Kisah Cinta Haifa

Kisah Cinta Haifa
13. Mall PS


__ADS_3

Setelah selesai sholat Wisnu langsung menjemput Haifa di musollah wanita. Mereka langsung menuju ke bioskop yang ada di mall tersebut. Haifa tak henti-hentinya berdecak kagum memperhatikan suasana mall tersebut. Seperti biasa Haifa bagaikan seorang anak kecil yang berjalan sambil digandeng tangannya oleh ayahnya.


Akhirnya mereka sampai di bioskop XXI. Mata Haifa tidak berkedip ketika masuk ke dalam bioskop, Lobby bioskop XXI bak sebuah lobby di hotel mewah.


“Mau nonton film apa?” tanya Wisnu sebelum membeli tiket.


“Film action India, drama anak-anak, horror, action atau film romantis?” tanya Wisnu.


“Apa saja deh, Mas. Asalkan jangan film horor. Haifa takut, Haifa kan tidur sendiri,” jawab Haifa sambil merinding ketakutan.


“Jadi kalau tidurnya ditemani berani nonton film horor?” tanya Wisnu dengan wajah yang menggoda Haifa.


“Tetap saja takut,” jawab Haifa.


Wisnu tertawa mendengar jawaban Haifa.


“Haifa…Haifa…takut itu jangan sama hantu, tapi takut sama orang hidup. Karena mereka bisa membunuh dan memperkosa,” kata Wisnu.


“Haifa takut dua-duanya, Mas,” jawab Haifa sambil merengut.


“Kalau begitu kita nonton drama romantis mau? Tapi film barat bukan film Indonesia,” kata Wisnu.


“Yang mana gambarnya?” tanya Haifa sambil memperhatikan poster-poster film yang terpampang di dinding.


“Yang itu.” Wisnu menunjuk sebuah poster film yang dibintangi seorang penyanyi terkenal.


“Tentang apa itu, Mas?” tanya Haifa.


Wisnu mencari sinopsis film tersebut di gugli.


“Ini sinopsisnya.”


Wisnu memberikan ponselnya kepada Haifa. Haifa membaca sinopsis film tersebut.


“Yang ini aja, deh,” kata Haifa lalu mengembalikan ponselnya kepada Wisnu.


“Oke.”


Wisnu menuju tempat pembelian tiket. Setelah membeli tiket Wisnu mengajak ke café yang berada di dalam XXI


“Kamu mau apa? Pilih ada popcorn, ada roti, ada cake. Terserah kamu mau pilih apa,” kata Wisnu.


Haifa menperhatikan kue satu persatu. Semuanya terlihat enak.


“Mas semuanya kelihatan enak. Tapi semuanya tidak baik untuk kesehatan Mas Wisnu,” kata Haifa.


“Tidak apa-apa sesekali makan makanan junk food asal jangan terlalu sering,” jawab Wisnu.

__ADS_1


“Haifa mau popcorn aja,” jawab Haifa.


“Popcorn rasa apa? Mau yang manis atau yang asin?" tanya Wisnu.


"Rasa karamel juga enak, " kata Wisnu.


“Haifa mau popcorn spicy balado," jawab Haifa sambil menunjuk gambar popcorn pedas..


“Jangan yang pedas! Yang lain saja. Kalau bekas pegang popcorn terus kucek-kucek mata nanti jadi perih matanya,” kata Wisnu.


“Haifa janji tidak akan kucek-kucek mata,” kata Haifa.


Wisnu menghela nafas.


“Mbak minta popcorn spicy balado medium satu, yang salt medium satu,” kata Wisnu ke pegawai café.


Wisnu kembali menoleh ke Haifa.


“Mau minum apa?” tanya Wisnu.


“Mau coke medium,” jawab Haifa.


“Mbak, minumnya coke medium dua sama tambah lagi popcorn cookies and cream satu,” kata Wisnu.


“Baik, Pak.”


Dengan sigap pegawai café menyiapkan semua pesanan Wisnu. Setelah selesai Wisnu membayar semua pesanannya. Mendengar jumlah nominalnya Haifa langsung kaget. Wisnu rela mengeluarkan uang yang cukup banyak hanya untuknya. Setelah membayar semuanya Wisnu membawa pesanannya.


Tangan kanan Wisnu merangkul punggung Haifa sedangkan tangan kiri membawa tas yang berisikan makanan. Wisnu membawa Haifa masuk ke teater yang dituju. Setelah menemukan bangku sesuai dengan nomor tiket mereka, mereka pun dapat duduk dengan tenang. Wisnu memberikan tas yang berisikan makanan kepada Haifa.


Haifa mencicipi popcorn cookies and cream.


“Enak, Mas,” puji Haifa.


“Mas sengaja membelikan untukmu,” jawab Wisnu.


Sebelum film dimulai tiba-tiba ada iklan film horor, Haifa langsung menyembunyikan  wajahnya ke bahu Wisnu dan menghalangi matanya dengan menggunakan telapak tangan. Wisnu langsung menoleh ke Haifa yang sedang ketakutan lalu diusap-usapnya kerudung Haifa.


“Sudah tidak ada hantunya,” kata Wisnu.


Haifa melepaskan tangannya dan menoleh ke layar, namun tiba-tiba hantu datang lagi. Secara reflex Haifa menyembunyikan lagi wajahnya di bahu Wisnu. Akhirnya Wisnu membiarkan Haifa menyembunyikan  wajahnya selama iklan film horor ditayangkan.


Setelah beberapa iklan film lewat, akhirnya filmpun dimulai. Haifa menonton sambil memakan popcornnya. Wisnu sesekali melirik ke Haifa yang fokus menonton sambil asyik makan popcorn. Namun ketika ada adegan pe-luk-an dan ci-um-an Haifa langsung menutup matanya dan menghalangi matanya dengan telapak tangan. Melihat reaksi Haifa, Wisnu hanya tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala.


Haifa mirip seperti anak kecil yang belum diperbolehkan melihat adegan dewasa. Haifa terus menerus melakukan hal tersebut selama ada adegan dewasanya, sampai akhirnya film selesai dan lampu ruangan di nyalakan. Mereka pun keluar dari ruang teater.


“Kita sholat ashar dulu, ya,” kata Wisnu ketika keluar dari bioskop.

__ADS_1


“Ya, Mas,” jawab Haifa.


Wisnu pun mengegang tangan Haifa dan membawanya menuju musholla.


Setelah selesai sholat Wisnu tidak langsung kembali ke mobil, namun ia malah membawa Haifa kembali masuk ke dalam mall.


“Mas, mau ngapain balik lagi ke sini?” tanya Haifa bingung.


“Sebentar ada yang sedang Mas cari,” jawab Wisnu.


Wisnu membawa Haifa menuju ke suatu tempat. Namun ketika melewati Marygold Clock jam lima tepat, waktunya Marygold Clock memainkan musiknya. Enam buah boneka keluar dari tiang-tiang marmer dan memainkan alat music.


Haifa mendengar suara music langsung berhenti dan menoleh ke arah jam. Merasa Haifa berhenti berjalan, Wisnu pun berhenti berjalan.


“Mas, Haifa mau lihat ini dulu,” kata Haifa sambil menunjuk ke Marygold Clock.


“Iya, boleh,” jawab Wisnu.


Wisnu pun membiarkan Haifa menonton boneka yang memainkan alat musik. Tak sampai lima menit music pun berakhir. Dan boneka-boneka pemain music kembali masuk ke dalam tiang-tiang marmer.


“Lucu, ya Mas,” puji Haifa.


“Marygold Clock akan berbunyi setiap jam selama kurang dari lima menit,” kata Wisnu.


“Setiap jam? Wah…kalau belanja lama di sini bisa terus menerus melihat Marygold Clock,” ujar Haifa.


“Ayo kita jalan lagi, " kata Wisnu.


Wisnu menggandeng kembali tangan Haifa. Wisnu melakukkan itu bukan tanpa sebab, ia takut Haifa terpisah darinya dan tersesat di mall.


Haifa mengikuti langkah kemana Wisnu pergi. Sampai akhir mereka sampai di department store yang bergengsi yang berada di mall tersebut.


Wisnu menghampiri SPG yang sedang berdiri di depan.


“Mbak, tas untuk wanita dimana, ya?” tanya Wisnu.


“Di lantai satu, Pak,” jawab SPG itu.


“Terima kasih, ya Mbak,” ucap Wisnu.


Wisnu berjalan ke dalam toko untuk mencari escalator untuk turun ke lantai satu. Setelah turun ke lantai satu Wisnu menghampiri tempat tas-tas untuk wanita.


Wisnu mendekati Haifa.


“Haifa pilih tas yang kamu suka. Mas belikan untukmu,” kata Wisnu.


“Tidak usah, Mas! Haifa masih punya tas,” kata Haifa menunjukkan tasnya yang sudah mulai lusuh.

__ADS_1


“Mas belikan sebagai tanda ucapan terima kasih Mas. Karena Haifa sudah mau menemani Mas ke selamatan anaknya Reza,” kata Wisnu.


Wisnu berusaha membujuk agar Haifa mau menerima pemberiannya dengan alasan ucapan terima kasih karena Haifa mau menemaninnya. Padahal di dalam hati Wisnu yang paling dalam Wisnu ingin memberikan semuanya untuk perempuan yang sudah mau memberikan waktunya dan perhatian untuknya. Tentu saja dengan pelan-pelan dan satu persatu, tidak sekaligus. Wisnu takut Haifa akan lari menjauh darinya jika ia berikan semuanya secara sekaligus.


__ADS_2