,” kata Wira.


“Kenapa sih Mamah marah-marah hanya karena Haifa hamil?” tanya Wira.


“Gara-gara Haifa hamil, Alifa tidak bisa ne-nen lagi. Dia harus minum susu fomula. Sekarang Alifa menangis karena ingin ne-nen Mamahnya. Ia tidak mau minum susu formula,” jawab Ibu Deswita dengan kesal.


Wira menghela nafas.


“Dimana Alifa sekarang?” tanya Wira.


“Ada di kamar Haifa. Sri sedang membujuknya agar mau minum susu formula,” jawab Ibu Deswita.


Wira langsung berjalan menuju kamar Haifa, di tangga ia bertemu dengan Wina.


“Syukurin dimarahin Mamah,” ejek Wina.


“Diam lu, anak kecil,” kata Wira.


Wira melanjutkan jalannya. Di depan kamar Haifa terdengar sayup-sayup suara Alifa menangis. Wira membuka pintu kamar Haifa. Wira melihat Alifa sedang di gendong oleh Sri. Sedangkan Haifa sedang tiduran di atas tempat tidur sambil dipijiti kakinya oleh Iroh. Wira mendekati Alifa.

__ADS_1


“Alifa kenapa menangis, Nak?” tanya Wira kepada Alifa.


“Nyenyen…..,” kata Alifa sambil menunjuk ke Mamahnya.


“Alifa sama Ayah aja, ya. Mamah lagi sakit,” kata Wira.


Wira menggendong Alifa. Iroh dan Sri keluar dari kamar Haifa. Wira duduk di pinggir tempat tidur sambil memangku Alifa. Alifa meronta-ronta ingin ke Mamahnya. Namun Wira menahannya.


“Masih sakit kepalanya?” tanya Wira.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


“Kita ke dokter, ya,” kata Wira.


“Tadi sudah ke dokter kandungan sama Mamah. Kata dokter Haifa hamil lima minggu,” jawab Haifa.


“Hasil USG nya ada di tas Haifa,” kata Haifa.


“Nyenyen,” kata Alifa.


“Di perut Mamah ada adik. Alifa nggak boleh ne-nen lagi,” kata Wira kepada Alifa.


“Alifa mimi susu aja sama Ayah.”


Wira mengambil dot susu Alifa lalu ia duduk di sofa sambil memangku Alifa. Dengan sabar Wira membujuk Alifa agar mau meminum susunya. Akhirnya Alifa mau meminum susunya. Ia mau menyedot dotnya. Wira menepuk-nepuk pangkal kaki Alifa, hingga bayi itu tertidur. Akhirnya susu itu habis disedot Alifa.


Wira melepas dotnya. Namun Wia masih saja menepuk-nepuk pangkal kaki Alifa hingga bayi itu tertidur pulas.


“Tidur?” tanya Haifa dengan berbisik.


Wira menjawab dengan mengangguk. Pelan-pelan Wira memindahkan Alifa ke box bayi. Lalu menutup pintu box. Wira menarik nafas lega.


“Ingin makan sesuatu?” tanya Wira.


“Nggak, Mas. Haifa mau tidur, ngantuk,” jawab Haifa.


“Jangan tidur dulu! Sebentar lagi adzan magrib. Nanti tidurnya, kalau sudah sholat magrib,” kata Wira sambil mengusap rambut istrinya.


Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara adzan magrib.


“Alhamdullilah,” ucap Wira.


“Mas mandi dulu, ya. Nanti kita sholat magrib berjamaah,” kata Wira.


Wira mengambil bajunya dari lemari lalu membawanya ke dalam kamar mandi.


******


Hari ini di kediaman keluarga Broto nampak sibuk. Mereka seperti hendak kedatangan tamu. Di dapur para ART sedang sibuk menyiapkan hidangan istimewa untuk menyambut para tamu. Sedangkan Haifa dilarang untuk membantu di dapur. Semenjak Haifa hamil, Wira bersikap posesive. Ia melarang Haifa melakukan pekerjaan. Sikap Wira yang seperti ini membuat Haifa menjadi kesal, ia bosan tidak bioleh melakukan apapun.


Saat ini Haifa sedang berada di kamar Wina. Ia sedang melihat Wina sedang bermake up. Sedangkan Alifa sedang asyik merangkak ke sana kemari di kamar Wina. Terdengar suara ketukan pintu kamar Wina.


“Masuk!” seru Wina.


Pintu kamar terbuka, Sri nongol dari balik pintu.


“Mbak Wina, tamunya sudah datang,” kata Sri.


“Iya,” jawab Wina.

__ADS_1


“Bu, disuruh Bapak ke depan untuk menyambut tamu,” kata Sri kepada Haifa.


“Mbak Wina, Haifa ke depan dulu, ya,” kata Haifa.


Haifa beranjak lalu keluar dari kamar Wina. Sedangkan Sri menggendong Alifa. Alifa marah karena di gendong paksa.


“Mamahnya sudah keluar,” kata Sri kepada Alifa.


“Ma..ma…,” kata Alifa.


Sri membawa Alifa keluar dari kamar Wina.


Haifa berdiri di samping Wira menyambut tamu yang datang. Ternyata tamu yang datang adalah Ekky beserta keluarganya. Mereka datang hendak melamar Wina. Wira yang tadinya tidak setuju Wina berhubungan dengan Ekky, namun sekarang Wira menyetujuinya. Bagaimanapun juga Ekky seorang anak muda yang pekerja keras. Café milik Wira tidak akan maju jika tidak di kelola dengan baik oleh Ekky. Sepak terjang Ekky memang patut diacungin jempol.


Pak Broto mempersilahkan tamu untuk duduk. Mereka beramah tamah sebentar, setelah itu barulah orang tua Ekky mengutarakan niat mereka.


“Kedatangan kami ke sini adalah meminang putri bapak yang bernama Wina untuk anak kami Ekky,” kata Pak Erlan, ayah Ekky.


“Yang berhak menjawab pinangan hanya putri kami Wina. Karena dia yang akan menjalaninya,” kata Pak Broto.


“Haifa, tolong panggilkan Wina,” kata Pak Broto kepada Haifa.


“Iya, Pah,” jawab Haifa.


Haifapun ke dalam untuk memangggil Wina. Tak lama kemudian Haifa datang bersama Wina. Wina datang sambil menggendong Alifa. Wina memberikan Alifa kepada Wira.


“Mau sama Ayah, katanya,” kata Wina.


Alifa duduk di atas pangkuan ayahnya. Wina pun duduk di sebelah orang tuanya.


“Wina, kedatangan Ekky ke sini adalah untuk meminangmu. Papah serahkan semuanya kepadamu, karena kamu yang akan menjalaninnya,” kata Pak Broto.


“Wina, terima pinangan Ekky,” jawab Wina.


“Alhamdullilah,” ucap orang tua Ekky dan Ekky.


“Tadinya Ekky sudah takut pinangannya akan ditolak,” kata Pak Erlan.


“Ditolak sama siapa? Wina?” tanya Pak Broto.


“Bukan, Pak. Tapi takut ditolak oleh Pak Wira. Karena Pak Wira Bosnya Ekky,” jawab Pak Erlan.


“Kalau pinangan ditolak tinggal mogok kerja. Wira pasti kebingungan kalau Ekky mogok kerja,” kata Pak Broto.


“Saya tidak berani, Pak. Takut dipecat,” jawab Ekky.


“Kalau dia memecatmu, siapa yang akan mengurus cafénya? Sedangkan Wira saja sibuk bekerja di kantor,” kata Pak Broto.


“Sudahlah, kita lanjutkan lagi pembicaraannya. Kira-kira kapan Ekky dan Wina akan menikah?” tanya Pak Broto.


“Ekky ingin secepatnya. Takut keburu ada yang merebut Wina,” jawab Pak Erlan.


“Tapi mohon maaf sebelumnya. Ekky tidak bisa memberi banyak untuk biaya-biaya pernikahan,” kata Pak Erlan.


“Tidak apa-apa. Kami mengerti,” jawab Pak Broto.


Ayah Ekky adalah seorang pensiunan ASN. Ekky anak yang paling besar. Kedua adiknya sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. Namun tetap saja mereka tidak punya kelebihan harta untuk biaya pernikahan Ekky dan Wina.


Acara lamaran ditutup dengan makam malam bersama.

__ADS_1


__ADS_2