Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
12. Mengajak Nonton


__ADS_3

Haifa mengikuti pengajian bersama dengan istri-istri teman-teman Wisnu dan ibu-ibu pengajian selama satu jam. Sedangkan Wisnu bersama dengan teman-temannya duduk di luar rumah. Sesekali terdengar suara gelak tawa Wisnu dan teman-temannya.


Setelah ibu- ibu pengajian bubar, Wisnu masuk ke dalam rumah Reza dan menghampiri Haifa. Wisnu duduk di sebelah Haifa.


“Sudah selesai pengajiannya? Ayo kita pulang,” kata Wisnu.


“Ayo,” kata Haifa.


Baru saja Haifa hendak berdiri tiba-tiba Rina menghampiri mereka.


“Haifa,-Wisnu ayo makan dulu,” kata Rina.


Haifa menoleh ke Wisnu, ia meminta pendapat Wisnu. Namun Rina keburu menarik tangan Haifa membawa Haifa menuju ke tempat makan yang berada di garasi. Di sana terdapat berbagai macam makanan, minuman dan kue.


“Nggak boleh pulang, kalau belum makan,” kata Rina kepada Haifa.


“Silahkan pilih mau yang mana ada nasi jamblang, ada mie baso, ada siomay dan coto konro. Di sebelah sana kue-kue dan es buah. Tapi nggak ada menu masakan kambing, karena kambingnya untuk ibu-ibu pengajian dan anak-anak yatim piatu,” kata Rina.


“Pilih sendiri, ya!” kata Rina.


Kemudian Rina pergi meninggalkan Haifa yang bingung memilih makanan.


“Mau makan apa?” tanya Wisnu yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Haifa.


“Bingung, Mas,” jawab Haifa yang sedang memilih mau makan apa.


“Kalau baso dan siomay kan sudah biasa. Mendingan kamu coba nasi jamblang dan coto konro,” kata Wisnu sambil menunjuk ke arah tempat nasi jamblang dan coto konro.


“Sini kita lihat.” Wisnu merangkul punggung Haifa dan mengajak Haifa menuju meja nasi jamblang.


“Nasi jamblang makanan khas Cirebon. Nasinya dibungkus daun jati dimakan pakai lauk pauk ini.” Wisnu menunjukkan ke lauk pauk teman makan nasi jamblang.


“Mau deh, Mas,” kata Haifa.


“Mas nasi jamblangnya dua, ya,” kata Wisnu kepada petugas catering nasi jamblang.


“Nasinya berapa bungkus, Mas?” tanya petugas catering.


“Kamu mau berapa bungkus nasi jamblangnya?” tanya Wisnu ke Haifa.


“Satu saja,” jawab Haifa.


“Mas, adik saya satu bungkus nasinya. Kalau saya dua bungkus,” kata Wisnu.


Dengan sigap petugas catering membuka bungkusan nasi jamblang diatas piring rotan yang sudah diberi alas kertas bungkus nasi. Petugas catering memberikan piring rotan kepada Haifa dan Wisnu.


“Terima kasih,” ucap Haifa.


Haifa memilih lauk pauk sebagai teman makan nasi jamblang. Mata Haifa melihat semur jengkol yang tampak menggiurkan. Mungkin kalau masih berada di kampungnya Haifa pasti makan semur jengkol. Namun selama di Jakarta Haifa tidak berani memakannya. Bagaimanapun ia harus menjaga perasaan Wisnu. Haifa melewati semur jengkol, ia lebih memilih lauk yang lain.


Setelah selesai mengambil makan, Haifa dan Wisnu duduk di kursi yang berada di halaman rumah. Haifa duduk di sebelah Dewi istrinya Iwan.


“Aa Wisnu, ini siapa?” tanya Dewi kepada Wisnu.


“Adik saya,” jawab Wisnu.


“Bohong, Mah. Dia mah kabogoh na Wisnu,” sahut Iwan. (Bohong, Mah. Dia itu pacarnya Wisnu).


Wajah Haifa langsung menunduk karena malu mendengar perkataan Iwan.


“Siapa namanya?” tanya Dewi.

__ADS_1


“Haifa.”


“Haifa kuliah atau kerja?” tanya Dewi.


“Sedang cari kerja, Teh,” jawab Haifa.


“Aa Wisnu kan direktur, kenapa tidak minta kerja ke Aa Wisnu?” tanya Dewi.


Haifa menoleh ke Wisnu, ia tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan Dewi.


“Ari Mamah, calon Ibu Direktur mah tidak perlu cape-cape kerja. Cukup duduk manis saja di rumah,” sahut Iwan.


“Ya nggak, Wisnu?” tanya Iwan.


Wisnu menanggapi hanya dengan tersenyum. Sedangkan Haifa menunduk malu.


“Siapa calon Ibu Direktur?” tanya Retno yang duduk di sebelah Iwan.


“Ini calonnya Wisnu,” Iwan menujuk Haifa.


Retno menoleh ke Haifa yang terhalang oleh Iwan dan Dewi.


“Oh….itu  calonnya Wisnu? Aku kira keponakannya Wisnu. Masih muda sekali,” kata Retno.


“Pak Direktur tea, carinya yang masih seger,” ujar Iwan.


Spontan Dewi memukul lengan suaminya.


“Papah nggak boleh begitu!” seru Dewi.


Haifa tertunduk malu mendengar gurauan Iwan.


“Maaf ya, Haifa. Aa Iwan memang suka begitu,” kata Dewi.


Wisnu mengusap-usap punggng Haifa.


“Terusin lagi makannya,” kata Wisnu.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


Kemudian Haifa melanjutkan makannya. Setelah selesai makan, Wisnu dan Haifa pamit pulang.


“Mau kemana sih? Kok buru-buru?” tanya Rina.


“Di sini aja dulu, kita kumpul-kumpul. Kan jarang kumpul bareng,” kata Rina.


“Mau ajak Haifa jalan-jalan,” jawab Wisnu.


“Ya sudah, kalau mau jalan-jalan. Selamat bersenang-senang, ya,” kata Rina lalu cipika-cipiki dengan Haifa.


“Sering-sering ajak Haifa main ke sini,” kata Rina.


“Insya Allah,” jawab Wisnu.


“Assalamualaikum,” ucap Wisnu dan Haifa,


“Waalaikumsalam,” balas Rina.


Wisnu dan Haifa keluar dari rumah Rina, di depan mereka bertemu dengan Reza.


“Rez, gue pulang dulu,” kata Wisnu.

__ADS_1


“Mau kemana? Buru-buru amat?” tanya Reza.


“Mau ngajak Haifa jalan-jalan,” jawab Wisnu.


“Oke, selamat bersenang-senang,” ucap Reza.


“Assalamualaikum,” ucap Wisnu.


“Waalaikumsalam,” balas Reza.


Wisnu dan Haifa berjalan menuju mobil Wisnu.


“Sekarang kamu mau kemana?” tanya Wisnu sambil fokus menyetir mobil.


“Pulang saja, Mas. Nanti Mas Wisnu cape kalau keseringan menyetir,” jawab Haifa.


Wisnu menoleh ke samping.


“Kamu nggak mau jalan-jalan?” tanya Wisnu.


“Pulang saja, Mas. Lagipula kita belum sholat dzuhur,’ jawab Haifa.


“Kita bisa sholat dzuhur di masjid,” kata Wisnu sambil fokus menyetir.


“Bagaimana kalau kita nonton film?” usul Wisnu.


Haifa menoleh ke Wisnu.


“Nonton film di bioskop, Mas?” tanya Haifa.


“Iya,” jawab Wisnu.


“Di bioskop mall yang kemarin?” tanya Haifa.


“Jangan di situ. Kita nonton di bioskop mall yang lain,” jawab Wisnu.


Haifa diam ia berpikir sejenak. Sebenarnya Haifa juga mau menonton di bioskop, namun ia takut jika Wisnu terlalu cape menyetir akan mempengaruhi kesehatannya.


“Bagaimana?” tanya Wisnu sambil menoleh ke Haifa.


“Iya deh, Mas. Tapi kita sholat dulu, ya! Ini sudah jam satu,” jawab Haifa.


“Baik, Neng Haifa,” jawab Wisnu.


Kemudian Wisnu meluncurkan mobilnya menuju mall yang berada di dekat gedung perkantoran yang berada di daerah Jakarta Selatan.


“Mas jauh sekali mallnya,” kata Haifa.


Mereka sudah hampir dua puluh menit diperjalanan namun masih belum juga sampai.


“Memang sengaja ke mall yang agak jauh, namanya juga jalan-jalan,” jawab Wisnu yang fokus menyetir mobilnya.


Sepajang jalan Haifa melihat ke kanan dan ke kiri melihat suasana ibukota Jakarta. Akhirnya sampailah mereka di mall yang di tuju. Wisnu langsung mengarahkan mobilnya menuju tempat parkir mobil mall tersebut. Beruntung Wisnu mendapatkan tempat parkir di P tiga yang itu tempat parkir yang dekat dengan musholla mall tersebut.


Setelah memarkirkan mobilnya Wisnu mengantar Haifa menuju ke mushollah wanita.


“Ini mushollah khusus wanita, kalau musholla pria sebelah sana, " kata Wisnu lalu menunjuk ke arah seberang musholla wanita.


“Nanti kalau sudah selesai sholatnya, jangan kemana-mana! Tunggu Mas di sini,” kata Wisnu.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.

__ADS_1


Wisnu menunggu Haifa masuk ke dalam musholla, setelah itu barulah Wisnu pergi menuju musholla pria.


__ADS_2