Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
39. Kabar Duka


__ADS_3

Bip bip bip….Alarm di ponsel Haifa berbunyi. Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima. Sudah waktunya Haifa untuk bersiap-siap sholat subuh. Haifa menoleh ke samping, ia melihat suaminya tidur dengan nyenyak. Haifa bangun dan langsung menuju ke kamar mandi. Setelah menuntaskan hajatnya dan berwudhu Haifa membangunkan Wisnu agar bersiap-siap untuk sholat subuh di masjid.


“Mas….bangun, Mas! Sebentar lagi adzan zubuh.” Haifa menepuk-nepuk lengan Wisnu, namun Wisnu tidak juga bangun.


“Mas…bangun, Mas! Sudah siang! Sebentar lagi adzan.” Haifa menepuk lengan Wisnu lebih keras lagi. Namun Wisnu tidak bangun juga.


“Mas! Bangun! Sudah siang.” Haifa mengguncang-guncang tubuh Wisnu. Namun Wisnu tetap saja tidak mau bangun.


Haifa merasa cemas, takut terjadi apa-apa pada suaminya. Haifa menyentuh hidung Wisnu, ia tidak merasakan nafas Wisnu. Haifa bertambah cemas. Haifa mengangkat tangan Wisnu dan dilepaskan dari atas. Tangan Wisnu langsung jatuh terkulai lemas. Saat itu juga terasa dunia berhenti berputar terasa sesak di dada Haifa, Haifa nangis sejadi-jadinya.


“MAS WISNU……..!!!!” teriak Haifa sambil menangis.


“MAS WISNU BANGUN MAS!!!!!” Haifa menangis dengan kencang.


“MAMAH!!!!! MAS WISNU TIDAK MAU BANGUN,” kata Haifa sambil menangis.


“MAMAH!!!! MAS WISNU DIAM SAJA.”


“MAMAH!!!!!!” Teriak Haifa.


Mendengar sayup-sayup suara tangisan Haifa, para ART langsung keluar dari kamarnya.


“Ada apa, Mbak? Seperrti terdengar suara tangisan Non Haifa,” Tanya Bi Iyah kepada Bi Siti.


“Saya juga tidak tau, Yah,” jawab Bi Siti.


“Coba dilihat Bude, siapa tau ada apa-apa,” kata Iroh kepada Bi Iyah.


“Saya dan Bi Iyah ke kamar Den Wisnu. Kamu bangunkan Bapak dan Ibu!” seru Bi Siti kepada Iroh.


“Nggak mau ah, Bude! Iroh nggak berani,” jawab Iroh.


“Nggak apa-apa. Tinggal ketuk pintu kamarnya. Bilang kalau Non Haifa menangis kencang!” seru Bi Siti.


“Nggak mau. Nanti iroh dimarahin,” kata Iroh yang ketakutan.


“Kamu bakalan dimarahin kalau tidak membangunkan Bapak dan Ibu,” kata Bi Siti.


“Iya deh, Bude,” jawab Iroh.


“Ayo Iyah, kita ke atas!” Bi Siti menarik tangan Bi Iyah.


Sesampainya di depan kamar Wisnu, terdengar suara tangisan Haifa dari dalam kamar. Bi Siti mengetuk pintu kamar Wisnu.


Tok…tok…tok…..


“Non! Buka pintunya, Non!”


Namun pintu belum juga terbuka.


“Ketuk yang kencang!” kata Bi Iyah.

__ADS_1


TOK…TOK….TOk…..


“Non!!! Buka pintunya!!!! Ini Bi Siti,” seru Bi Siti dengan setengah teriak.


Cklekkk…cklekk….cklekkk…suara kunci pintu dibuka. Kemudian pintu kamar terbuka.


“Bibi….” Haifa langsung memeluk Bi Siti dan menangis dipelukan Bi Siti.


Bi Siti mengusap-usap punggung Haifa, sambil memberi tanda kepada Bi Iyah agar masuk ke dalam kamar Wisnu.


Perlahan Bi Iyah masuk ke dalam kamar Wisnu. Ia melihat Wisnu seperti orang yang sedang tidur dengan lelap. Bi iyah mendekati Wisnu.


“Den Wisnu! Bangun, Den!” kata Bi Iyah.


Namun Wisnu tetap saja tidak membuka matanya. Bi Iyah memegang kaki Wisnu.


“Ya Alloh. Dingin sekali,” kata Bi Iyah.


Bi Iyah menempelkan telunjuknya tepat di lubang hidung Wisnu.


“Ya Alloh. Nggak ada nafasnya.” Bi Iyah semakin cemas.


Bi Iyah memegang pergelangan tangan Wisnu. Ia berusaha mencari dengut nadi Wisnu, namun tidak terasa.


“Innalillahi wa inna ilahi roji’un,” ucap Bi Iyah.


“WISNU…,” teriak Ibu Deswita langsung memeluk Wisnu yang sudah tidak bernyawa.


Rupanya ketika Bi Iyah mengucapkannya, ada Ibu Deswita dan Pak Broto di depan kamar Wisnu.


“WISNU!!!! BANGUN WISNU!!!!” Ibu Deswita mengguncang-guncang tubuh Wisnu.


“Bangun Wisnu! jangan tinggalin Mamah!” Tangisan Ibu Deswita pun pecah.


Tiba-tiba Haifa pun pingsan.


“Pak….Non Haifa pingsan, Pak,” kata Bi Siti sambil berusaha menahan tubuh Haifa agar tidak terjatuh.


“Astagfirullohaladzim,” ucap Pak Broto.


“Bi Iyah! Bantu saya mengangkat Haifa,” kata Pak Broto.


“Iya, Pak.” Bi Iyah langsung menghampiri Bi Siti yang sedang menahan tubuh Haifa. Pak Broto, Bi Siti dan Bi Iyah berusaha mengangkat tubuh Haifa, namun susah karena berat. Tubuh Haifa memang kecil, namun karena sedang hamil besar menjadi terasa berat.


“Iroh! Bantu saya!” Seru Pak Broto yang tidak kuat mengangkat Haifa bertiga.


Iroh pun membantu mengangkat tubuh Haifa menuju ke tempat tidur.


“Kalian sholat subuh dulu! Sekalian telepon Bi Nani, suruh ke sini secepatnya!” kata Pak Broto setelah memindahkan Haifa ke tempat tidur.


“Tapi Non Haifa pingsan, belum sadar,” kata Bi Siti.

__ADS_1


“Biar sama saya. Kalian sholat subuh dulu!” kata Pak Broto.


“Baik, Pak.” Akhirnya Bi Siti, Bi Iyah dan Iroh pergi ke kamar masing-masing untuk sholat subuh.


Pak Broto memandangi Ibu Deswita yang masih menangisi jenasah Wisnu.


“Sudah ikhlaskan saja Wisnu pergi. Ini semua sudah takdir dari Alloh SWT,” kata Pak Broto.


“Kasihan Wisnu, ia sedang bahagia karena akan mempunyai anak. Tapi….ngngnghh.” Ibu Deswita kembali menangis.


Pak Broto hanya bisa menghela nafas melihat istrinya menangis terus menerus. Pak Broto mengambil minyak kayu putih kemudian diolesi ke hidung Haifa agar Haifa bangun. Tak lama kemudian ada pergerakan dari Haifa yang menandakan Haifa sudah sadar.


Namun Haifa langsung teringat pada Wisnu. Haifapun menangis.


“Ikhlaskan Wisnu! Ini semua sudah takdir dari Alloh SWT,” kata Pak Broto.


“Sekarang Haifa sholat subuh dulu. Biar hatimu tenang,” kata Pak Broto.


“Kalau Haifa masih lemas, sholat sambil tiduran saja!” kata Pak Broto.


“Iya, Pah.”


Pak Broto menghampiri Ibu Deswita yang masih meratapi jenasah anaknya.


“Mah, kita sholat subuh dulu. Kita doakan Wisnu,” kata Pak Broto sambul merangkul istrinya.


Kemudian Pak Broto membawa Ibu Deswita keluar dari kamar Wisnu. Di depan kamar Pak Broto berpas-pasan dengan Bi Siti dan Bi Iyah.


“Tolong jaga Haifa! Saya mau sholat subuh dulu,” kata Pak Broto.


“Baik, Pak,” kata Bi Siti.


Pak Broto meninggalkan kamar Wisnu.


Setelah selesai sholat subuh Pak Broto menelepon Wira dan Wina memberitahu kalau Wisnu sudah tidak ada. Wina kemungkinan baru bisa pulang ke Indonesia beberapa hari kemudian karena ia harus mengurus visa terlebih dahulu. Sedangkan Wira, ia akan berusaha pulang secepatnya.


*****


Wira turun dari taksi lalu ia mengambil kopernya dari bagasi taksi.


“Terima kasih, Pak,” ucap Wira kepada supir taksi.


“Sama-sama, Pak,” kata supir taksi.


Kemudian Wira masuk ke halaman rumahnya sambil menarik koper. Wira disambut oleh teman-temannya yang sedang menanti kedatangannya.


“Turut berduka cita, Bos,” ucap Ekky sambil menyalami tangan Wira.


Wira hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Semua teman-teman Wira menghampirinya dan mengucapkan turut berduka cita kepada Wira.

__ADS_1


Termasuk para penggemar Wira yang sudah menunggu kedatangan Wira. Mereka langsung hendak memeluk Wira, namun Wira cepat-cepat menghindar.


“Sorry, gue harus ketemu orang tua gue dulu,” kata Wira.


__ADS_2