Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
55. Jangan Samakan Saya Dengan Mereka.


__ADS_3

Setelah selesai makan mereka langsung menuju ke sebuah Mall yang berada di bilangan Jakarta Selatan. Haifa terdiam ketika Wira membelokkan mobilnya ke mall tersebut. Matanya berkaca-kaca melihat mall tersebut. Karena mall itu adalah tempat pertama kali Wisnu mengajaknya nonton.


Haifa mengambil tissue dan mengelap air matanya. Wira menoleh ke samping, ia melihat Haifa sedang mengelap air matanya.


“Kamu kenapa?” tanya Wira.


“Nggak apa-apa, Mas,” jawab Haifa sambil mengelap air matanya.


“Kamu nangis?” tanya Wira.


“Saya teringat Mas Wisnu. Mall ini adalah tempat pertama kali saya di ajak menonton oleh Mas Wisnu,” jawab Haifa.


“Oke kalau begitu kita cari tempat yang lain saja.”


Wira mengarahkan mobilnya ke pintu keluar.


“Nggak usah, Mas. Nggak apa-apa di sini saja,” cegah Haifa.


“Kamu yakin?” tanya Wira.


“Iya, Mas,” jawab Haifa.


“Kalau kamu merasa tidak nyaman bilang sama aku,” kata Wira.

__ADS_1


“Iya, Mas.”


Wira tidak jadi menuju ke pintu luar. Ia mengarahkan mobilnya menuju tempat parkir. Mereka datang ke mall tersebut sudah cukup malam, namun mall masih ramai oleh para pengunjung. Mereka berjalan menuju ke bioskop di mall tersebut.


“Kamu mau nonton apa?” tanya Wira ketika mereka sampai di bioskop.


“Terserah Mas Wira saja. Asalkan jangan film horor,” jawab Haifa.


“Oke.”


Wira berjalan menuju ke counter pembelian tiket. Wira memilih untuk menonton film action. Setelah membeli tiket mereka langsung masuk ke theater, karena pintu theaternya sudah dibuka. Begitu mereka duduk lampu theaternya mulai dimatikan dan filmpun dimulai.


Haifa berusaha fokus untuk menonton film agar ia mengerti jalan ceritanya. Ternyata film yang dipilih oleh Wira penuh dengan adegan kekerasan sehingga sering membuat Haifa kaget dan ketakutan ketika ada adegan tembak menembak.


Ketika pemeran utamanya hendak ditembak oleh lawannya, Haifa langsung memalingkan wajahnya ke bahu Wira. Haifa menutup wajahnya sebelah kiri dengan telapak tangan. Sambil sedikit demi sedikit mengintip ke layar.


Mendengar perkataan Wira, Haifa langsung tersadar dan langsung membetulkan posisi duduknya. Haifa kembali fokus menonton film. Setiap ada adegan tembak menembak Haifa tidak lagi memalingkan wajahnya ke bahu Wira, namun Haifa cukup dengan menutup matanya.


Wira menoleh ke Haifa, ia merasa Haifa marah kepadanya atas kelakuannya yang telah berani men-ci-um bi-bir Haifa. Hingga film selesai Haifa tetap diam dan seolah acuh kepada Wira. Bahkan ketika keluar dari bioskop Haifa memilih untuk berjalan sendiri menjauh dari Wira.


Di dalam mobilpun Haifa lebih memilih diam dan memalingkan wajahnya ke jendela mobil. Wira menghela nafas dan sesekali menoleh kepada Haifa.


Sesampainya mereka di rumah Haifa langsung turun, namun Wira langsung memegang tangan Haifa.

__ADS_1


“Haifa,” panggil Wira.


Haifa langsung menoleh ke arah Wira.


“Kamu marah sama aku?” tanya Wira.


“Mengapa Mas Wira memperlakukan saya seperti itu?” tanya Haifa.


“Saya ini memang janda. Tapi bukan berarti Mas Wira bisa memperlakukan saya dengan seenaknya,” kata Haifa.


“Mungkin Mas Wira sudah terbiasa hal seperti itu dengan perempuan lain. Tapi tolong jangan samakan saya dengan mereka,” kata Haifa.


“Aku minta maaf. Aku tidak berniat berbuat kurang ajar kepadamu. Aku melakukannya karena aku mencintaimu Haifa. Sangat mencintaimu,” jawab Wira.


“Sudah malam. Saya harus segera masuk.”


Haifa keluar dari mobil Wira dan langsung masuk ke dalam rumah. Wira mengusap wajahnya dengan kasar.


“Kenapa jadi begini?” tanya Wira dengan kesal.


Wirapun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan langka gontai.


.

__ADS_1


.


segitu aja. lanjutin besok.


__ADS_2